Anak Jalanan
Bila kita membaca
judulnya saja, pasti kita langsung berpikir tentang kisah cinta antara Reva dan
Boy dalam sinetron yang berjudul ‘Anak Jalanan’ yang beberapa waktu lalu
menjadi perbincangan banyak orang karena jalan ceritanya tentang geng motor dan
kisah cinta dua pemeran utamanya. Namun, dalam tulisan kali ini, penulis tentu tidak akan membahas bagaimana
perjalanan cinta Reva dan Boy. Langsung saja ke pembahasan mengenai ‘Anak
Jalanan’ yang akan penulis sampaikan di tulisan kali ini.
Memiliki perekonomian yang
cukup, dapat bersekolah di tempat yang bagus, memiliki rumah yang mewah, dan
banyak mainan di dalamnya tentulah menjadi impian semua anak. Namun, bagaimana
dengan anak yang kurang beruntung? Anaka-anak kurang beruntun ini, mereka lahir
dari keluarga yang serba kekurangan. Jangankan untuk bersekolah, untuk makan
saja terkadang orang tua mereka harus membanting tulang demi menghidupi
keluarganya. Dengan penghasilan orang tua yang tidak memungkinkan, tidak
sedikit orang tua yang memutuskan untuk memutus sekolahkan anaknya. Tak sedikit
pula, untuk mendapatkan tambahan penghasilan orang tua menyuruh anaknya untuk
ikut bekerja, contohnya saja dengan mengamen, menjual koran, atau bahkan
mengemis. Demi memenuhi kebutuhan keluarganya, pada akhirnya anak-anak tersebut
menghabiskan waktunya di jalanan untuk mencari nafkah.
Seperti
yang sudah kita ketahui bahwa kehidupan di jalanan sangatlah keras, anak-anak
dengan sifatnya yang masih mudah terpengaruhi tentu akan menjadi petaka
tersendiri. Pergaulan jalanan yang bisa dibilang keras, seperti penggunaan
narkoba, bahasa yang terkesan buruk, budaya jalanan yang tidak sesuai dengan
norma dan aturan masyarakat. Tidak sedikit anak-anak yang mencari nafkah di
jalanan yang masuk ke dalam lubang hitam kehidupan jalanan yang kelam.
Anak-anak itu tumbuh menjadi anak urakan dan tidak tahu aturan karena
terpengaruhi oleh lingkungannya.
Di
Indonesia sendiri, angka anak jalanan masih terbilang tinggi. Pemerintah belum
sepenuhnya dapat mengatasi masalah tentang anak jalanan, gelandangan dan
pengemis yang sudah ada sejak lama. Meskipun sudah sering kali pemerintah
menurunkan Dinsos dan Satpol PP untuk menertibkan gelandangan, pengemis, dan
anak jalanan, namun hal ini belum sepenuhnya berhasil. Masih banyak
gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang sudah diberikan bekal di dinas
sosial namun tetap kembali ke jalanan.
Hal
ini tentu sangat memprihatinkan, yang mana masih banyak anak jalanan usia
sekolah yang harus bersusah payah mencari nafkah di jalanan dan masuk ke lubang
hitam pergaulan jalanan demi membantu orang tuanya. Meskipun pemerintah sudah
menerapkan program pendidikan gratis 12 tahun serta program lainnya yang
mendukung. Namun hal ini tetap saja belum dapat mengatasi tingginya angka anak
jalanan di Indonesia, khususnya kota-kota besar yang apa-apa serba mahal. Anak jalanan
bukan hanya menjadi perhatian pemerintah saja, namun sebagai warga Indoensia
tentu kita punya andil yang besar untuk memberantas anak jalanan dengan cara
apa saja karena anak jalanan tetaplah generasi penerus bangsa. Hal ini juga
menjadi perhatian orang tua, meskipun dalam kehidupan serba kekurangan
pendidikan menjadi nomor satu karena dengan pendidikan dapat mengubah masa
depan seseorang menjadi lebih baik.
Komentar
Posting Komentar