[RESUME] Filsafat Pengetahuan
BAB I
FILSAFAT PENGETAHUAN
1.
Pendidikan dan Logika Berpikir
Pendidikan
Indonesia, berada dalam kebingungan akut. Ia dianggap gagal memainkan perannya
dalam proses pencerdasan output yang terlihat dari kecilnya indeks prestasi
peserta didik ketika mengakhiri studinya dalam Ujian Nasional di jenjang
pendidikan dasar dan menengah, meskpun standar kelulusannya, dinilai terlalu
rendah jika harus dibandingkan dengan standar kelulusan beberapa negara
tetangga di Asia Tenggara.
Dalam
analisis Cecep Sumarna, sebenarnya ada persoalan lain yang jauh lebih rumit.
Misalnya, dalam soal ketidakmampuan dunia pendidikan dalam membentuk dimensi
kualitatif peserta didik yang solusinya hanya dapat dilakukan melalui kegiatan
berpikir jernih dalam mengaktivasi psikis peserta didik ke dunia yang abstrak,
yang prosesnya tidak dapat diamati hanya dengan menggunakan alat indera
manusia.
Kegagalan
substantive dimaksud, salah satunya, menurut penulis terletak pada rendaynya
dunia pendidikan dalam menumbuhkan kreativitas berpikir peserta didik.
Padahal,
kreativitas adalah potensi dasar manusia, yang jika dikembangkan, maka hasilnya
akan jauh lebih signifikan manfaatnya bagi hajat hidup manusia.
Teori
yang mengasumsikan bahwa pendidikan diperankan langsung dengan kemandirian
seseorang, ternyata gagal diperankan. Tingginya tingkat pendidikan seseorang,
justru telah meningkatkan beban baru baik bagi pemerintah maupun bagi stakeholder. Kaum terdidik malah sering
menjadi bagian yang memperkuat baisi ketergantungannya terhadap dunia kerja
yang terbatas. Akhirnya, pengangguran kaum terdidik terus meningkat dengan
cepat karena adanya ketidakseimbangan antara supply dengan demand.
Virus
lemahnya dunia pendidikan dalam menumbuhkan kreativitas berpikir peserta didik,
ternyata tidak hanya berlaku untuk mereka yang belajar di jenjang pendidikan
dasar dan menengah. Di lingkup Pendidikan Tinggi pun, virus ini, ternyata masih
sangat sulit dientaskan.
Cecep
Sumarna melihat, penting segera melakukan pembenahan pembelajaran mulai dari
pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Pembelajaran yang mengaransemen
semangat individu peserta didik dalam menyelesaikan masalah. Salah satunya
diwujudkan dalam bentuk melatih mereka untuk menyelesaikan persoalan yang
sebelumnya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Salah satu bidang yang dapat
mendongkrak cara berpikir itu, adalah penguasaan bidang tertentu yang dalam
kajian buku ini disebut dengan Filsafat Pengetahuan.
2.
Mengapa Filsafat Pengetahuan
Banyak
pihak menganggap bahwa Filsafat Pengetahuan hanya cocok diberikan untuk mereka
yang belajar di S2 atau S3. Mahasiswa yang menurut terminology dimaksud sudah
dapat dan layak berpikir. Halite dianggap jauh untuk disebut cocok bagi mereka
yang belajar pada jenjang strata S1 atau program vokasional. Jenis apa pun
pendidikan mereka.
Jika
mata kuliah ini diajarkan dalam proporsinya yang teoat, ia dapat memberi arti
akan pentingnya penemuan orientasi, tujuan, jalan dan peta kehidupan seseorang.
Ia bukanhanya menelusuri perkembangan kekinian yang bertumpu pada kajian
kesadaran diri, baik pada aspek kognisi (intelektualitas); afeksi maupun
psikomotorik, tetapi juga pada ruang-ruang hidup yang kompleks.
Mata
kuliah ini mengkaji perkembangan ilmu, karakter keilmuan dari zaman ke zaman
dan bagaimana masing-masing karakter dimaksud berpengaruh dan dipengaruhi
budaya dan peradaban yang mengitarinya. Sumbangan apa yang pernah diberikan
masing-masing ilmuwan dari setiap fase peradaban dan bagaimana setiap fase peradaban
itu membentuk zaman.
