[RESUME] Filsafat Pengetahuan

BAB I
FILSAFAT PENGETAHUAN

1.      Pendidikan dan Logika Berpikir
Pendidikan Indonesia, berada dalam kebingungan akut. Ia dianggap gagal memainkan perannya dalam proses pencerdasan output  yang terlihat dari kecilnya indeks prestasi peserta didik ketika mengakhiri studinya dalam Ujian Nasional di jenjang pendidikan dasar dan menengah, meskpun standar kelulusannya, dinilai terlalu rendah jika harus dibandingkan dengan standar kelulusan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.
Dalam analisis Cecep Sumarna, sebenarnya ada persoalan lain yang jauh lebih rumit. Misalnya, dalam soal ketidakmampuan dunia pendidikan dalam membentuk dimensi kualitatif peserta didik yang solusinya hanya dapat dilakukan melalui kegiatan berpikir jernih dalam mengaktivasi psikis peserta didik ke dunia yang abstrak, yang prosesnya tidak dapat diamati hanya dengan menggunakan alat indera manusia.
Kegagalan substantive dimaksud, salah satunya, menurut penulis terletak pada rendaynya dunia pendidikan dalam menumbuhkan kreativitas berpikir peserta didik.
Padahal, kreativitas adalah potensi dasar manusia, yang jika dikembangkan, maka hasilnya akan jauh lebih signifikan manfaatnya bagi hajat hidup manusia.
Teori yang mengasumsikan bahwa pendidikan diperankan langsung dengan kemandirian seseorang, ternyata gagal diperankan. Tingginya tingkat pendidikan seseorang, justru telah meningkatkan beban baru baik bagi pemerintah maupun bagi stakeholder. Kaum terdidik malah sering menjadi bagian yang memperkuat baisi ketergantungannya terhadap dunia kerja yang terbatas. Akhirnya, pengangguran kaum terdidik terus meningkat dengan cepat karena adanya ketidakseimbangan antara supply dengan demand.
Virus lemahnya dunia pendidikan dalam menumbuhkan kreativitas berpikir peserta didik, ternyata tidak hanya berlaku untuk mereka yang belajar di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Di lingkup Pendidikan Tinggi pun, virus ini, ternyata masih sangat sulit dientaskan.
Cecep Sumarna melihat, penting segera melakukan pembenahan pembelajaran mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Pembelajaran yang mengaransemen semangat individu peserta didik dalam menyelesaikan masalah. Salah satunya diwujudkan dalam bentuk melatih mereka untuk menyelesaikan persoalan yang sebelumnya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Salah satu bidang yang dapat mendongkrak cara berpikir itu, adalah penguasaan bidang tertentu yang dalam kajian buku ini disebut dengan Filsafat Pengetahuan.
2.      Mengapa Filsafat Pengetahuan
Banyak pihak menganggap bahwa Filsafat Pengetahuan hanya cocok diberikan untuk mereka yang belajar di S2 atau S3. Mahasiswa yang menurut terminology dimaksud sudah dapat dan layak berpikir. Halite dianggap jauh untuk disebut cocok bagi mereka yang belajar pada jenjang strata S1 atau program vokasional. Jenis apa pun pendidikan mereka.
Jika mata kuliah ini diajarkan dalam proporsinya yang teoat, ia dapat memberi arti akan pentingnya penemuan orientasi, tujuan, jalan dan peta kehidupan seseorang. Ia bukanhanya menelusuri perkembangan kekinian yang bertumpu pada kajian kesadaran diri, baik pada aspek kognisi (intelektualitas); afeksi maupun psikomotorik, tetapi juga pada ruang-ruang hidup yang kompleks.
Mata kuliah ini mengkaji perkembangan ilmu, karakter keilmuan dari zaman ke zaman dan bagaimana masing-masing karakter dimaksud berpengaruh dan dipengaruhi budaya dan peradaban yang mengitarinya. Sumbangan apa yang pernah diberikan masing-masing ilmuwan dari setiap fase peradaban dan bagaimana setiap fase peradaban itu membentuk zaman.
Filsafat pengetahuan dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalu berbagai observasi  dan eksperimen yang melahirkan berbagai percabangan ilmu. Realitas menunjukkan bahwa hamper tidak ada satu cabang ilmu yang terlepas dari filsafat atau serendahnya tidak terkait dengan persoalan filsafat. Bahkan untuk kepentingan perkembangan ilmu itu sendiri, lahir suatu disiplin filsafat yang khusus mengkaji ilmu pengetahuan. Rumusan ilmu dimaksud disebut filsafat pengetahuan, yang berkembang dalam cabang baru yang disebut sebagai filsafat pengetahuan.
3.      Mengapa Ditulis dalam Bentuk Novelat
Pertama, dalam perjalana panjang Cecep Sumarna sebagai dosen pengampu Mata Kuliah Filsafat Pengetahuan, Cecep Sumarna banyak bertemu dengan mahasiswa yang sebenarnya gemar berpikir, tetapi tidak gemar membacaapalagi gemar menulis. Terhadap situasi ini, langkah pertama yang dilakukan oleh Cecep Sumarna adalah mengusulkan nama Mata Kuliah ini menjadi Filsafat Pengetahuan dan Metode Berpikir. Kata metode berpikir, menjadi penting, sebab, tekanannya pada bagaimana peserta didik terlatih berpikir benar agar ia mampu bertindakan benar.
Tulisan dalam bentuk Novelat ini, pasti sedikit banyak meringankan cara kerja orang dalam bentuk berpikir, minimal ketika mereka membaca dan mendiskusikan sesuatu yang tersaji dalam bidang ini.
Kedua, Cecep Sumarna memiliki cita-cita yang dalam anggapan tertentu layak disebut mulia, yakni bahwa pikiran-pikirn yang tertuang dalam kajian filsafat pengetahuan dan metode berpikir yang kemudian saya namakan dengan filsafat pengetahuan, itu sangat strategis dalam pengembangan kreativitas berpikir orang.
Karena itu, kajian semacam ini, tidak hanya dituntut untuk masyarakat akademik, tetapi juga masyarakat yang bersifat massif dan public. Jika kajian ini murni disusun dalam kerangka tertentu, maka, pikiran semacam ini seolah hanya milik kelompok tertentu.
Tulisan-tulisan yang ringa, mudah dicerna namum memiliki efek besar, hanya terdapat dalam bentuk sastra salah satunya dalam suatu karya Novelat. Dalam karya semacam ini, akan terjadi proses dialogis, karena sajian terujar dalam kalimat-kalimat yang dialogis juga.
Ketiga, secara historis, ilmu terlahir karena filsafat. Ternyata, dalam kasus tertentu, filsafat lahir karena budaya sastra, budaya seni dan budaya frasa rakyat. Kegiatan filsafat sejatinya kegiatan umum manusia, yang ada sejak manusia bisa berpikir.



