Pacaran Menambah Semangat Belajar?
Seperti lagu yang
berjudul, “Kisah Kasih di Sekolah” yang populerkan oleh penyanyi legendaris
kebanggaan Indonesia, yaitu almarhum Chrisye. Lagu itu bercerita tentang kisah
cinta yang terjadi pada masa-masa sekolah. Kisah cinta pada masa sekolah
tentulah sangat berkesan karena pada masa-masa itu kita baru yang saja
menginjak usia remaja merasakan bagaimana senang dan sedihnya jatuh cinta.
Menginjak usia remaja
tidak sedikit baik laki-laki maupun peremuan yang mulai menyukai lawan jenisnya
dan kemudian memutuskan berpacaran di usia yang terbilang masih labil yang mana
remaja tentu masih sulit untuk mengontrol emosi dan masih mempertahankan
keegoisannya.
Tidak sedikit remaja yang
duduk di bangku SMA sudah mempunyai pacar dan mengenalkan pacarnya kepada orang
tua. Tentu reaksi setiap orang tua berbeda-beda, ada orang tua yang menentang
dengan tegas anaknya berpacaran di usia remaja apalagi masih sekolah karena
orang tua tersebut beranggapan bahwa pacaran nantinya prestasi anaknya akan
terganggu dan ada juga orang tua orang tua yang mendukung anaknya berpacaran
sesuai dengan porsinya atau dengan syarat tertentu karena orang tua tersebut
beranggapan dengan pacaran anaknya akan semangat dalam belajar.
Tetapi, apakah benar
pacaran dapat menambah semangat belajar? Atau malah sebaliknya? Untuk membuat
pacar atau kekasih kita merasa terkesan dengan apa yang kita dapatkan, tentulah
kita harus menjadi yang terbaik. Jika berpacaran dapat menambah semangat
belajar, tentu kita akan berlomba-lomba untuk menjadi yang paling unggul. Tapi,
tidak sedikit pula remaja yang berpacaran saat usia sekolah prestasinya malah
menurun dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Jika hal seperti itu
terjadi, apa yang sebaiknya orang tua lakukan? Setiap orang tua pasti punya
acara yang berbeda untuk menasihati anaknya. Kalau prestasi anak menurun
tentulah orang tua merasa sedih dan kesal apalagi kalau penyebabnya karena
pacaran. Agar tidak terjadi hal-hal buruk seperti yang sudah dipaparkan di
atas, bagi orang tua yang memiliki anak usia remaja tentulah harus intens dalam
berkomunikasi karena anak usia remaja cenderung ingin semaunya sendiri dan
keras kepala. Orang tua boleh saja melarang anaknya berpacaran, namun tidak
membatasi dengan siapa ia harus berteman. Sekian dan terima kasih.
Komentar
Posting Komentar