Salah Jurusan
Setiap pelajar tentu saja
memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi
agar dapat meraih cita-cita dan impiannya. Untuk meraih apa yang diharapkan
oleh kita harapkan tentulah kita harus menekuni bidang kita sukai atau apa yang
selama ini kita impikan untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Sejak
SMA/SMK, seorang pelajar sudah masuk ke penjurusan. Setiap pelajar SMA/SMK akan
memilih jurusan mana yang akan ia geluti. Untuk SMA sendiri umumnya ada dua
jurusan terpopuler yaitu, IPA dan IPS tetapi di beberapa sekolah tertentu juga
menyediakan jurusan Bahasa. Begitu pula saat akan memasuki Perguruan Tingga,
kita juga akan memilih program studi apa yang akan kita ambil.
Namun, bagaimana jika ada
seorang pelajar atau mahasiswa yang salah jurusan? Salah jurusan dalam artian
orang tersebut tidak masuk ke dalam jurusan yang ia inginkan atau terjebak
karena pilihan orang tua. Hal ini penulis banyak temukan di jenjang pendidikan
menengah atas dan perguruan tinggi. Bagi orang yang ‘salah jurusan’, hal ini
tentu sangat menjadi beban tersendiri karena ia merasa bahwa potensi atau
keinginannya bukanlah di tempat dimana ia menuntut ilmu.
Tidak sedikit pula orang
yang ‘salah jurusan’ ini akibat dari pilihan orang tuanya sendiri. Orang tua
yang memiliki harapan tinggi bahwa jika kelak anaknya masuk jurusan ‘A’, anak
tersebut akan menjadi orang yang sukses. Namun, bagaimana jika hal ini membuat
anak tersebut frustrasi? Tentu akan berdampak kepada prestasi akademik anak
tersebut. Anak tersebut akan bermalas-malasan dan terbebani dengan apa yang
sedang ia jalani demi membahagiakan orang tuanya. Jika seperti ini, anak
tersebut tidak mempunyai motivasi untuk terus belajar dan akan terhambat dalam
menyelesaikan studinya.nNamun, tidak sedikit pula orang yang ‘salah jurusan’
ini yang memiliki masa depan yang cerah. Banyak orang yang ‘salah jurusan’
malah mencintai bidang ia geluti dan melanjutkan program studi yang dulunya
tidak ia sukai.
Di zaman seperti sekarang
ini, tidak sedikit orang tua yang memaksakan anaknya untuk menjadi apa yang
orang tua inginkan. Sebagai orang tua, berpikirlah dengan bijak sebelum
memaksakan anak karena hal ini akan berdampak buruk bagi anak. Membangun
komunikasi yang baik dengan anak untuk menanyakan apa yang anak inginkan,
ketahuilah apa yang ia sukai, berikanlah kesempatan untuk memilih apa yang dia
sukai dan apa yang tidak disukainya.
Komentar
Posting Komentar