Filsafat
pengetahuan dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis
melalu berbagai observasi dan eksperimen
yang melahirkan berbagai percabangan ilmu. Realitas menunjukkan bahwa hamper
tidak ada satu cabang ilmu yang terlepas dari filsafat atau serendahnya tidak
terkait dengan persoalan filsafat. Bahkan untuk kepentingan perkembangan ilmu
itu sendiri, lahir suatu disiplin filsafat yang khusus mengkaji ilmu
pengetahuan. Rumusan ilmu dimaksud disebut filsafat pengetahuan, yang
berkembang dalam cabang baru yang disebut sebagai filsafat pengetahuan.
3.
Mengapa Ditulis
dalam Bentuk Novelat
Pertama, dalam perjalana panjang Cecep Sumarna sebagai dosen
pengampu Mata Kuliah Filsafat Pengetahuan, Cecep Sumarna banyak bertemu dengan
mahasiswa yang sebenarnya gemar berpikir, tetapi tidak gemar membacaapalagi
gemar menulis. Terhadap situasi ini, langkah pertama yang dilakukan oleh Cecep
Sumarna adalah mengusulkan nama Mata Kuliah ini menjadi Filsafat Pengetahuan
dan Metode Berpikir. Kata metode berpikir, menjadi penting, sebab, tekanannya
pada bagaimana peserta didik terlatih berpikir benar agar ia mampu bertindakan
benar.
Tulisan
dalam bentuk Novelat ini, pasti sedikit banyak meringankan cara kerja orang
dalam bentuk berpikir, minimal ketika mereka membaca dan mendiskusikan sesuatu
yang tersaji dalam bidang ini.
Kedua, Cecep Sumarna memiliki cita-cita yang dalam anggapan
tertentu layak disebut mulia, yakni bahwa pikiran-pikirn yang tertuang dalam
kajian filsafat pengetahuan dan metode berpikir yang kemudian saya namakan
dengan filsafat pengetahuan, itu sangat strategis dalam pengembangan
kreativitas berpikir orang.
Karena
itu, kajian semacam ini, tidak hanya dituntut untuk masyarakat akademik, tetapi
juga masyarakat yang bersifat massif dan public. Jika kajian ini murni disusun
dalam kerangka tertentu, maka, pikiran semacam ini seolah hanya milik kelompok
tertentu.
Tulisan-tulisan
yang ringa, mudah dicerna namum memiliki efek besar, hanya terdapat dalam
bentuk sastra salah satunya dalam suatu karya Novelat. Dalam karya semacam ini,
akan terjadi proses dialogis, karena sajian terujar dalam kalimat-kalimat yang
dialogis juga.
Ketiga, secara historis, ilmu terlahir karena filsafat.
Ternyata, dalam kasus tertentu, filsafat lahir karena budaya sastra, budaya
seni dan budaya frasa rakyat. Kegiatan filsafat sejatinya kegiatan umum
manusia, yang ada sejak manusia bisa berpikir.
II
GERAK DINAMIK DARI
MITOS KE LOGOS
1.
Evolusi Ilmiah
Tersebutlah kisah sebuah keluarga unik
yang tinggal di pedalaman. Suatu lokus di mana peradaban dunia belelum
tersentuh dan menyentuh dirinya. Ia ajek dalam posisinya sebagai wilayah
higienis dalam konteks peradaban dunia. Ia selalu berdiri dalam lakon khusus
sebagai daerah peradaban dalam persentuhan budaya luar.
Keluarga ini ingin menjadi lakon khusus
yang terkisahkan dalam dunia tentang perjalanan heroisme yang penuh liku di
tengah seperti gelombang kehidupan yang kompleks.
Keluarga ini memiliki noktah khusus
sebagai pewaris pemikiran aneh menurut ukuran waktu, tempat dan zaman yang
mengitarinya.