II
GERAK DINAMIK DARI MITOS KE LOGOS

1.      Evolusi Ilmiah
Tersebutlah kisah sebuah keluarga unik yang tinggal di pedalaman. Suatu lokus di mana peradaban dunia belelum tersentuh dan menyentuh dirinya. Ia ajek dalam posisinya sebagai wilayah higienis dalam konteks peradaban dunia. Ia selalu berdiri dalam lakon khusus sebagai daerah peradaban dalam persentuhan budaya luar.
Keluarga ini ingin menjadi lakon khusus yang terkisahkan dalam dunia tentang perjalanan heroisme yang penuh liku di tengah seperti gelombang kehidupan yang kompleks.
Keluarga ini memiliki noktah khusus sebagai pewaris pemikiran aneh menurut ukuran waktu, tempat dan zaman yang mengitarinya.
Keluarga ini memiliki enam anak dengan tipikal satu sama lain yang sangat beragam dan terkesan berbeda. hany ada satu dari sekan anaknya itu yang mampu mengikuti langkah Kaisar dalam beberapa hal yang menjadi kebiasaannya. Anak itu dala buku Filsafat Pengetahuan diberi nama Bert, yang memiliki tabiat seperti Kaisar, yakni rajin membaca.
Kaisar selalu mengajak Bert, untuk terus membaca dan berpikir. Ia meminta kepada anaknya itu, merenungkan segala dinamika social yang terjadi pada segenap budaya di sekitar mereka dan membaca berbagai referensi kehidupan untuk menambah wawasan hidup yang mereka jalani. Diskusi dan refleksi mereka, selalu digelar dalam berbagai kesempatan, tentu di rumah mereka sendiri. Diskusi di rumahnya itu, kadang dilakukan di depan tungku api, atau di pematang sawah dan kebun sambil melihat bagaimana pada dan tanaman palawija mereka tumbuh dan memberi harapan akan kehidupan mereka. Kegiatan berpikirnya melesat, saat menghadapi persoalan hidup yang rumit dan kompleks.
Diskusi yang terekam dalam tulisan Bert misalnya berkisah tentang teknologi informasi. Di depan tungku api, untuk pertama kalinya, sebuah televise swasta bernama TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) tayang.
Melalui TPI ini, menurut Kaisar telah menambah jumlah siaran televise yang sebelumnya hanya dimonopoli TVRI. TPI mulai menanyangkan aneka ragam acara yang sangat berbeda dengan siaran TVRI dalam bentuk berita beragam dan film menarik lain sebut misalnya Little Missy atau Serial Negara Hindustan seperti film Mahabharata.
Ia berkata: Anakku, abad baru telah muncul. Abad di mana kamu tidak lagi murni menjadi manusia desa. Abad ini akan membawa kamu ke alam luas karena dunia akan sekami dipersempit. Kamu akan dibawa ke mancanegara dengan sejumlah masalah yang melingkupinya. Aku akan menyaksikan bagaimana dunia dibangun manusia ddan memberi efek simultan terhadap diri amu dan pengetahuan kamu tentu saja.
Di satu sisi Kaisar mengatakan bahwa ala mini luas, tetapi, yang luas itu dipersempit. Dipersempit bukan dalam bentuk fisik (form) tetapi dalam cakrawala dan aksi nyata dalam bentuk berita dan kemudahan akses yang menjangkau dunia yang sebelumnya dianggap sulit dilalui. Kaisar tahu apa yang dipikirkan lalu ia mengatakan, inilah bagian diaklektikal berpikir.
TPI ini telah menyakinkan diri bahwa ciri produk sejarah manusia selalu bersifat dinamis dengan cirinya yang terus berubah. Inilah salah satu anak turunan dari ilmu. Ilmu lahir karena ada filsafat.. Ilmu melahirkan anak baru bernama teknologi. Teknologi melahirkan sejumlah anak lagi, salah satunya teknologi informasi.
Bert makin bingung terlebih ketika Kaisar menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi, pasti merupakan anak turunan dan menjadi lanjutan dari satu fase ke fase lain atau dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Fase dan peristiwa itu sendiri juga dipengaruhi fase dan peristiwa lain sebelumnya.
Kata Kaisar, melihat bahwa tidak ada satu generasi pun di lingkup makhluk bernama manusia, yang mampu menjadi ciri kebaikan murni atau keburukan murni. Inilah makna lain dari kenapa Adam terpaksa melakukan tawaf sebagai bentuk pertobatannya setelah melalui proses sanksi Tuhan ia akhirnya diampuni.
Kata Kaisar, secara teoritis, manusai berbeda dengan Malaikat yang homogeny untuk menjadi pengabdi secara total kepada Tuhan. Mengabdi kepada seluruh titah Tuhan tanpa pernah memiliki kompetensi untuk memikirkan kenapa Tuhan memerintah sesuaty atasnya apalagi menolak apa yang diperintahkan kepadanya. Apa pun dan dalam keadaan seperti apa pun, Malaikat selalu tunduk dan patuh kepada kekuasaan Tuhan tanpa reserve sedikit pu.
Manusia juga berbeda dengan setan yang sejak diciptakan selalu menjadi musuh manusia, meski sama seperti makhluk lain tercipta karena rasa cinta Tuhan. Tidak ada tempat bagi kedamaian ala alam manusia apalagi ala alam malaikat, di segenap alam setan.
Kaisar mengetahui pikiran Bert yang mulai pusing atas apa yang disamapikannya di pagi itu. Namun bukan Kaisar namanya, jika ia harus menghentikan pembicaraannya dan tidak memberi ruang untuk mencari celah yang menyegarkan pemikirannya. Ia melanjutkan pembicaraan dengan mengatakan bahwa: Secara ilmiah, tidak aada seustau yang terjadi karena dirinya sendiri tanpa ada faktor dan pendukung lain atau dampak lain yang lahir karenanya.
Kaisar dalam benak Bert itu, seperti hendak menampakkan dirinya sebagai sejarawan kritis ala Ibnu Khaldun (1332-1406 M) ketika tokoh ini membicarakan soal manusai dan bagaimana manusai melakukan relasi dengan manusai lain, relasi manusai dengan alam dan tentu relasi manusia dengan Tuhan.
Kaisar dalam anggapan Bert, jug atampaknya yakin bahwa hanya dengan kesuburan sebuah daerah, persoalan agam akan dapat disuburkan dengan baik. Bicara agama akan menjadi nonsence, jika tidak dibangun mental kesuburan daerha di mana agama itu harus dikembangkan.
Bert tahu kalau teori Darwin yang tampaknya diimansi Kaisar tadi, banyak digugat ilmuwan, termasuk berbagai diskusi yang diselenggarakan Bert sendiri bersama rekan-rekannya di Padepokan Intelektual. Dalam soal ini, Bert sesungguhnya ingin mendebat Kaisar meski dengan cara yang pelan. Ia menyuguhkan sejumlah argumentasi atas penolakan teori yang dikembangkan Kaisar ini. Bert akhirnya tidka tahan untuk bertanya, Kaisar jika demikian, berarti dirimu dapat disebut sebagai pengikut Darwin?
Kaisar sedikit menghela napas dan mengulumkan senyum kecil. Lalu ia menjawab bahwa kontribusi ilmiah atas proses evolusi Darwin harus diakui telah membuat Biologi menjadi kajian atraktif untuk diteliti. Kaisar mengatakan : Bert kamu harus tahu bahwa di ala mini, selalu ada unsur yang secara genetic tetap diwariskan kepada generasi sesudahnya.
Bert kamu harus tahu bahwa Darwin bersama Alfred Russel Wallace (1823-1913 M), justru telah memberi sumbangan besar dalam kajian biogeografi dunia. Melalu karya mereka yang telah terpublikasi sceara massif di waktu dulu, menyimpulkan telah terpublikasi secara massif di waktu dulu, menyimpulkan bahwa suatu teori ilmiah harus mampu menyimpulkan bahwa pola percabangan evlusi selalu dihasilkan dari sebuah proses yang disebutnya sebagai seleksi alam. Seleksi ala mini dapat menjadi media perjuangan akan keberadaan sesuatu. Konsep ini memiliki efek sama dengan seleksi buatan yang terlibat dalam permuliaan selektif. Gagasan ini, dikembangakn bersama keduanya melalui naskah bersama yang terbut pada tahun 1858 Masehi.
Bert diam dan sangat ambigu. Ia bingung karena doktrin teologi yang dia anut, sangat keras menolak pikiran Darwin. Tetapi, ia mencoba dan terus tadi dalam konteks tertentu sangat tepat untuk digunakan, termasuk dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan.
Pikiran Bert mulai terbuka ketika tiba-tiba ia berimajinasi ke masa lalunya. Nalar Darwin yang disampaikan Kaisar, telah membuata dirinya kadang heran ditolah, sebab dalam kasus tertentu teori ini sulit ditolak.
Bert di pagi itu, akhirnya terdorong untuk meraguan teologi yang dimaninya. Ia menyatakan kepada Kaisar bahwa dia akhirnya ragu atas teologinya yang menolak teori Darwin.
Persoalan lainnya, kata Bert pada Kaisar, kita juga tahu bahwa benda-benda yang melekat dalam mobil itu, memiliki hak paten sendiri karena masing-masing dicipta sendiri-sendiri oleh pakar masing-masing bidang.
Kaisar mengatakan, Bert di kamar kamu juga ada buku Thomas S. Kuhn. Ia adalah tokoh yang telah meyakinkan dunia, kata Kaisar, bahwa ilmu bertumbuh secara evolutif atau bahkan mungkin vegetative dan revolutif. Ilmu selalu ada karen ada eksistensi sebelumnya dan eksistensi terkininya. Ia selalu melahirkan dampak atas kelahirannya. Itulah makna terbarukan cetus Kaisar kepada Bert.
Sambil menyeduh kopi pahit, Kaisar mengatakan bahwa Kuhn telah berhasilmembuat klaim penting mengenai kemajuan pengetahuan ilmiah. Ia menyebut bahwa dalam bidang ilmu, selalu terjadi apa yang disebut dengan “pergeseran paradigma”. Pergeseran ini berkembang linier dan terjadi secara berkelanjutan. Tidak ada yang mursal (terpotong) kata Kaisar dengan senyum khasnya sebagai pemikir.
Ilmu jika mengutip Kuhn, selalu memperhitungkan perspektif yang bersifat subjektif dan tidak selalu mengharukan untuk selalu objektif. Semua kesimpulan objektif, akhirnya didirikan atas unsur-unsur objektivisme. Inilah yang melahirkna teori kebenaran ntersubjektif atau interobjektif. Keduanya selalu berkoneksi.
Anehnya, saat diskusi itu, mau diakhiri, televise tiba-tiba mati. Ternyata accu-nya kehabisan strum maklum di pedalaman itu, belum ada listrik. Akhirnya, acara yang dinantikan mereka tidak sempat ditontan bersama.
2.      Evolusi Mistik
Bert dan Kaisar, sekali lagi tinggal di sebuah desa pedalaman, tempat di mana Bert dan Kaisar tinggal, hanya dihampiri jalan dengan tanah merah yang jika hujan beceknya minta ampun. Sepatu merek Belly sekalipun, pasti akan cepat rusak jika harus melewati jalan ini, ketika musim penghujan tiba. Inilah desa yang sebelumnya diejek Bert dan membuat Kaisar sempat marah kepadanya.
Ada satu kebiasaan Bert muda ketika tinggal di desa. Di tempat inilah, Bert selalu berjalan kaki ke sana kemari, dan hamper tidak pernah berhenti, kecuali malam menyergapnya untuk dian dan memaksanya untuk tidur.
Dalam satu fase, Bert berjalan ke sana kemari ketika di kampung di mana waktu itu ia tinggal, ada lima orang ibu muda yang sedang hamil tua. Bingung bukan karena mereka mengandung ketika tidak memiliki suami. Bert hanya bingung, mengapa ibu-ibu itu bertingkah polah aneh, tidak logis dan sulit dimengerti.
Bert berjalan dalam keakuannya sendiri untuk menyakinkan dirinya sendiri mengapa masyarakat kampong menganggap bahwa jika ada ibu-ibu yang sedang hamil, dianggap disenangi makhluk gaib. Itulah kebingungan pertama Bert.
Perilaku kelima ibu muda itu melahirkan sejumlah tanya dalam batin Bert mengapa lima orang yang sedang hamil itu, khususnya di waktu tertentu dan di tempat-tempat tertentu, tidak dapat melalkukan aktivitas bebas seperti manusia pada umumnya, di siang hari dan menjelang maghrib misalnya, danggap sebagai waktu ideal turunya dedemit.
Ketidakmengertian Bert semakin menjadi, karena bukan hanya karena ada soal waktu pilihan. Lokasi tertentu juga sama, ada yang dianggap sacral dan menakutkan. Misalnya, di bawah pohon besar, batu besar, sungai besar dan gunung besar, ibu hamil tadi selalu bertingkah aneh.
Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari tempat yang dianggap sacral dan berkeramat itu, tiba-tba hujan turun. Muncullah pelangi.
Namun kemudia Bert dikagetkan, karena tidak lama setelah itu, tiba-tiba berdatanganlah nenek-nenek dan kakek-kakek tua dengan membawa warna-warna bunga dan makanan tertentu yang sangat berbeda.
