Pintar Berbohong

            Sebagai mahasiswa tentu tidak asing dengan kata “Mahasiswa boleh salah tetapi tidak boleh bohong”, hal ini sering didengar pada saat kegiatan ospek berlangsung yang mana kalimat tersebut diserukan oleh para senior atau bahkan dosen yang mengucapkannya saat proses pembelajaran di kelas sedang berlangsung. Seperti yang kita ketahui bahwa berbohong adalah suatu perbuatan yang tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun. Sedari kecil, pasti kita sudah diajarkan untuk berperilaku dan berkata jujur oleh orang tua dan guru. Lebih baik mengakui kesalahan dari pada harus berbohong.
          Beberapa waktu yang lalu, kita dihebohkan dengan seorang laki-laki yang berinisial DH. DH sempat menjadi perbincangan di media-media online maupun di media televisi karena prestasi yang diraihnya dalam bidang akademik. Ia pernah diundang dalam suatu acara televisi sebagai bintang tamu. Ia sempat dibangga-banggakan oleh bangsa ini karena prestasinya di luar negeri. Namun, apa yang kita banggakan dari dirinya adalah kebohongan semata. Hal ini tekuak oleh publik karena ada seseorang yang memiliki fakta dan memblow-up kebohongan-kebohongan Dwi Hartanto dan menjadi viral di sosial media maupun di televisi. Setelah berita viral di berbagai media, barulah DH muncul untuk mengklarifikasi dan meminta maaf atas kebohongan yang sudah ia lakukan. Hal ini tentu memancing kemarahan publik Indonesia karena ia telah menipu rakyat Indonesia dengan prestasi palsunya.
          Selain DH, beberapa waktu yang lalu juga viral dengan berita yang hampir sama. Berita ini tentang seorang mantan mahasiswa universitas terkenal dan terbaik di Indonesia yang memalsukan transkrip nilainya dan melakukan wisuda palsu padahal ia sudah dikeluarkan dari universitas tersebut karena perbuatannya yang melanggar aturan. Hal ini juga menyulut amarah publik karena bagaimana bisa seorang yang terdidik memiliki perilaku tidak baik dengan memalsukan transkrip nilainya sendiri.

          Dari kedua kasus di atas, tidak selalu orang yang memiliki prestasi cemerlang dan berpendidikan tinggi sejalan dengan perilakunya yang baik. Menurut saya, kedua orang di atas memang pintar secara akademik tapi pintar juga dalam berbohong. Perilaku ini tentulah sangat amat tidak patut dicontoh oleh para pelajar. Berbohong hanya demi untuk disanjung-sanjung orang. Diharapkan dengan viralnya pemberitaan tentang kedua orang di atas tidak ada lagi orang-orang pintar yang berbohong karena seseorang itu boleh salah, tapi tidak boleh berbohong.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belum Cukup Umur

Anak Jalanan

Ilmu Bahasa dan Budaya