Keluarga ini memiliki enam anak dengan
tipikal satu sama lain yang sangat beragam dan terkesan berbeda. hany ada satu
dari sekan anaknya itu yang mampu mengikuti langkah Kaisar dalam beberapa hal
yang menjadi kebiasaannya. Anak itu dala buku Filsafat Pengetahuan diberi nama
Bert, yang memiliki tabiat seperti Kaisar, yakni rajin membaca.
Kaisar selalu mengajak Bert, untuk terus
membaca dan berpikir. Ia meminta kepada anaknya itu, merenungkan segala
dinamika social yang terjadi pada segenap budaya di sekitar mereka dan membaca
berbagai referensi kehidupan untuk menambah wawasan hidup yang mereka jalani.
Diskusi dan refleksi mereka, selalu digelar dalam berbagai kesempatan, tentu di
rumah mereka sendiri. Diskusi di rumahnya itu, kadang dilakukan di depan tungku
api, atau di pematang sawah dan kebun sambil melihat bagaimana pada dan tanaman
palawija mereka tumbuh dan memberi harapan akan kehidupan mereka. Kegiatan
berpikirnya melesat, saat menghadapi persoalan hidup yang rumit dan kompleks.
Diskusi yang terekam dalam tulisan Bert
misalnya berkisah tentang teknologi informasi. Di depan tungku api, untuk
pertama kalinya, sebuah televise swasta bernama TPI (Televisi Pendidikan
Indonesia) tayang.
Melalui TPI ini, menurut Kaisar telah
menambah jumlah siaran televise yang sebelumnya hanya dimonopoli TVRI. TPI
mulai menanyangkan aneka ragam acara yang sangat berbeda dengan siaran TVRI
dalam bentuk berita beragam dan film menarik lain sebut misalnya Little Missy
atau Serial Negara Hindustan seperti film Mahabharata.
Ia berkata: Anakku, abad baru telah
muncul. Abad di mana kamu tidak lagi murni menjadi manusia desa. Abad ini akan
membawa kamu ke alam luas karena dunia akan sekami dipersempit. Kamu akan
dibawa ke mancanegara dengan sejumlah masalah yang melingkupinya. Aku akan
menyaksikan bagaimana dunia dibangun manusia ddan memberi efek simultan
terhadap diri amu dan pengetahuan kamu tentu saja.
Di satu sisi Kaisar mengatakan bahwa ala
mini luas, tetapi, yang luas itu dipersempit. Dipersempit bukan dalam bentuk
fisik (form) tetapi dalam cakrawala
dan aksi nyata dalam bentuk berita dan kemudahan akses yang menjangkau dunia
yang sebelumnya dianggap sulit dilalui. Kaisar tahu apa yang dipikirkan lalu ia
mengatakan, inilah bagian diaklektikal berpikir.
TPI ini telah menyakinkan diri bahwa ciri
produk sejarah manusia selalu bersifat dinamis dengan cirinya yang terus
berubah. Inilah salah satu anak turunan dari ilmu. Ilmu lahir karena ada
filsafat.. Ilmu melahirkan anak baru bernama teknologi. Teknologi melahirkan
sejumlah anak lagi, salah satunya teknologi informasi.
Bert makin bingung terlebih ketika Kaisar
menyatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi, pasti merupakan anak
turunan dan menjadi lanjutan dari satu fase ke fase lain atau dari satu
peristiwa ke peristiwa lain. Fase dan peristiwa itu sendiri juga dipengaruhi
fase dan peristiwa lain sebelumnya.
Kata Kaisar, melihat bahwa tidak ada satu
generasi pun di lingkup makhluk bernama manusia, yang mampu menjadi ciri
kebaikan murni atau keburukan murni. Inilah makna lain dari kenapa Adam
terpaksa melakukan tawaf sebagai bentuk pertobatannya setelah melalui proses
sanksi Tuhan ia akhirnya diampuni.
Kata Kaisar, secara teoritis, manusai
berbeda dengan Malaikat yang homogeny untuk menjadi pengabdi secara total
kepada Tuhan. Mengabdi kepada seluruh titah Tuhan tanpa pernah memiliki
kompetensi untuk memikirkan kenapa Tuhan memerintah sesuaty atasnya apalagi
menolak apa yang diperintahkan kepadanya. Apa pun dan dalam keadaan seperti apa
pun, Malaikat selalu tunduk dan patuh kepada kekuasaan Tuhan tanpa reserve sedikit pu.