Bert saat itu heran karena masyarakat menganggap bahwa tujuh warna dalam pelangi, dianggap sebagai tujuh jalan bidadari dari Surga, dari kayangan, dari dunia maya yang ideal bergerak menuju bumi yang pragmatis. Apakah betul bidadari turun dari kayangan? Tanya Bert penuh keheranan. Kayangan yang mana dan bidadari seperti apa yang turun itu.
Keheranan itu semakun menjadi dipikiran Bet, ketika Hari berubah menjadi malam. Hari itu, ternyata hari Kamis yang malamnya masuk malam Jumat Kliwon. Di malam tersebut, tiba-tiba penduduk kampong itu sepi dan senyap.
Selidik punya selidik, malam seperti ini, dianggap banyak masyarakat bahwa; dea, dedemit dan arwah turun menyapa manusia di bumi.
Bert bingung dan semakin bingung.
Di tempat lain, Bert juga menyaksikan tidak sedikit dari masyarakat yang melalkukan pengusiran ruh jahat melalui pembakarn kemenyan dan penyediaan berbagai bunga dengan warna yang juga beragam. Hanya Bert menyimpulkan bahwa dua kegiatan tersebut, tujuannya sama yakni:mengusir makhluk gaib yang dianggap menakuti manusia.
Malam Jumat Kliwon itulah Bert bergegas menuju Kaisar. Ia ingin bertanya mengapa banyak masyarakat memandang dan kegiatan dimaksud dalam perspektif positif.
Sampailah Bert di rumah itu, kurang lebih pukul 21 malam. Di tempat di mana Kaisar biasa berdiskusi bersamanya, kelihatan Kasar sedang berdiskusi dengan temannya bernama Marhum yang sering dipanggil Ahum. Dengan senyum khasnya, Kaisar bersama Ahum berkata, ada apa Bert? Kok kamu kelihatan pucat sekali?
Bert berkata: Justru dengan malam jumat Kliwon inilah saya mengalami kebingungan akut yang menyebabkan bukan saja aku terlambat datang ke rumah, tetapi membuat muka saya pun menjadi demikian lemah dan pucat. Hati dan pikiranku bergolak mempertentangkan keyakinan konvensional ini, dengan keyakinan yang saya anut, kata Bert. Masyarakat kita kok demikian mistis. Bagaimana mengubah situasi ini, tanya Bert kepada Kaisar dan Ahum.
Kaisar berkata: Mengapa harus diubah? Mengapa kam ibercita-cita untuk mengubahnya. Apa yang salah atas situasi ini Bert, Ahum menimpali.
Sulit Bert! Situasi itu diciptakan atau tercipat secara natur, kata Kaisar pelan.
Bert, kata Kaisar pelan, itulah mistis. Bahasa asingnya mite (mythe). Kamu boleh mengartikan semua kisah tadi, dengan cerita (prosa) rakyat.
Sssttt…Ahum menyela. Di kampong ini, banyak tokoh menganggap bahwa mistik seperti cerita tadi,dikaitkan dengan agama.
Ya, kata Kaisar bersemangat. Agama misalnya akan memasukkan unsur kegaiban sebagai sesuatu ysng eksis dan haris dipercaya apa adana. Misalnya, soal kepercayaan akan eksistensi Malaikat, siksa kubur dan kebangkitan di akhirat kelak.
Kaisar, kata Bert, kalau begitu apa berarti relasi agama dan msitik, memiliki dua ikatan substantif yang sulit dipisahkan. Misalnya, dalam letak keyakinan akan eksistensi sesuatu di luar jangkauan dan nalar manusia, Tuhan atau apapun yang disejajarkan dengan kata Tuhan misalnya.
Ya, begitu, kata Kaisar pelan. Namun, kamu mesti hati-hati berucap. Kehati-hatian dalam berucap, termasuk dalam soal mistik ini, akan menjadi tanda bahwa kamu bijak.
Tetapi, kata Bert, apakah ada relasi antara mistik dengan legenda? Kenapa kamu bertanya begitu Bert, kata Kaisar. Sebab, dengan narasi tadi kata Bert, mistik dalam terminologi lain, menurut saya, sebenarnya dapat juga disejajarkan  dengan legenda.
Legenda sama dengan mistik dalam konteks posisinya sebagai prosa rakyat.
Ahum menimpali, bahwa mistik dan legenda juga sama. Ada sisi sama ada sisi beda. Yang berbeda di antara mistik dan legenda hanya terletak pada anggapan kesucian.
Iya....kata Kaisar. Sewaktu kamu di SD dulu, mungkin kamu pernah mendengar cerita Sangkuriang.
Bert hampir tidur mendengarkan kehebatan Sangkuriang. Di zaman dulu, ia sendiri mengakui pernah bercita-cita memiliki kemampuan seperti Sangkuriang, khususnya dalam kekuatan magis.
Kaisar menggoyahkan tubuh Bert yang hamper tidur itu. Aaah kamu…kok malah ngantuk, kata Kaisar kepada Bert \. Kaisar berkata: Bert dengarkanlah, semua perilaku dan cerita di atas, tentu tidak rasional dan sulit mempeoleh hasil terukurnya apalagi bukti empirisnya.
Jadi, kata Kaisar, mistik adalah keyakinan yang didorong atas adanya kekuatan luar biasa di luar diri manusia yang sulit diukur, sulit diempiriskan dan sulit dirasionalkan.
Coba kamu baca kata Kaisar, tulisan De Kleine W. P. melalui Buku Encylopaedie (1950). Buku ini dapat juga kamu baca dalam saduran G.B.J Hiltermann dn P. van de Woestjine. Mereka menyebut mistik berasal dari kata mystiek dan mystikos yang mengandung arti rahasia (geheim). Makna lainnya adalah menutup mata (de ogen sluiten yang mengandung arti hilangnya perspektif empiris.
Sebagai seorang muslim, Bert sesungguhnya takut dengan soal mistik ini. Lalu ia bertanya kepada Kaisar. Kaisar bagaimana pandangan Islam soal mistik.
Kaisar menjawab penuh hati-hati. Islam menurut Kaisar, memperkenalkan misti, secara khusus dalam kajian tasawuf, melalui konsep ma’rifah atau mukasyafah. Hal itu dianggap sebagai thariqah (jalan) dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Perolehan pengetahuan dengan jalan sejenis ini, dilakukan tidak melalui proses indrawi atau jalan rasio.
Jika begitu, penalaran mistik selalu bersifat pribadi? Tanya Bert. Iya kata Kaisar. Mistik selalu bersifat pribadi dan tidak mungkin dpaat dilakukan orang lain, sekalipun jalan yang ditempuh sama.
Saat Kaisar kerasukan intelektulitasnya, Bert sesungguhnya sudah tidur dan ruhnya sudah pergi ke awan. Malam ini akhirnya Kaisar bersama Marhumlah yang meneruskan diskusi sambil nonton siaran televisi. Sambil merokok bako Cap Wayang keduanya terus-menerus asyik menyaksikan film pilihan TVRI keran TPI hanya  siaran di siang hari.
3.      Menelusuri Evolusi Mistik Yunani Kuno
Bert pemikir muda dan pembaca yang baik serta pendengar setia, lahir dalam kultur yang relatif tedidik. Kaisar selalu menyajikan bebagai buku dan literasi penting untuk dibaca Bert. Kaisar menyajikan suatu ruangan khusus yang diperuntukkan bagi Bert untuk menjadi perpustakaan keluarganya.
Suatu sore, Bi Isah yang biasa membantu meringkan beban keluarga di rumah itu, menyasikan ruang kerja Bert begitu acak-acakan dan tidak lagi terkesan eksklusif. Beberapa buku yang sudah lecek, berhamburan di meja dan di lantai kamar di mana Bert biasa membaca dan menulis.
Saat itu, Bert duduk di kamarnya sendiri. Ia merunduk lelah. Tampaknya, ia membaca berbagai literature yang pada berhamburan itu, tetapi sulit untuk mendapatkan sinergi akan berbagai peristiwa kebatinan yang menyergapnya. Menjelang waktu Maghrib itu, hanya Kaisar yang berani datang ke ruangan Bert, Masuk ke ruang kerja Bert sambil membawa sebuah Jurnal Filsafat. Sore itu, hujan turun dengan rintikan landai mengiringi perjalanan malam.
Meskipun Kaisar masuk dengan cara yang sangat pelan tetap saja, Bert terbangunkan. Tidak terasa puloen jatuh yang tampaknya telah lama dipegangnya Bert jatuh segera menggesekkan tangan ke matanya. Ah kamu Bert. Jangan terlalu serius. Rileks saja kata Kaisar. Iya Kaisar jawab Bert. Hanya kalau boleh saya bertanya, mengapa Yunani Kuno dianggap penuh mistik? Padahal di kampung kita hari ini, mistik sangat banyak dan kaya nilai.
Kaisar duduk di sofa ruang itu dan menjawab dengan tangkas. Yunani Kuno sama dengan negeri-negeri lain di dunia, termasuk kampung kita sampai saat ini Kata Kaisar yang banyak memiliki mistik. Mite Yunani lebih banyak berbicara soal asal usul alam semesta dan bagaimana alam ini dicipata serta siapa sesungguhnya yang mencipta,
Apa betul, Kata Bert…! Ya, kata Kaisar. Yunani berhasil membuat legenda penuh mistik justru pada sesuatu yang sangat substantif dalam bentuk proses awal penciptaan manusia dan penciptaan jagat raya serta peran-peran pada dewa dalam membangun bumi. Inilah kelebihan mistik Yunani Kuno.
Apa contohnya? Kata Bert. Kaisar menjawab, misalnya Yunani yang terkenal sampai saat ini, miaslnya terkait dengan peran Dewa Titan yang menjadi awal atas dewa-dewa lain, sebelum dewa Olympus hadir yang menjadi penguasa bumi.
Nurcholish Madjid dalam tulisan dimaksud, kata Kaisar, menganggap bahwa suatu legenda atau mite pada hakikatnya diperlukan untuk menunjang sistem nilai hidup manusia, khususnya ketika ilmu belum tumbuh subut di dalamnya dan menjawab berbagai masalah yang dihadapi masyakarat.
Pemikiran Nurcholish Madjid di atas, jelas Kaisar, memperoleh pembenaran ketika harus menempatkan mitos dengan iman dengan konteks perilaku keseharian. Mite dan sistem “iman” sama-sama mengakui eksistensi sesuatu di balik yang fisik atau sesudah yang fisik.
Sambil menguapkan mulutnya yang lelah dan mengantuk Bert terus-menerus mendengarkan pembicaraan Kaisar. Setelah itu, Kaisar berkata bahwa dalam perkembangan berikut, mita tumbuh menjadi ideologi yang mengikat. Dalam term terakhir, mite sama dengan keimanan yang memandang bahwa dalam posisi tertentu harus ada yang dipercaya begitu saja, tanpa reserve sekalipun akan eksistensinya.
Apakah persoalan dunia juga sama dikaji dalam ruang mythe? Tanya Bert kepada Kaisar. Secara spekulatif, manusia kata Kaisar, dapat mempertanyakan asal-usul unia membuat pertanyaan dan sekaligus jawaban yang bersifat memuaskan. Misalnya, dari mana alam dan berbagai kejadian ini dimulai?
Kalau begitu kata Bert, mythe dapat mencari ketenangan tentang asal usuk alam semesta dan kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite mampu memberi jawaban atas sejumlah pertanyaan dasar tentang asal usul alam semesta. Jawaban yang diberikan mite  atas pertanyaan dasar tentang asal usul alam semesta ini, secara teoritis kemudia disebut dengan kosmoginis yang tidak lagi murni mistik. Tetapi sedikir banyak sudah filosofis sekaligus sedikit banyak ilmiah. Iya, jawab Kaisar singkat.
Sedikit berbeda dengan bangsa lain, Yunani Kuno mampu melakukan usaha serius dan sistematis dalam menyusun mythe yang diceritakan rakyat menjadi satu keseluruhan kajian sistematik.
Dengan nalar ini, maka penyebutan Yunani dengan seperangkat pengaruhnya terhadap dunia Barat, menjadi sulit diabaikan, kata Kaisar. Kalau begitu, Bert bertanya, mite dapat menjadi dasar lahirnya peradaban? Ya, jawab kaisar. Dari sini, kata Kaisar, dapat dimafhumi mengapa peradaban terbaik justru terlahir dari sikap masyakarat yang seimbang antara keyakinan akan adanya sesuatu berdasarkan fakta-fakta empiris-rasaonal dan adanya sesuatu di balik yang empiris-rasional dan menjadi penggerak utama pada segala sesuatu yang tampak.
Situasi inilah yang terjadi di zaman Yunani Kuno, pungkas Kaisar berapi-api. Karena itu, lahirnya Yunani Kuno sebagai pusat peradaban dunia di zamannya, sebenarnya dapat menjadi konsekuensi logis atas kekayaan mereka dalam budaya mistik tadi. Yunano Kuno mendeskripsikan situasi ini menjadi kekuatan ilmu pengetahuan, salah satunya melalui keterampilan pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Sambil menggigitkan jarinya, Bert terpaku sekaligus terpukau. Memang jika demikian adanya, hebatlah Yunani. Kaisar pun berlalu dengan memanggil istrinya tidur ke kamar. Bert kembali sendiri tidur di kamar dengan rasa dingin yang luar biasa. Entah mimpi apa Bert malam itu. Yang pasti ia seperti memperoleh pembuktian ilmiah atas apa yang dibaca dan didiskusikan bersama Kaisar tentang kehebatan Yunani itu.




III
EVOLUSI ILMU

1.      Evolusi Ilmiah
Keluarga adalah baigan penting untuk membangun dinamika umat. Hanya melalui keluargalah segala hal tercipta. Tidak mungkin suatu keluarga mampu menumbuhkan keluarga nubuwah, jika spectrum kehidupan keluarga itu, tidak mampu disemai dengan bentuknya yang kokoh dalam menanam nilai-nilai kebaikan. Inilah pesan Kaisar, sewaktu Bert dan saudara-saudaranya berkumpul di rumah mereka.
Keluarga ini, biasanya menghabiskan waktu mereka untuk bersama itu, di hari lbur dan yang pasti, hari libur dimaksud, tentu hari minggu. Suatu hari, di waktu libur pada suatu minggu, Bert dan Kaisar ramai mendiskusikan evolusi ilmiah dalam lingkup dunia. Mereka berkumpul di ruang diskusi rumah. Pagi itu, Ema, istri Kaisar, sudah siap membawakan dua cangkir kopi pahit bersama dengan goreng singkong yang tidak dicampur keju.
Saat Ema datang, Bert sedang berbicara kepada Kaisar tentang rasa penasarannya atas apa yang menyebabkan Yunani dikagumi dunia sebagai peletak dasar lahirnya filsafat dan bahkan ilmu pengetahuan. Ia bertanya, bagaimanakah situasi transisional ilmiah ini terjadi di Yunani Kuno ini.
Kaisar mengatakan: Bert, harus kamu ketahui bahwa di Yunani Kuno, ada pemikir ulung yang mentransisikan fenomena alam yang sebelumnya penuh mistik ke ranah baru yang lebih observasional. Karakter observasional inilah yang dimaskud transisional menurut kamu.
Kamu harus tahu, kata Kaisar, Yunani memilki dua generasi besar, yakni Pra Socrates (era transisional) dan fase Socrates itu sendiri (kemapanan ilmiah). Di kedua fase ini, saya, kata Kaisar,melihatnya telah memiliki corak yang berbeda satu sama lain.
Yunani Kuno, sebelum kehadiran Socrates, Plato dan Aristoteles sebagaimana telah saya jelaskan tadi, kata Kaisar, seing dianggap sebagai negeri dongeng penuh mistik. Mereka tumbuh menjadi kelompok masyarakat majiner yang mentransformsasi mitos ke dalam bentuk cerita yang menghibur rakyat banyak.
Kala begitu, kata Bert menimpali, para pemikir Yunani Kuno, mulai mencoba mengkritisi pengetahuan mereka yang diperoleh dengan cara mistik tadi ke dalam bentuk baru. Bentuk baru itulah yang diperkenalkan dengan nama ilmu? Tanya Bert.
Ya, kata Kaisar. Ilmu (Sains), kata Kaisar adalah produk sadar atas hasil penyelidikan manusia dalam menemukan berbagai aspek dari realitas alam semesta dan relasi yang terdapat di alam. Dalam kasus tertentu, ilmu terbentuk karena manusai mulai mencoba berpikir lebih, tentang apa pun yang diketahui dirinya, termasuk jika objek yang diketahui itu berbau mistik dan paganis.
Dalam banyak kasus, kata Kaisar, legenday yang menjadi mistik Yunani Kuno, persis seperti cerita yang menjadi alur wayang-wayng kulit d Indonesia. Saya piker, kata Kaisar, agak sulit mendeskripsiskan cerita-cerita yang terdapat dalam wayang, yang mengisahkan cerita sesungguhnya sebagai sesuatu yang nyata.
Ooo kalau begitu, kata Bert, jauh hari sebelum Socrates, Plato dan Aristoteles lahr, di Yunani Kuno sebenarnya telah lahir pemikir ulung yang awalnya khusus mengkaji tentang asal-usul alam semesta. Ya, kata Kaisar, menimpali. Karena itu, kata Kaisar, para pemikir tadi, kemudian dikenal dengan istilah filsuf Pra-Socrates. Filsuf yang berupaya melakukan re-thinking terhadap mitos Yunani itu, misalnya terlihat dari: Thales, Anaximandros, Anaimenes, Phytagras, Xenophanes, Heraclitus, Anaxagoras, Leuxippos dan Democritus.
Di mana basis ilmu mulai diterapkan dalam konteks filsuf pra-Soctratean ini di Yunani Kuno? Tanya Kaisa kepada Bert. Bert diam tidak berbicara. Tiba-tiba berkata sebelum Bert menjawab pertanyaannya.
Saya, kata Kaisar, melihat setidaknya basis ilmu mulai diperoleh melalui dua karakter ideal, yakni: karakter observasional yang dialektik dan karakter uji coba yang tidak lagi spekulatif dalam memahami apa yang disebut dengan kebenaran.
Perdebatan ini, kata Kaisar, telah mengisyaratkan datangnya fase baru di mana asas kehidupan terbentang dalam jurang berbeda secara sgnifikan antara keharusan materialism sebagaimana digagas Thales, Anaximenes, Phytagoras, Heraclitus, Leucippus, Democritus di satu sisi, dan kelompok idealism yang diperagakan Anaximander, Xenophanes, dan Anaxagoras.
Hal terpenting lain dari apa yang dihasilkan filsuf era pra-Socrates ini, kata Kaisar, adalah penempatan bumi sebagai pusat segala dinamuka alam, dan upayanya untuk memberi seubangan pemikiran, bahwa manusia memiliki peran penting dalam memprespektif bumi.
Diskusi ini terus berlangsung, sampai kopi pahit habis dan film si Unyil mulai berlangsung.
2.      Ilmu dan Moral Praktis
Rumah Kaisar yang didesain secara arsiktektur sejak tahun 1960-an, saat tertentu terkesan sepi dan sulit mendapat pengunjung, kecuali di malam hari. Banyak manusia datang berduyun-duyun hanya sekedar untuk menonton televisi. Meskipun demikian, rumah ini terasa sepi, sebab setelah diskusi di hari minggu itu berlangsung, entah kenapa, disuse cukup lama tidak digelar. Mereka tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Hamper satu bulan lamanya, Kaisar hanya ditemani Marhum yang selalu mendampingi ke mana pun Kaisar pergi.
Kaisar tampak senang saat itu, ketika Bert diketahui pulang.
Sore itu, ayam benar-benar disembelih Ma’rif, dimasak Emad an dimakan bersama di malam hari. Bertlah yang mengawali diskusi di malam itu ketika santap malam berakhir. Dalam diskusi itu, Bert menyatakan bahwa tradisi ilmiah tokoh-tokoh kunci Yunani sekelas Thales dan kawan-kawannya, ternyata diteruskan filsuf brilian seperti Socrates, Plato dan Aristoteles.
Keteguhan tiga filsuf yang meneruskan tradisi ilmiah di atas, kata Bert, telah menyebabkan Yunani berdiri kokoh menjadi pusat perkembangan ilmu dan peradaban dunia.
Ya, ya…kata Kaisar menimpali. Soctrates, Plato, dan Aristoteles karena itu, sering disebut deklarator penting tentu mungkin banyak tokoh lain hanya tidak tercatat dalam ejarah yang engasumsikan pentingnya membalikkan dunia mite menjadi ilmu ke dalam bentuknya yang lebih praksis. Tiga tokoh ini, di kalangan masyarakat dikenal sebagai fugur yang mampu mengubah mite menjadi ilmu pengetahuan praktis.
Filsuf Yunani setingkat Socrates, Plato dan Aristoteles yang menjadi trio filsuf besar Yunani di abad ke-5 sampai abad ke-4 SM, telah menjadi titik kunci pemikiran filsuf fan saintis modern.
Saya percaya, kata Bert, tiga filsuf ini tidak pernah sadar kalau nama dan pemikiran mereka menjadi demikian popular di tenagh kehidupan umat sesudahnya temasuk di kalangan temporer belakangan ini. bahkan setelah hamper dua ribu lima ratus tahun setelah kematian mereka, pemikiran mereka tetap hidup dan dikembangkan.
Bert kemudia mengutip Akbar S. Ahmed (1992). Kalau menurut saya, kata Bert mereka mungkin sebenarnyadisebut Allah sebagai nabi dalam Al-Qur’an atau kibat suci lainnya, tetapi manusia tidak mampu menunjukkan bukti konkret kenabian mereka atau beda nama dan istilah yang disebutkannya.
Marhum menimpali. Mungkin ada benarnya juga pernyataan kamu Bert. Fakta menunjukkan bahwa jumlah nabi dan rasul itu banyak. bahkan sampai ratusan (untuk rasul) dan ribuan untuk nabi.
Iya juga kata Kaisar menimpali.
Nah di sini, sebenarnya peril penerjemah lain, kata Bert. Misalnya nih, kata Bert, kenapa filsuf Yunani Kuno menjadi demikian popular, bahkan seolah telah menjadi legenda dibandingkan dengan para filsuf lain di negeri lain.
Socrates, Plato, dan Arisoteles, kata Bert, karena itu, dapat disebut sebagai penggerak demitologi Yunani, sehingga filsafat yang semula bercorak mitologis, berkembang menjadi ilmu pengetahuan praktis dan mengambil jarak dengan aspek-aspek mistis. Indikatornya, terlihat dari pernyataan Aristoteles bahwa filsafat adalah aktivitas akliyah yang harus dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hati-hati kata Kaisar. Butuh terjemahan dari kata dipertanggungjawabkan Bert. Apa yang dimaksud dengan dapat dipertanggungjawabkan? Bert berkata bahwa kata dipertanggungjawabkan mengharuskan adanya neraca pemikiran karena segala sesuatunya dapat dibuktikan. Keberanian Aristoteles yang sangat rasional-empirik ini, menurut Bert yang kemudian mengutip Abdus Salam (1994) bahkan telah dipuja para ilmuwan Barat modern sebagai pemikir yang sulit dtemukan kesalahannya, sampai sekarang ini. ilmuwan modern merasa kesulitan untuk meyakini bahwa pikiran Aristoteles mengandung kelemahan dan kesalahan.
Bert kembali mengutip K. Bertens (1989) untuk mempertegas kembali keyakinannya, kenapa filsuf Yunani tumbuh dan dikenang dunia sebagai pemikir brilian dan genuine? Semua itu, ternyata terjadi karena mereka mampu mensistematisasi mistik menjadi ilmu.
Apa yang dapat disimpulkan dari fenomena Yunani Kuno itu, tanya Kaisar kepada Bert. Bert kemudian berkata bahwa dialektika berpikir karena itu, adalah sumbangan lain yang diberikan Yunani terhadap dunia ilmu. Ilmu yang dibangun flsuf Yunani Kuno, misalnya terlihat antara Plato dan muridnya Aristoteles.
Diaklektika itu seperti telah kita diskusikan bersama beberapa minggu yang lalu kata Bert, juga terjadi jauh hari sebelum Plato dan Aristoteles hadir. Di awal kita dapat menyimpulkan bagaimana Thales menyebut asas kehidupapn itu air, sedangkan Anaximenes menyebutnya dengan udara dan anaximandros menyebutnya dengan to apperion. Tradisi dialektis ini, menjadi formula penting lahirnya ilmu pengetahuan.
Dialektika pemikiran karena itu, misalnya antara Plato versus Aristoteles, atau antara Thales, Anaxiomandros dan Anaximenes, penting untuk disebut sebagai pendorong lahirnya ilmu, sebab melalui dialektika semacam ini, ilmu bukan saja menjadi lebih dinamis, tetapi juga dari setiap wacana dialektik, pasti akan melahirkan sesuatu yang baru. Sifat ini pula, telah menyebabkan lahirnya wacana keilmuan.
Bert berlalu dari meja makan. Ia lebih dulu pamit meninggalkan ruangan itu, Ia masuk ke kamar tidur, mematikan lampu dan membiarkan kamarnya gelap pekattanpa cahaya sedikitpun.
Sementara Kaisar dan Marhum masih tinggal di ruangan itu, mereka, sepeti malam biasanya, selalu menghabiskan dua pertiga waktu malamnya untuk berdiskusi tentang apa saja yang mereka inginkan. Mereka menyebut kegiatan diskusi di malam hari sebagai tahajud ilmiahnya.
3.      Peran Sastra dalam Mentransformasi Ilmu
Rambut lembut kemerahan, raut muka apik dengan kulit beniing tanpa goresan, membuat Bert tampak berwibawa. Bibir merah tanpa gincuyang ditakdirkan Tuhan diberikan kepada Bert muda, membuat dirinya sering dgandruni banyak remaja, khususnya kaum wanita.
Meskipun demikian, saat Bert masih berada di kampus utamanya, dia sempat diminta untuk membuat naskah sastra dan peannya dalam membangun peradaban dunia. Tentu ia senang dengan tugas ini, sebab sewaktu dia di SLTP dan di SLTA dan diteruskan ketika dia studi di perguruan tinggi, ada kebiasaan yang jarang dimiliki orang lain, yakni kesenangannya membaca novel dan karya sastra baik pada kelas local maupun pada kelas regional, nasional dan bahkan ketika ia dewaa membaca karya-karya sastra dunia.
Makalah Bert tentang sastra, mendorong hatinya membatin, sebab ia meyakini bahwa kehebatan lain yang dimilik Yunani Kuno adalah pengahrgaanmereka terhadap dunia sastra.
Bert memperlihatkan bagaimana karya puitis Homeros seorang dalang untuk itilah masyarakat Jawa dengan judul Illias dan Oddeysia, telah menduduki tempat teristimewa dalam kesusastraan Yunani. Melalu karya ini, Yunani memperkenalkan dirinya kepada dunia.
Karya Homeros, inilah karya tertua dunia, kata Bert.
Homeros, kata Bert, dikenal di Yunani dengan sebutan Homer. Homer adalah pembuat seni cerita rakyat Yunani dan memainkannya dalam bentuk praktis di tengah rakyat banyak. Bert meneruskan tulisannya dengan menyebut, bahwa akuingin seperti Homer. Ya…, seperti Homer.
Sehabis itu Bert menulis lagi tentang kisah petualangan Amerika Serikat baik di Jepang, Vietnam, Panama, Kuba, Iran, Irak, dan Afganistan. Bert kembali menjawab aku tidak tahu! Yang pasti kata Bert baik Jerman maupun Amerika, keduanya sama ingin menjadi polisi dunia.
Nazi di Jerman dan sikap pandang para pemimpn Amerika, kata Bert sering kali memahami diri mereka sebagai pemegang polis yang beradab. Konkret dan membentuk covert sekaligus overt politik mereka yang mengadagiumkan diri sebagai pengikut gerakan Yunani Kuno ke dalam tataran yang lebih praktis.
Melalui karya sastra yang demikian itu, Bert dalam imajinasinya, menyimulkan bahwa pemikiran Yunani Kuno yang sudah mulai ilmiah tersosialisasi dan bahkan terinternasionalisasi oleh apa yang disebut dengan karya sastra.
Dalam konteks tertentu, Yunani Kuno dalam tulisan Bert dimaksud, mampu melakukan sistematisasi dan sekaligus generalisasi landasan bagi lahirnya teori/ilmu pengetahuan yang sebelumnya penuh mistik.
Dalam narasi di tulisannya itu, Bert lalu membuat hipotetik, bagaimana dengan Indonesia? Keagungan negeri ini, negeri yang dalam anggapannya telah menjadi semacam cuplikan Surga Tuhan di muka bumi ini, perlu diinternasionalisasi para susastra. Jika tidak, maka, megeri ini akan tetap berada dalam posisi yang jauh dari merek ayang disebut negara besar. Padahal negeri ini memang besar dan memiliki tradisi agung yang sulit memperoleh tandingannya jika harus dibandingkan dengan negeri maju seklaipun.