Manusia juga berbeda dengan setan yang
sejak diciptakan selalu menjadi musuh manusia, meski sama seperti makhluk lain
tercipta karena rasa cinta Tuhan. Tidak ada tempat bagi kedamaian ala alam
manusia apalagi ala alam malaikat, di segenap alam setan.
Kaisar mengetahui pikiran Bert yang mulai
pusing atas apa yang disamapikannya di pagi itu. Namun bukan Kaisar namanya,
jika ia harus menghentikan pembicaraannya dan tidak memberi ruang untuk mencari
celah yang menyegarkan pemikirannya. Ia melanjutkan pembicaraan dengan
mengatakan bahwa: Secara ilmiah, tidak aada seustau yang terjadi karena dirinya
sendiri tanpa ada faktor dan pendukung lain atau dampak lain yang lahir
karenanya.
Kaisar dalam benak Bert itu, seperti
hendak menampakkan dirinya sebagai sejarawan kritis ala Ibnu Khaldun (1332-1406
M) ketika tokoh ini membicarakan soal manusai dan bagaimana manusai melakukan
relasi dengan manusai lain, relasi manusai dengan alam dan tentu relasi manusia
dengan Tuhan.
Kaisar dalam anggapan Bert, jug atampaknya
yakin bahwa hanya dengan kesuburan sebuah daerah, persoalan agam akan dapat
disuburkan dengan baik. Bicara agama akan menjadi nonsence, jika tidak dibangun mental kesuburan daerha di mana agama
itu harus dikembangkan.
Bert tahu kalau teori Darwin yang
tampaknya diimansi Kaisar tadi, banyak digugat ilmuwan, termasuk berbagai
diskusi yang diselenggarakan Bert sendiri bersama rekan-rekannya di Padepokan
Intelektual. Dalam soal ini, Bert sesungguhnya ingin mendebat Kaisar meski
dengan cara yang pelan. Ia menyuguhkan sejumlah argumentasi atas penolakan
teori yang dikembangkan Kaisar ini. Bert akhirnya tidka tahan untuk bertanya,
Kaisar jika demikian, berarti dirimu dapat disebut sebagai pengikut Darwin?
Kaisar sedikit menghela napas dan
mengulumkan senyum kecil. Lalu ia menjawab bahwa kontribusi ilmiah atas proses
evolusi Darwin harus diakui telah membuat Biologi menjadi kajian atraktif untuk
diteliti. Kaisar mengatakan : Bert kamu harus tahu bahwa di ala mini, selalu
ada unsur yang secara genetic tetap diwariskan kepada generasi sesudahnya.
Bert kamu harus tahu bahwa Darwin bersama
Alfred Russel Wallace (1823-1913 M), justru telah memberi sumbangan besar dalam
kajian biogeografi dunia. Melalu karya mereka yang telah terpublikasi sceara
massif di waktu dulu, menyimpulkan telah terpublikasi secara massif di waktu
dulu, menyimpulkan bahwa suatu teori ilmiah harus mampu menyimpulkan bahwa pola
percabangan evlusi selalu dihasilkan dari sebuah proses yang disebutnya sebagai
seleksi alam. Seleksi ala mini dapat menjadi media perjuangan akan keberadaan
sesuatu. Konsep ini memiliki efek sama dengan seleksi buatan yang terlibat
dalam permuliaan selektif. Gagasan ini, dikembangakn bersama keduanya melalui
naskah bersama yang terbut pada tahun 1858 Masehi.
Bert diam dan sangat ambigu. Ia bingung
karena doktrin teologi yang dia anut, sangat keras menolak pikiran Darwin.
Tetapi, ia mencoba dan terus tadi dalam konteks tertentu sangat tepat untuk
digunakan, termasuk dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan.