IV
MASA KEGELAPAN BARU

1.      Ilmu di Era Kristen Awal
Suatu hari, Bert kembali pulang kampong. Kali ini, kepulangannya benar-benar dihabiskan di rumahnya. Suatu hari Bert duduk di taman belakang rumah yang dimiliki Kaisar. Saat itu Bert duduk sendiri. Ia menggengam buku besar tulisan tokoh reformasi agama Indonesia, bernama Nurcholisoh Madjid.
Bert terenyak kaget, saat dia membaca buku Nurcholisoh Madjid (1997) yang memuat salah satunya ungkapan misterius yang menyatakan bahwa tradisi awal Kristen sangat jauh berbeda dengan tradisi masyarakat Muslim dalam konteks penguasaan ilmu pengetahuan.
Selain itu, Bert berhipotesis bahwa sebelum Islam menjadi sebuah sistem ajaran, karena Nabi-nya lahir terakhir, yakni sekitar abad ke-7 masehi, Kristenlah yang pertama kali masuk dalam kubangan dunia, termasuk mungkin dalam kubangan ilmu pengetahuan. Masalahnya, mengapa Nurcholisoh Madjid mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan.
Ia datang seperangkat kalimat tanya yang terus membara untuk disampaikan kepada Kaisar. Bert menghampiri Kaisar yang sedang diskusi dengan Marhum. Namun, tanpa tedeng aling-aling, Bert bertanya, Kaisar apa mungkin Kristem awal berjarak dengan ilmu pengetahuan?
Tanpa diduga, Marhumlah justru yang menjawab. Ia mengatakan bahwa era awal Kristen, para filsuf selalu merasa berat menghadapi gerakan kaum gereja, meski bukan berarti filsuf sama sekali hilang di peredaran dunia, termasuk di kalangan Gereja sendiri.
Mengapa bisa begitu, kata Bert. Bukankah ajaran Kristen juga berasal dri Tuhan yang sama, yakni Allah? Kalau sama-sama bersumber dari sesuatu yang sama, mengapa berbeda? mengapa yang satu kritis terbuka (Islam) dan mengapa Kristen tertutup dan jauh dari karakter kritis.
Sampai pada konteks berasal dari Wujud yang Sama, iya tidak beda, kata Marhum.  Kristen lebih memilih kelompok elite mereka yang cenderung dogmatis. Lho siapa yang disebut dengan kelompok elitis itu, tanya Bert. Kelompok itu, kata Marhum adalah emreka yang memiliki kekuasaan utnuk menafsirkan ajaran agama Kriten bersama Injil tentu saja di dalamnya. Sebelum Marhum melanjutkan pembicaraan, Kaisar mengatakan, dalam terminology Kristen disebut dengan Pendeta.
Kaisar meneruskan kalimatnya dengan menyatakan bahwa, Biara tidak saja menjadi tempat aktivitas agama para pendeta, tetapi ia juga menjadi pusat kegiatan intelektual. Hanya perlu dicatatkan bahwa di kalangan gereja terdahulu, berlaku namun keterbatasan. Rumusan ini mengasumsikan bahwa yang harus menguasai Injil itu adalah mereka yang disebut dengan pendeta. Merekalah yang bebas masuk ke dalam Gereja. Segela bentuk yang terbatas, pasti akan menghasilkan sesuatu yang terbatas juga dana kehilangan elastisitasnya. Ditambah dngan kecenderungan mereka yang selalu menghubungkan ilmu pengetahuan dan agama dalam bentuk history of scientific progress (sejarah perkembangan ilmu), tidak pada social psychology-nya.
Kamu tahu risiko dari kondisi ini. Tanya Kaisar dengan sorot mata yang tajam diarahkan kepada Bert. Kaisar kemudian menjawab sendiri dengan mengungkapkan bahwa kondisi ajaran Kristiani yang menempatkan kitab suci dengan ilmu dengan posisi tadi, akan menjadi catatn penting bukan saja bagi masyarakat Kristen sesudahnya, tetapi yang menarik justru bagi masyarakat dan komunitas ini.
Oooh kalau begitu, bentuk hubungan seperti yang diperagakan masyarakat Kristiani, dicatat sejarah telah melahirkan sejumlah kerugian dalam konteks perkembangan filsafat dan ilmu. Dimanakah letak kerugian dimaksud tersedia? Tanya Bert dengan memberi tekanan khusus. Di antara kerugian dimaksud, kata Kaisar, adalah terjadinya pertentangan anatar kajian keilmuan dengan kajian keagamaan. Hasilnya! Ilmu menjadi macet dan saintis diposisikan dan dianggap sebagai penentang ajaran agama.
Kondisi ini harus diakui telah menyebabkan hilangnya tradisi agung Yunani yang kritis sekaligus dialektis.  Kata Kaisar menegaskan. Pengikut agama yang fanatic tumbuh menjadi penentang yang kuat terhadap perkembangan empiric-rasional yang dibangun filsuf awal Yunani.
Banyak musibah yang terjadi sebagai akibat atas sikap pandang keberagaman semacam ini. Kata Marhum ikut menimpali lagi. Ooo iya kata Kaisar.
Korban pertama terjadi kepada seorang wanita cantik dan cerdas, bernama Hypatia. Ia harus rela menjadi korban kaum Gerejawan Kristen yang sedang mengonsolidasi  dirinya di Vatikan. Kalau begitu, Hypatia menjadi semacam resi petapa dalam soal perkembangan ilmu? Tanya Bert semangat. Iya kata Kaisar. Ia memberanikan diri berdiri di tengah kuatnya arus kekuatan sosial yang menolak perkembangan filsafat dan ilmu yang dikembangakan Yunani Kuno, khususnya filsafat Aristotalian. Hypatia akhirnya dibunuh dalam suatu perjalanan menuju perpustakaan yang dia sendiri sering menghabiskan waktu di tempat itu.
Sikap sebagian masyarakat Kristen terhadap ilmu sebagaimana diilustrasikan tadi, nyatanya masih terjadi pada ilmuwan-ilmuwan abad medievalis (ilmuwan abad pertengahan). Oooh sampai abad pertengahan, Kristen masih demikian? Bert kembali membatik. Iya. Buktinya kata Kaisar, Giordano Bruno hidup pada kisaran 1548-1600 harus rela dibunuh.
Ilustrasi ilmiah atas sikap kesewanangan Gereja terhadap tokoh-tokoh ilmuwan tadi, kalau kamu baca secara serius dalam ilustrasi Dan Brown dalam berbagai Novel filosofinya, akan terlihat jelas kata Kaisar.
Kemenangan Kristen awal atas filsafat Yunani Kuno, tentu tidak perlu disesali. Namun, jika diizinkan untuk melakukan hiptetik, yakni andaikan orang Kristen mampu membedakan antara mana yang disebut dengan Paganisme (sebagai sistem ritus) dan mana yang disebut dengan ilmu pengetahuan, atau anadakan perpustakaan Iskandaria yang dikembangkan Hypatia itu tidak pernah dimusnahkan, mungkin kegelapan dunia dan ilmu pengetahuan.
Meksipun demikian, ketika mayoritas masyarakat mengambil sikap pandang yang jauh dari filsafat, bukan berarti filsafat otomatis mati dan terhenti dalam lintasan sejarah dunia.
Kembali ke pesoalan Pasca kematian Aristoteles, kata Kaisar, filsafat Yunani Kuno, kembali menjadi ajaran praktis dan bahkan mistik. Filsafat lebih bercorak teologis dan ideology (berkarakter tertutup) dibandingkan dengan corak sebelumnya yang ilmiah (Dengan sifat terbuka) dan dialogis.
Oooh hebat sekali pikiranmu Kaisar. Inilah bagian yang mungkin selama ini, belum banyak terjamah pemikiran manusia kebanyakan. Iya, kata Kaisar dan Marhum serempak. Jadi bagi kamu, Barat dan Eropa semestinya tidak terlalu sombong atas kemajuannya hari ini.