Pikiran Bert mulai terbuka ketika
tiba-tiba ia berimajinasi ke masa lalunya. Nalar Darwin yang disampaikan
Kaisar, telah membuata dirinya kadang heran ditolah, sebab dalam kasus tertentu
teori ini sulit ditolak.
Bert di pagi itu, akhirnya terdorong untuk
meraguan teologi yang dimaninya. Ia menyatakan kepada Kaisar bahwa dia akhirnya
ragu atas teologinya yang menolak teori Darwin.
Persoalan lainnya, kata Bert pada Kaisar,
kita juga tahu bahwa benda-benda yang melekat dalam mobil itu, memiliki hak
paten sendiri karena masing-masing dicipta sendiri-sendiri oleh pakar
masing-masing bidang.
Kaisar mengatakan, Bert di kamar kamu juga
ada buku Thomas S. Kuhn. Ia adalah tokoh yang telah meyakinkan dunia, kata
Kaisar, bahwa ilmu bertumbuh secara evolutif atau bahkan mungkin vegetative dan
revolutif. Ilmu selalu ada karen ada eksistensi sebelumnya dan eksistensi
terkininya. Ia selalu melahirkan dampak atas kelahirannya. Itulah makna
terbarukan cetus Kaisar kepada Bert.
Sambil menyeduh kopi pahit, Kaisar
mengatakan bahwa Kuhn telah berhasilmembuat klaim penting mengenai kemajuan
pengetahuan ilmiah. Ia menyebut bahwa dalam bidang ilmu, selalu terjadi apa
yang disebut dengan “pergeseran paradigma”. Pergeseran ini berkembang linier
dan terjadi secara berkelanjutan. Tidak ada yang mursal (terpotong) kata Kaisar
dengan senyum khasnya sebagai pemikir.
Ilmu jika mengutip Kuhn, selalu
memperhitungkan perspektif yang bersifat subjektif dan tidak selalu mengharukan
untuk selalu objektif. Semua kesimpulan objektif, akhirnya didirikan atas
unsur-unsur objektivisme. Inilah yang melahirkna teori kebenaran ntersubjektif atau interobjektif. Keduanya selalu berkoneksi.
Anehnya, saat diskusi itu, mau diakhiri,
televise tiba-tiba mati. Ternyata accu-nya
kehabisan strum maklum di pedalaman itu, belum ada listrik. Akhirnya, acara
yang dinantikan mereka tidak sempat ditontan bersama.
2.
Evolusi Mistik
Bert dan Kaisar, sekali lagi tinggal di
sebuah desa pedalaman, tempat di mana Bert dan Kaisar tinggal, hanya dihampiri
jalan dengan tanah merah yang jika hujan beceknya minta ampun. Sepatu merek Belly
sekalipun, pasti akan cepat rusak jika harus melewati jalan ini, ketika musim
penghujan tiba. Inilah desa yang sebelumnya diejek Bert dan membuat Kaisar
sempat marah kepadanya.
Ada satu kebiasaan Bert muda ketika
tinggal di desa. Di tempat inilah, Bert selalu berjalan kaki ke sana kemari,
dan hamper tidak pernah berhenti, kecuali malam menyergapnya untuk dian dan
memaksanya untuk tidur.
Dalam satu fase, Bert berjalan ke sana
kemari ketika di kampung di mana waktu itu ia tinggal, ada lima orang ibu muda
yang sedang hamil tua. Bingung bukan karena mereka mengandung ketika tidak
memiliki suami. Bert hanya bingung, mengapa ibu-ibu itu bertingkah polah aneh,
tidak logis dan sulit dimengerti.
Bert berjalan dalam keakuannya sendiri
untuk menyakinkan dirinya sendiri mengapa masyarakat kampong menganggap bahwa
jika ada ibu-ibu yang sedang hamil, dianggap disenangi makhluk gaib. Itulah
kebingungan pertama Bert.
Perilaku kelima ibu muda itu melahirkan
sejumlah tanya dalam batin Bert mengapa lima orang yang sedang hamil itu,
khususnya di waktu tertentu dan di tempat-tempat tertentu, tidak dapat
melalkukan aktivitas bebas seperti manusia pada umumnya, di siang hari dan
menjelang maghrib misalnya, danggap sebagai waktu ideal turunya dedemit.