2.      Sepercik Kesadaran
Sehabis diskusi penuh yang membincangkan sikap pandang mainstream kaum Kristen Awal terhadap ilmu pengetahuan itu, dan bagaimana mereka merelasikan ilmu pengetahuan dimaksud dengan agaman, yang dianalisis dalam sikap peyoratif, Bert sesungguhnya tidka tinggal diam dalam asumsi Kaisar dan Marhum.
Suatu hari, untuk kepentingan ini, bert akhirnya terpaksa masuk ke ruang kerjanya yang spesifik. Bert mencari Novel karya Dan Brown yang tidak kurang dari lima judul yang dia miliki dan tersdia di Perpustakaan mereka. Bert menarik benang pemikiran dengan mengkaji rumusan Stoa yang menjadi instiusi di mana pusat perkembangan ilmu pengetahuan ditumbuhkan di era Kristen Awal. Bert pertama kali mencari makna dari kata Stoae dengan cara beruzlah sendiri.
Bert menyimpulkan bahwa Stoae melambangkan sebuah gedung yang melukiskan adanya harmoni dalam hidup. Bangunan yang menyimetriskan antara atap dengan dukungan tiang-tiang yang kokoh telah menyebabkan suasananya menjadi demikian berwibawa. Dibangun dengan lambing kejayaan masyarakat Yunani masa lalu akan kegigihan mereka dalam membangun peradaban.
Ketika Bert menelusuri situasi-situasi yang membingungkannya, ia bertemu dengan pikiran Epikouros yang menjadi salah satu juru kunci di Stoae. Dalam berbagai bacannya, ia oleh Bert dianggap sebaagi salah satu filsuf yaitu memanfaatkan Stoae sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tentu selain perkembangan agama yang lain dia anut yang Kristen.
Ia akhirnya berkesimpulan bahwa, apa yang disampaikan Kaisar dan Marhum ada benarnya. Meski catatannya, kata Bert, Kaisar dan Marhum lupa bahwa di sebagian kecil mereka juga tersedia pemikir dan filsuf yang mengadagiumkan diri akan pentingnya dunia sufi. Pemikiran mereka dengan jumlah yang terbatas itu, juga ternyata sangat memengaruhi pemikiran filsuf Muslim.
Dalam lelah, Bert tidur dengan sejumlah rasa suka citanya.
Bert bangga kepada siapa pun yang mencintai ilmu. Mengapa? Sebab ilmu selalu menjadi warisan manusia beriman yang selalu hilang atau ditinggalkan.