Ketidakmengertian Bert semakin menjadi,
karena bukan hanya karena ada soal waktu pilihan. Lokasi tertentu juga sama,
ada yang dianggap sacral dan menakutkan. Misalnya, di bawah pohon besar, batu
besar, sungai besar dan gunung besar, ibu hamil tadi selalu bertingkah aneh.
Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari
tempat yang dianggap sacral dan berkeramat itu, tiba-tba hujan turun. Muncullah
pelangi.
Namun kemudia Bert dikagetkan, karena
tidak lama setelah itu, tiba-tiba berdatanganlah nenek-nenek dan kakek-kakek
tua dengan membawa warna-warna bunga dan makanan tertentu yang sangat berbeda.
Bert saat itu heran karena masyarakat
menganggap bahwa tujuh warna dalam pelangi, dianggap sebagai tujuh jalan
bidadari dari Surga, dari kayangan, dari dunia maya yang ideal bergerak menuju
bumi yang pragmatis. Apakah betul bidadari turun dari kayangan? Tanya Bert
penuh keheranan. Kayangan yang mana dan bidadari seperti apa yang turun itu.
Keheranan itu semakun menjadi dipikiran
Bet, ketika Hari berubah menjadi malam. Hari itu, ternyata hari Kamis yang
malamnya masuk malam Jumat Kliwon. Di malam tersebut, tiba-tiba penduduk
kampong itu sepi dan senyap.
Selidik punya selidik, malam seperti ini,
dianggap banyak masyarakat bahwa; dea, dedemit dan arwah turun menyapa manusia
di bumi.
Bert bingung dan semakin bingung.
Di tempat lain, Bert juga menyaksikan
tidak sedikit dari masyarakat yang melalkukan pengusiran ruh jahat melalui
pembakarn kemenyan dan penyediaan berbagai bunga dengan warna yang juga
beragam. Hanya Bert menyimpulkan bahwa dua kegiatan tersebut, tujuannya sama
yakni:mengusir makhluk gaib yang
dianggap menakuti manusia.
Malam Jumat Kliwon itulah Bert bergegas
menuju Kaisar. Ia ingin bertanya mengapa banyak masyarakat memandang dan
kegiatan dimaksud dalam perspektif positif.
Sampailah Bert di rumah itu, kurang lebih
pukul 21 malam. Di tempat di mana Kaisar biasa berdiskusi bersamanya, kelihatan
Kasar sedang berdiskusi dengan temannya bernama Marhum yang sering dipanggil
Ahum. Dengan senyum khasnya, Kaisar bersama Ahum berkata, ada apa Bert? Kok
kamu kelihatan pucat sekali?
Bert berkata: Justru dengan malam jumat
Kliwon inilah saya mengalami kebingungan akut yang menyebabkan bukan saja aku
terlambat datang ke rumah, tetapi membuat muka saya pun menjadi demikian lemah
dan pucat. Hati dan pikiranku bergolak mempertentangkan keyakinan konvensional
ini, dengan keyakinan yang saya anut, kata Bert. Masyarakat kita kok demikian
mistis. Bagaimana mengubah situasi ini, tanya Bert kepada Kaisar dan Ahum.
Kaisar berkata: Mengapa harus diubah?
Mengapa kam ibercita-cita untuk mengubahnya. Apa yang salah atas situasi ini
Bert, Ahum menimpali.
Sulit Bert! Situasi itu diciptakan atau
tercipat secara natur, kata Kaisar pelan.
Bert, kata Kaisar pelan, itulah mistis.
Bahasa asingnya mite (mythe). Kamu boleh mengartikan semua
kisah tadi, dengan cerita (prosa) rakyat.
Sssttt…Ahum menyela. Di kampong ini,
banyak tokoh menganggap bahwa mistik seperti cerita tadi,dikaitkan dengan
agama.
Ya, kata Kaisar bersemangat. Agama
misalnya akan memasukkan unsur kegaiban sebagai sesuatu ysng eksis dan haris
dipercaya apa adana. Misalnya, soal kepercayaan akan eksistensi Malaikat, siksa
kubur dan kebangkitan di akhirat kelak.