V
CAHAYA BARU DI MEDITERANIA

1.      Mediterania
Kali ini, Bert berbeda dengan biasanya. Ia merasa bahwa dirinya Muslim, tetapi, dalam banyak hal, sebutannya sebagai Muslim, tak mampu ia tunaikan dengan baik. Bert ingin menguak dinamika ilmu di lungkup masyarakat Muslim yang dia imani.
Ketika Bert hendak menyusun sebagian kecil kaum Gereja yang konsen pada Filsafat dan Ilmu, waktunya dihabiskan di meja belajar. Suasananya berbeda dengan ketika Bert, ingin mencari tahun tentang peran dunia Isalm dalam membangun peradaban. Ia menggeluti dan membaca pikiran masa lalu dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan dan bagaimana dunia Islam membangun ilmu pengetahuan.
Ia begitu gundah ingin mengatahui, mengapa seluruh dunia termasuk tentu masyarakat dan pemerintah Indonesia, begitu kuat memperhatikan dan mendinamisasi perkembangan ISIS di Iran, Irak, Suriah, serta dampaknya tentu saja terhadap dunia Islam, termasuk Indonesia. Ia memulai kajiannya dengan menelaah berbagai kajian tentang Mediterania. Ia membagi cerita ini dengan lawan diskusinya bernama Lana.
Lana adalah salah satu figure intelektual muda yang dalam kasus tertentu, agak mirip dengan Hypatia dalam cerita Barat Awal, khususnya soal kesenangannya dalam mempelajari perkembangan filsafat dan Ilmu di Sumeria. Karena itu, Bert begitu senang ketika pada akhirnya ia dapat menjumpainya di ranah ilmu.
Bert selalu menemui Lana di pojok perpustakaan. Lana hanya tampak kaget ketika Bert tiba-tiba, menyapanya.
Bert bertanya, apa yang kamu tahu tentang Mediterania Lana? Hari ini, kita dibikin takut oleh berbagai berita tentang kelompok masyarakat di sini, padahal, sejauh yang aku tahu, sebetulnya mereka memiliki tradisi keilmuan yang demikian hebat. Apa sesungguhnya yang membuat banyak masyarakat dunia begitu takut terhadap dinamika ini?
Sambil minum kopi dan cemilan, Lana kemudian berkata: “Mediterania adalah suatu wilayah di kawasan Laut Tengah. Wilayah ini berbatasan dengan sebuah laut yang oleh para ahli diberi nama Mediterania. Mediterania berarti negeri daratan tenngah yang berada di antara laut yang posisinya menghubungkan antarbenua di dunia.” Inilah yang menyebabkan mengapa daerah ini dianggap strategis dan selalu menjadi tempat pertanrungan berbagai ideolgi, yang ujug sebenarnya adalah pertarungan ekonomi.
Kalau begitu kata Bert, Mediterania, memiliki arti sebagai wilayah yang menjadi pusaran bisnis dunia? Iya kata Lana. Ia juga dianugerahi Allah dengan limpahan Sumber Daya Alam yang demikian melimpah, meski di tengah segenap keadaan lingkungan yang secara umum tandus.
Kondisi natur yang demikian, diperkuat dengan letak daerah yang juga strategis. Jalur ini, menurut Lana, telah menghubungkan berbagai jalur perdagangan dan pertukaran budaya Mesir, Yunani Kno, Romawi dan Jazirah Arab pada umumnya.
Bert kemudian berkata: ini kehebatan kamu. Cara bertutur kamu tentang perkembangan filsafat, telah membuat banyak pihak takzim dan agak sulit untuk menghindari suatu asumsi bahwa kamu memang orang hebat.
Jangan begitulah kata Lana.
Akan tetapi, kemudia Lana segera memotong kalimat Bert dengan menyatakan: “Kamu harus tahu akbatnya Bert. Akibat yang timbul atas situasi geografis yang demikian strategis itu.”
Banyak kepentingan dan banyak orang yang terus menenus “berperang” memperebutkan wilayah ini.” jadi, ISIS juga buatan mereka yang hendak menguasai wilayah-wilayah ini? Ya iyalah katanya ketus sambil menghabiskan kopi pahitnya.
2.      Karakter Dasar Mediterania
Situasi ini yang menyebabkan Bert harus berpikir bahwa Mediterania adalah bangsa unik. Islam dalam keyakinannya, turun dalam perspektifnya yang ilmiah. Ia turun dengan perintah pertama membaca dan secara substansial menyuruh juga untuk menulis.
Bert meningat betul, seorang guru ngajinya, bernama Kiai Kholid dan Ustaz Sayyid dengan mengutip tafsir al Maraghi, yang menyebut bahwa sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan perjalanan Muhammad yang melaksanakan meditasi di gua yang berada di Gunung Tsur.
Al Maraghi, masih dalam penuturan Kiai dimaksud, menyatakan bahwa pena harus dijadikan sebagai sarana berkomunikasi antar sesama manusia. Dalam bahasa modern disebut dengan istilah menulis. Jadi kegiatan membaca dan menulis, selalu harus berjalan bersama. Dan itulah tradisi masyarakat Muslim.
Bert ingat, bagaimana grunya mengatakan bahwa dalam konteksi ini, Allah menyatakan bahwa dirinyalah yang telah menciptakan manusia dari ‘alaq, kemudian mengajari manusia dengan perantara qalam.
Inilah pintu awal, kata guru ngaji Bert, lahirnya pemikiran ilmiah masyarakat Muslim di Mediterania. Kegiatan membaca dan menulis di sebuah tempat penuh gurun yang digambarkan Al-Qur’an sebagai masyarakat yang ummi, harus turun ke medan perjuangan menjadi manusia tercerdaskan sekaligus tercerahkan karena kemampuan membaca dan menulis.
Apa pun itu, semua kondisi tadi sejatinya jauh dari tradisi Islam. Watak dasar masyarakay Muslim, sesungguhnya di mana pun mereka berada adalah ilmiah. Bert tersenyum. Ia menegaskan, Islam justru mesti tampil dan ditampilkan dalam gejalana yang ilmiah. Jika tidak, maka, sesungguhnya itu semua bukan merupakan watak Islamiah.
3.      Watak Ilmiah Mediterania
Bert berada dalam kebimbangan luar biasa, saat telinganya harus mendengar istilah kafir zindik yang disematkan kepada rasionalis Muslim, Muktazilah. Budaya mengkafirkan, kata Bert terlalu mudah didapatkan dan disematkan. Ini bahaya kata Bert. Dan mereka yang terbiasa menyalahkan ini, justru disayangkan muncul dari mereka yang kadung dianggap ahli agama.
Selain dirinya, hanya Leman, teman setianya yang menolak anggapan dimaksud. Keduanya justru memuja keberhasilan kaum rasionalis Muktazilah dalma membangun peradaban masyarakat Muslim dalam puncak peradaban yang kuar biasa tidak hanya dalam konteks dunia Islam, tetapi bahkan dalam perkembangan dunia pada umumnya.
Dengan jiwa penasaran yang tinggi, Bert kemudia menelusuri apa sejatinya itu Muktazilah. Setelah mendalaminya, Bert menyimpulkan bahwa Muktazilah adalah salah satu aliran teologi dalam Islam.
Ada dua persoalan mengapa dunia Islam tampil menjadi penyelamat ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya Filsafat Yunani Kuno. Pertaman, dorongan keagamaan seperti terlihat dari nash-nash Al-Qur’an. Kitab suci ini, banak membicarakan pentingnya ilmu pengetahuan bagi hajat hidup manusia.
Kedua, harus diakui bahwa kira-kira etelah serratus tahun wafatnya Nabi Muhammad, orang Islam telah berhasil melaksanakan tugas mereka untuk menguasai sesuatu, khususnya wilayah kekuasaan Islamiah. Kekuasaan Islam yang dibentuk dalam rumus khilafah Islamiyah, telah berkembang bahkan masuk ke berbagai benua. Dengan dari sisi ilmu, pengetahuan sejak abad ketujuh sampai dengan abad ketiga belas masehi. Dari sisi politik, bahkan baru berakhir pada abad kedua puluh.
4.      Pemikir Brilian Muslim Mediterania
Pagi itu, duyunan santri dari berbagai daerah kabupaten Kota Priangan Timur hadir. Memadati pelataran parker di sekitar Masjid yang membentang di jalan utama sebuah Kabupaten di Priangan Timur Selatan.
Kiai sepuh pondok pesantren itu, meminta Bert hadir dalam acara reunion dan haulan pesanten yang telah hampir dua puluh tahun tak pernah dijamah Bert dan kawan-kawannya yang menybar entah dimana dan kemana. Bert diminta kiai sepuh utnuk memberi semacam motivasi kepada junior-juniornya agar mereka memiliki semangat menghidupkan kembali duna Islam dan tradisi keilmuan Muslim yang genuine.
Setelah uluk salam, puji syukur dan permohonan maaf serta rasa syukur atas kesempatan untuk berdiri di forum dimaksud, Bert memuji pesantrennya sebagai perspektif Muslim.
Bert kemudia bekata: Aku bingung dan sangat bingung. Umat Islam Indonesia selalu memuja keberhasilah dunia Islam di Mediterania, tetapi, selalu menghujat kaum Muktzilah yang justru menjadi salah satu peletak keberhasilan dunia Islam itu sendiri.
Ia melanjutkan perkataannya dalam kalimat tanya: “Bukanlah tokoh seperti al-Farabi (950 M), al-Biruni (973-1048 M), Ibnu Al Haitam (965-1039 M), Al-Kindi dan Al-Razi (1209 M) yang terkenal dengan komentar-komentarnya terhadap filsafat Aristoteles. Al-Razi bahkan dinobatkan bukan saja oleh masyarakat Muslim, tetapi juga oleh penganut agama lain sebagai guru kedua setelah Plato, itu semua hadir dengan ideology rasionalnya?
Gaya sompral Bert ini, cukup mencengangkan.
Suasana santri agak mulai senyap ketika Bert, mulai mengurai ilmuwan-ilmuwan Muktazilah.
Saya, kata Bert tak berharap, bahwa kita tumbuh menjadi “pembunuh” ilmuwan. Kita justru harus berdiri sebagai penyelamat ilmu pengetahuan dan memberi penghormatan yang tulus kepada merek ayang berjasa dalam mengembangkan ilmu. Termasuk jika mereka yang mengembangkan ilmu itu, tidak memiliki nilai pertaliannya dengan ideolgi yang kita anut, atau bahkan dengan mereka yang memiliki akar keagamaan yang berbeda dengan kita sekalipun.
Selesai melaksanakan kajian dimaksud, Bert melingkar bersama para alumni dan kiai serta sepuh Pesantren dimaksud. Menarik disebut bahwa dari semua paparan yang disampaikan Bert atas fenomena dimaksud adalah, ketika kiai sepuh meyakinkan bahwa apa yang disampaikan Bert sebagai kebenaran sejarah.
5.      Produk Metodologi Muslim Mediterania
Jika benar intelektual Muslim awal mampu menjadi pelopor lahirnya ilmu praktis, metode apa yang digunakan masyarakat Muslim dalma mengelaborasi ilmu? Pertanyaan ini, lama dan cukup panjang menyita pemikiran Bert.
Untuk kepentingan dimaksud, Bert bersama grupnya kemudia menyelenggarakan kajian khusus dalam studi lingkaran yang disebut dengan Central of Philosophy and Social Problem Studies. Sampailah pada suatu waktu, Bert bersama Nanan, Dudung, Abdusalam dan Kikim Tarkim, menyimpulkan nalar ilmiah berdasarkan dimensi historis Intelektual masyarakat Muslim.
Bert membagi tiga metodologi ini, ke dalam tiga grup yang rutin mereka laksanakan. Tarkim diberi tuhas untuk mengkaji metode bayani, Nanan dan Dudung diminta untuk mengkaji metode Burhani dan Bert sendiri akan khusus mengkaji soal metode irfani.
Bayani dalam analisis Kikim Tarkim, adalah pengakuan bahwa sumber ilmu tidak hanya harus empiris dan rasional, tetapi juga harus memiliki patokan dasar ilahiat. Patoka ilahiat itu bisa berupa Al-Qur’an, Injil, Taurat, dan Jabur. Model berpikir semacam ini, dalam dunia Islam biasanya dilakukan dalam konteks penelaahan terhadap ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi.
Bert temangut-mangut menyaksikan mitramitra diskusinya berpikir dengan cemerlang. Bert ikut menimali pikiran dimaksud dengan menyatakan bahwa Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (767 M) adalah salah satu imam mazhab dalam bidang fiqih di kalangan teologi sunni. Bert mengatakan bahwa Abu Hanifah adalah sosok pertama yang mendeklarasikan analogi atau qiyas sebagai sumber hukum dalam Islam.
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Abu Abd Allah al-Syahbani (780-855 M/164-241 M) adalah fuqaha dan teolog penting di kalangan masyarakat Muslim sunni lainnya yang juga melahirkan produk fiqhiyah. Bert menjelaskan bahwa sheikh al-Islam yang disematkan kepada Ahmad Ibn Hanbal, adalah gelar kehormatan yang agung bagi kelompok sunni.
Bagian metode irfani, digelar secara serius oleh Bert. Bert mengawali pembahasan irfani di forum itu dengan memberi penjelasan irfani dan disebutnya sebagai modelpenalran yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman spiritual langsung (direct experience) seseroang di balik realitas yang tampak.
Bert dalam narasi lebih lanjut mengatakan bahwa lahirnya kaum sifustik Muslim dengan menggambarkan tiga tokoh besar yang lahir karena metode ini. Ketiga tokoh itu adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah al-Hatimi, yang kemudian dikenal dengan nama Ibnu al Arabi (1165 M).
Bert menjelaskan bahwa dalam tradisi Islam, belajar tidak selalu berasal dari guru yang tunggal. Itulah tradisi intelektual Muslim, kata Bert menyakinkan. Kamu tidak boleh dan tidak harus hanya berguru kepada satu kelompok. Bergurulah dengan banyak orang dan banyak komunitas.
Gagasan sufi Ibn Arabi dikenal publik dengan rumusan wihdatul wujud (kesatuan wujud) antara manusia dengan penciptanya. Melalui gagasan ini, kata Bert yang sempat mempresentasikan gagasan ini di Banda Aceh, dalam pandangan Ibnu Al Arabi, semua wujud yang ada sebenarnya hanya satu sebab wujud makhluk pada hakikatnya wujud khalik pula.
Bert meyakinkan ulang bahwa sufi awal Muslim bukan hanya sangat puitus, seperti Rummi misalnya, tetapi juga sangat filosofis radikal. Ibn Arabi misalnya memandang manusia dana lam sebagai cermin yang memperlihatkan (mirror) Tuhan,  sebagaimana al Jilli katakana.
Dalam posisi yang demikian menengangkan peserta, Bert memberi kesempatan kepada tarkim untuk berkomentar atas gagasan ilmu al Arabi ini. tarkim mempertanyakan bagaimana ketika Tuhan berkehendak dengan nama-nama bagus-Nya yang berada di luar hitungan, esensinya bisa dilihat? Bert dengan tangkas menyatakan bahwa itulah Dia yang menyebabkan nama-nama itu bisa dilihat dalam sebuah wujud mikrokosmik, karena eksistensi meliputi seluruh objek penglihatan dan melalui itu pulalah kesadaran terdalam Tuhan menjadi termanifestasikan di hadapan-Nya. Itulah yang kemudia disebut makhluk.
Tarkim mengangguk meski sangat sulit menerima gagasan ini.
Tokoh lain dari kaum sufi, kata Bert adalah Rabi’ah Al Adawiyah binti Ismail al Adawiyah al Bashriyah (94-185 H). Ia dikenal dengan nama Rabi’ah al Adawiyah. Bert menjelaskan bahwa ajaran Cinta Rabi’ah al Adawiyah memiliki hakikat makna yang sesungguhnya. Cinta rabi’ah al Adawiyah adalah cinta ketuhanann yang sulit dielaborasi pasti, baik melalui kata maupun symbol. Cinta Rabi’ah adalah cinta spiritual, bukan al-hubbi al-hawa atau cinta lain yang bersifat basyariyat.
Problemnya, Nanan dan Dudung Abdusalam menimpali, dari berbagai diskusi yang digelar sejak tiga mingu terakhir, apa yang dapat disimpulkan dari tiga metodologi yang di-create intelektual Muslim?
Melalui ketiga metodologgi itu kata Bert, ilmu pengetahuan telah berhasil mencapai titik optimum dengan capaian yang luar biasa.  
Dari berbagai nalar di atas, aku kata Bert, dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan dalam visi keislaman seperti terlihat tadi, diakui keharusannya oleh tokoh sekelas Syad Husein Nasr (1992). Menurutnya, model sintetik atas runyamnya basis keilmuan yang selama ini muncul, sangat mendesak untuk dilkaukan perubahan paradigm.
Cara kerja ilmuwan berdasarkan metodologi di atas, dalam realitas sejarah Islam memang tidka selalu seiring sejalan. Namun, jika kita mencoba menganalisis dalam pendektan sejarah, runutu perkembangannya teradi mulai dai pendekatan bayani, burhani dan kemudia irfani.  Masing-masing metodologi ni, satu sama lain telah melahirkan basis keilmuan yang berbeda.
6.      Pudarnya Tradisi Ilmiah Muslim Mediterania
Jika intelektual Muslim demikian besar memberi pengaruh atas perkembangan dunia ilmu dan peradaban dunia, lalu mengapa hari ini, Islam justru berada dalam barisan terbelakang dibandingkan misalnya dengan delapan agama ain di dunia. Bert selalu tergangun dengan situasi ini dan ia ingin tahuh apa yang tmenjadi penyebab kemunduran masyarakat Muslim ini.
Suatu hari Bert membaca pikiran Rasyid Ridha Intelektual Muslim abad ke-19 yang mengembangkan pikirannya di Universitas AL-Azahr Kairo. Bert bertemu dengan pemikirannya yang mempertanyakan: Kenapa Masyarakat Muslim tertinggal? Dengan bacaannya yang menyimpulkan bahwa kemunduran Islam, karena komunitas ini meninggalkan tradisi Muslim yang intelek. Intelektualitas adalah budaya Muslim dan ini ditinggalkan, cetus Bert suatu hari.
Seiring dengan menurunnya minat masyarakat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan bahkan melakukan penolakan terhadap filsafat, dunia Barat mengambil manfaat dari kekalahannya pada Peran Salib untuk mengambil ilmu dan peradaban yang dibangun masyarakat Muslim.
Sehingga jika mau sedikit jujur, peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan yag berkembang di Barat saat ini, adalah suatu proses penting yang telah dilintasi dunia Islam. Dunia Islam bahkan menjadi “transmisi” yang cukup signifikan dan cukup efektif bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat Modern (A. Khudori Sholeh, 2004: xxii).