Kaisar, kata Bert, kalau begitu apa
berarti relasi agama dan msitik, memiliki dua ikatan substantif yang sulit
dipisahkan. Misalnya, dalam letak keyakinan akan eksistensi sesuatu di luar
jangkauan dan nalar manusia, Tuhan atau apapun yang disejajarkan dengan kata
Tuhan misalnya.
Ya, begitu, kata Kaisar pelan. Namun, kamu
mesti hati-hati berucap. Kehati-hatian dalam berucap, termasuk dalam soal
mistik ini, akan menjadi tanda bahwa kamu bijak.
Tetapi, kata Bert, apakah ada relasi
antara mistik dengan legenda? Kenapa kamu bertanya begitu Bert, kata Kaisar.
Sebab, dengan narasi tadi kata Bert, mistik dalam terminologi lain, menurut
saya, sebenarnya dapat juga disejajarkan
dengan legenda.
Legenda sama dengan mistik dalam konteks
posisinya sebagai prosa rakyat.
Ahum menimpali, bahwa mistik dan legenda
juga sama. Ada sisi sama ada sisi beda. Yang berbeda di antara mistik dan
legenda hanya terletak pada anggapan kesucian.
Iya....kata Kaisar. Sewaktu kamu di SD
dulu, mungkin kamu pernah mendengar cerita Sangkuriang.
Bert hampir tidur mendengarkan kehebatan
Sangkuriang. Di zaman dulu, ia sendiri mengakui pernah bercita-cita memiliki
kemampuan seperti Sangkuriang, khususnya dalam kekuatan magis.
Kaisar menggoyahkan tubuh Bert yang hamper
tidur itu. Aaah kamu…kok malah ngantuk, kata Kaisar kepada Bert \. Kaisar
berkata: Bert dengarkanlah, semua perilaku dan cerita di atas, tentu tidak
rasional dan sulit mempeoleh hasil terukurnya apalagi bukti empirisnya.
Jadi, kata Kaisar, mistik adalah keyakinan
yang didorong atas adanya kekuatan luar biasa di luar diri manusia yang sulit
diukur, sulit diempiriskan dan sulit dirasionalkan.
Coba kamu baca kata Kaisar, tulisan De
Kleine W. P. melalui Buku Encylopaedie (1950).
Buku ini dapat juga kamu baca dalam saduran G.B.J Hiltermann dn P. van de
Woestjine. Mereka menyebut mistik berasal dari kata mystiek dan mystikos yang
mengandung arti rahasia (geheim).
Makna lainnya adalah menutup mata (de
ogen sluiten yang mengandung arti hilangnya perspektif empiris.
Sebagai seorang muslim, Bert sesungguhnya
takut dengan soal mistik ini. Lalu ia bertanya kepada Kaisar. Kaisar bagaimana
pandangan Islam soal mistik.
Kaisar menjawab penuh hati-hati. Islam
menurut Kaisar, memperkenalkan misti, secara khusus dalam kajian tasawuf,
melalui konsep ma’rifah atau mukasyafah. Hal itu dianggap sebagai thariqah (jalan) dalam memperoleh ilmu
pengetahuan. Perolehan pengetahuan dengan jalan sejenis ini, dilakukan tidak
melalui proses indrawi atau jalan rasio.
Jika begitu, penalaran mistik selalu
bersifat pribadi? Tanya Bert. Iya kata Kaisar. Mistik selalu bersifat pribadi
dan tidak mungkin dpaat dilakukan orang lain, sekalipun jalan yang ditempuh
sama.
Saat Kaisar kerasukan intelektulitasnya,
Bert sesungguhnya sudah tidur dan ruhnya sudah pergi ke awan. Malam ini akhirnya
Kaisar bersama Marhumlah yang meneruskan diskusi sambil nonton siaran televisi.
Sambil merokok bako Cap Wayang keduanya terus-menerus asyik menyaksikan film
pilihan TVRI keran TPI hanya siaran di
siang hari.
3.