VI
BARAT MODERN DAN TRADISI TEKNISME

1.      Masuknya Tradisi Ilmu ke Dunia Barat
Suatu malam sehabis melaksanakan salat Isya bersama Kaisar, Bert duduk bersila. Salat yang diimami Kaisar dengan muazin Marhum itu, terasa syahdu karena ayat-ayat yang dibacanya begitu memesona. Sehabis melaksanakan salat isya itu, Kaisar meminta Isah untuk segara menyediakan makan malam.
Kaisar mengawali pembicaraan malai itu. Ia mengatakan mengapa dunia Islam terbelakang dan mnegapa Barat maju dalam episode terakhir? Bert dan Marhum berdiam diri. Dalam suasana seperti itu, kaisar kembali mengambil ali hpembicaraan, ia mengatakan bahwa Barat maju karena filsafat Averros (Ibnu Rusyd) yang cenderung Aristotalian masuk ke Eropa melalui Cordova, Spanyol. Di zaman dulu, Spanyol adalah negeri jajahan umat Islam.
Ketika Kaisar mengatakan Spanyol sebagai negeri jajahan umat Islam, Bert terperanjat dan kemudian bertanya. Apa betul dunia Islam pernah menjajah? Bukankan penjajahan sanagt dilarang dalam prinsip-prinsip Islam?
Kaisar dengan landau menjawab: Bagamana mungkin aku tidak harus mengatakan penjajahan, sebab selam ahampir 500 tahun dunia Islam bercokol di sana, hamper tidak ada bangsa Spanyol yang masuk Islam. Karena itu jangan heran ya, kalau ternyata Spanyol sampai hari ini memiliki tradisi Islam yang kuat, meski masyarakatnya tidak lagi ada yang muslim.
Ibnu Rusyd telah mewariskan sesuatu yang bersifat kualitatif dalam bidang pengetahuan dan teknologi, kata Kaisar. Tanpa peran masyarakat Muslim, tentu ilmu yang bertumbuh di Yunani, di Iskandaria, dan beberapa kota di Turki, agak sulit untuk dikembangkan.
Bert memuncratkan suatu pertanyaan mendasar, bagaimana kronolgi itu berjalan?
Kaisar lalu menjawab: “Ibnu Rusyd memiliki karya yang mashyur, judulnya tahafut ala tahafut al falasifah al Ghazali. Ini adalah buku filsafat yang mewakili pemikiran Aritoteles. Pikiran Aristoteles ini, bukan saja sempat diharamkan dunia Kristen Awal, tetapi juga, dilawan Al Ghazalai di Timur Tengah, jelang keruntuhan imperium kelimuan dunia Islam.
Tetapi, kata Marhum menimpali, jangan lupa bahwa al Ghazali sendiri sebenarnya filsuf. Hanya saja, doktri filosofi al Ghazali cenderung sangat Platonik dan Soeratian.
Bert kemudian bertanya, mengap alairan dalam filsafat sama dengan aliran dalam teologi. Mereka selalu saling meyalahkan keyakinan yang lain. Kaisar dan Marhum tertawa simpul.
Lalu dimana aku harus menempatkan Ibnu Rusyd dalam kaitannya dengan kemajuan Barat temporer? Kata Bert. Kaisar mengatakan: “setiap cara bepikir aan berpengaruh secara langsung terhadap cara bertindak. Bagaimana manusia bertindak dan berbuat, itu didorong oleh corak berpikirnya.” Ibnu Rusyd yang sejatinya Aristotalian itu, sjatinya mengubah mindset masyrakat Barat untuk memiliki kesadaran empiris.
Bert dan Marhum menganggukkan kepalanya tanda setuju dan kagum. Diskusi selesai di situ. Mereka berdua meninggalkan meja makan.
2.      Ilmu dan Paradigma Barat
Suatu siang setelah empat minggu seabis diskusi di malam itu, datanglah serombongan orang Australia dan Inggris ke pedalaman kampong di mana Kaisar dan Bert tinggal.
Di antara sekian banyak warga sing yang datang ke tempat itu, ada beberapadi antaranya merupakan orang Indonesia, meski sama memakai Salib, tetapi cenderung agak arogan. Buktinya baru kurang lebih dua bulan tinggal di kampong itu, ia mulai menggoda umat Islam setempat untuk meninggalkan tradisi dan bahkan ajaran agama Islam yang mereka anut.
Sampailah berita ini kepada Marhum. Akhirnya, Marhum melaporkan kejadian dimaksud kepada kaisar di suatu malam dua hari setelah kejadian itu.
Malam itu, Kaisar dengan lebut berkata kepada Marhuhm, biarkan saja. Orang Kristen itu, belum tahun bagaimana kontribusi Umat Islam terhadap mereka. Kaisar lebih lanjut mengatakan, adalah sah karena dengan fakta sejarah jika harus dikatakan ahwa kepeloporan revolusioner, dilakukan umat Islam telah menyebabkan lahirnya “anak kandung” renaissance dan aufklarung di Barat dan Eropa.
Dari mana kita harus mengatakan bahwa pemikiran mereka dipengaruhi dunia Islam dan siapa yang memberi pengaruh atasnya, tanya Bert suatu malam kepada Kaisar. Kaisar kemudia mengatakan bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan mengapa Barat dan Eropa pada akhirnya mengenal peradaban. Kedua faktor ini adalah:
Pertama, masuknya filsafat Ibnu Rusyd yang Aristotalian dengan sendirinya membawa serta pemikiran filsuf lain di generasi sebelum Ibnu Rusyd.
Kedua, ketika terjadi perang salib selama kurang lebih tiga abad di Timur Tengah, umat Islam tidak kalah oleh masyarakat Kristen. Saat sebelum perang salib berlangsung, di Eropa dan Barat, peradaban mereka demikian tertinggal.
Saat itu Bert menyela dengan mengatakan: “mereka mencintai ilmu, kok membakar perpustakaan? Kaisar dengan tangkas mengatakan kalau mereka tidak pernah membakar perpusatakaan. Yang membakar perpustakaan, adalah bangsa Barbar dari Asia. Dari Timur Leng.
Oooh yang membuat sungai Tinggris menghitam akibat pembakaran buku itu, bukan bangsa Barat dan Eropa ya, kata Bert! Bukan kata Kaisar.
Marhum tampak kaget dengan pernyataan Kaisar tadi.
Kaisar mengatakan bahwa bangsa Barat dan Eropa yang jauh dari ikmu dan baru belajar peradaban ke masyakarat Timur Tengah saat perang salib dimaksud, terjadi karena perkembangan ilmu demikian mandul.
Aku kata Kaisar, sering mengatakan bahwa dunia ini selalu mencari titik keseimbangan. Jika ada gerakan yang demikian massif untuk membuat sekularisme, maka, pasti aka nada gerakan yang juga bersifat massif untuk melahirkan gerakan sebaliknya. Karen amenjadi dapat dipahami, jika, banyak di antara masyarakat Kristiani yang hendak menunjukkan wataknya sebagai pengikut ajaran agama Kristen yang taat. Salah satunya mungkin yang datang ke tempat kita beberapa waktu ini.
3.      Capaian Barat dalam Dunia Ilmu
Bert menggoreskan tinta biru saat harus menulis capaian yang berhasil dibangun Barat sejak masa kevakuman Islam di abad ke-13, sampai era temporer. Bert kagum atas revolusi ilmu pengetahuan yang dihasilkan ilmuwan dan filsuf Barat Modern yang sampai hari ini terus berkembang. Perkembangan ini semakin memperlihatkan hasil yang maksimal terutama setelah Albert Einstein merombak kerangkan filsafat Newton yang sudah lama mapan dalma jagat ilmu pengetahuan dunia.
Bert membaca dengan tulus pikiran Einstein melalui teori quantum-nya. Melalui karya Einstein ini, manusia modern dapat mengembangkan ilmu dasar, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi dan molekuler yang pada tahap tertentu telah dibangun di Yunani dan Dunia Islam, menjadi ilmu pengetahuan yang demikian luas dan mendalam.
Berbeda dengan tradisi ilmuwan Muslim, dunia Barat membangun peradaban, salah satunya melalui karya filosofis Ibnu Rusyd, ternyata dalam lapangan paktis selalu mengabadikan “keperkasaan” Yunani Kuno ke dalam hampir setiap wilayah kehidupan mereka dan ternyata cenderung tidak apresiatif terhadap masyarakat Muslim, kecuali dalma jumlah yang sedikit.
Yunani Kuno, sebagaimana biasa Bert bacar dari tulisan Akbar S. Ahmed terus memengaruhi peradaban Barat. Padahal sekali lagi kata Bert, dunia Islam tidak luput memberi apresiasi bahkan menjadi penyelamat filsafat Yunani Kuno dan menempatkan dalam supremasi peradaban dan ilmu. Karena itu, kata Bert, dimensi teknologi dimasa keemasan Barat modern saat ini, sesungguhnya tidak dapat dipaskan dari ide-ide normative yang dibangun masyarakat Muslim. Dengan bahasa lain, Barat, harus dicatat telah memiliki utang budi yang banyak kepada dunia Islam, khususnya ketika mereka melahirkan Peradaban.




VII
SEJARAH YANG HILANG

Tidak Perlu Disembunyikan
            Bert mengayunkan kakinya dengan pelan. Matanya berbinar dan cenderung lembap. Meski dalam suasan yang demikiann remang, kegelisahan Bert tetap tampak dan dapat dilihat dengan jelas oleh siapa pun yang sempat melihat atau menengok ke kamarnya.
            Isah pembantu rumah tangga itu, melihat dengan jelas dengan Bert lagi galau. Rayapan senja berjalan pelan mengiringi putaran waktu, sampai suara azan Maghrib dikumandangkan. Bert tetap diam dan tidak beringsut di ruang kamarnya tanpa ada yang menemani.
            Dengan berbagai jurnal yang dibacanya, Bert yang bangga pada agama yang dianutnya itu, akhirnya telah menyembulkan suatu harapan besar bahwa dunia Islam tidak seperti banyak pihak mempersepsinya.
            Dunia Islam misalnya, kata Bert, meski hari ini jauh tertinggal dibandingkan dengan dunia Barat yang Kristen, bahkan jauh tertinggal dibandingkan dengan penganut dengan agama lain yang ada dimuka bumi. Di era Islam ini, filsafat yang berkembangan di Yunani, dalam beberapa hal bahkan telah “dibumikan” ke dalam teori-teori pengetahuan yang praksis dan mapan, selain tentu mengandung nilai spiritulitasnya yang tinggi.
            Jika pelacakan ini diteruskan, kata Bert, Barat dengan semboyan dan kesombongan modernitasnya, sebenarnya harus mengakui bahwa kemajuannya selalu merupakan lanjutan logis dari perkembangan pemikiran manusia sebelumnya.
            Bert mengutip Kuhn, mengilustrasi bahwa setiap komunitas masyarakat, setiap fase dalam sejarah kemanusiaan, selalu tersedia paradigm sesuai dengan konteks waktu dan tempat. Asumsi inilah yang dijadikan alas berpikir Bert.
            Ilmuwan Muslim ternyata berbeda dengan epistemology sebelumnya, baik pada Kristen Awal maupun pada Yunani Kuno.
            Fakta menunjukkan bahwa umat Islam mengambil sikap kompromistik dalam bingkai sains dan kemudian Barat mengambilnya dengan sikap keilmuwan, seperti Yunani Kuno. Dunia Barat mencerabut akar keilmuan yang kudus, kea rah ilmu yang benar-benar sekuler. Akibtanya, gugatan terhadap capaian pengetahuan dunia Barat, terasa sangat kencang.
            Padahal jika mau sedikit jujur, capaian teknologi dunia Barat, sebenarnya kata Bert, mereka gagal mencapai tujuan terbentuknya manusia yang memiliki keterampilan duniawi manusai yang lebih abadi. Lebih eternal dan tentu bertujuan Surgawi. Lalu bagaimana hal itu dapat terbentuk, jika dalam konteks penghormatan pun tidak mampu kita tunaikan, terlebih jika kita berupaya untuk melupakannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belum Cukup Umur

Anak Jalanan

Ilmu Bahasa dan Budaya