Menelusuri Evolusi Mistik Yunani Kuno
Bert pemikir muda dan pembaca yang baik
serta pendengar setia, lahir dalam kultur yang relatif tedidik. Kaisar selalu
menyajikan bebagai buku dan literasi penting untuk dibaca Bert. Kaisar
menyajikan suatu ruangan khusus yang diperuntukkan bagi Bert untuk menjadi
perpustakaan keluarganya.
Suatu sore, Bi Isah yang biasa membantu
meringkan beban keluarga di rumah itu, menyasikan ruang kerja Bert begitu
acak-acakan dan tidak lagi terkesan eksklusif. Beberapa buku yang sudah lecek,
berhamburan di meja dan di lantai kamar di mana Bert biasa membaca dan menulis.
Saat itu, Bert duduk di kamarnya sendiri.
Ia merunduk lelah. Tampaknya, ia membaca berbagai literature yang pada
berhamburan itu, tetapi sulit untuk mendapatkan sinergi akan berbagai peristiwa
kebatinan yang menyergapnya. Menjelang waktu Maghrib itu, hanya Kaisar yang
berani datang ke ruangan Bert, Masuk ke ruang kerja Bert sambil membawa sebuah
Jurnal Filsafat. Sore itu, hujan turun dengan rintikan landai mengiringi
perjalanan malam.
Meskipun Kaisar masuk dengan cara yang
sangat pelan tetap saja, Bert terbangunkan. Tidak terasa puloen jatuh yang
tampaknya telah lama dipegangnya Bert jatuh segera menggesekkan tangan ke
matanya. Ah kamu Bert. Jangan terlalu serius. Rileks saja kata Kaisar. Iya
Kaisar jawab Bert. Hanya kalau boleh saya bertanya, mengapa Yunani Kuno
dianggap penuh mistik? Padahal di kampung kita hari ini, mistik sangat banyak
dan kaya nilai.
Kaisar duduk di sofa ruang itu dan
menjawab dengan tangkas. Yunani Kuno sama dengan negeri-negeri lain di dunia,
termasuk kampung kita sampai saat ini Kata Kaisar yang banyak memiliki mistik.
Mite Yunani lebih banyak berbicara soal asal usul alam semesta dan bagaimana
alam ini dicipata serta siapa sesungguhnya yang mencipta,
Apa betul, Kata Bert…! Ya, kata Kaisar.
Yunani berhasil membuat legenda penuh mistik justru pada sesuatu yang sangat
substantif dalam bentuk proses awal penciptaan manusia dan penciptaan jagat
raya serta peran-peran pada dewa dalam membangun bumi. Inilah kelebihan mistik
Yunani Kuno.
Apa contohnya? Kata Bert. Kaisar menjawab,
misalnya Yunani yang terkenal sampai saat ini, miaslnya terkait dengan peran
Dewa Titan yang menjadi awal atas dewa-dewa lain, sebelum dewa Olympus hadir
yang menjadi penguasa bumi.
Nurcholish Madjid dalam tulisan dimaksud,
kata Kaisar, menganggap bahwa suatu legenda atau mite pada hakikatnya diperlukan untuk menunjang sistem nilai hidup
manusia, khususnya ketika ilmu belum tumbuh subut di dalamnya dan menjawab
berbagai masalah yang dihadapi masyakarat.
Pemikiran Nurcholish Madjid di atas, jelas
Kaisar, memperoleh pembenaran ketika harus menempatkan mitos dengan iman dengan
konteks perilaku keseharian. Mite dan
sistem “iman” sama-sama mengakui eksistensi sesuatu di balik yang fisik atau
sesudah yang fisik.
Sambil menguapkan mulutnya yang lelah dan
mengantuk Bert terus-menerus mendengarkan pembicaraan Kaisar. Setelah itu,
Kaisar berkata bahwa dalam perkembangan berikut, mita tumbuh menjadi ideologi
yang mengikat. Dalam term terakhir, mite sama dengan keimanan yang memandang
bahwa dalam posisi tertentu harus ada yang dipercaya begitu saja, tanpa reserve sekalipun akan eksistensinya.
Apakah persoalan dunia juga sama dikaji
dalam ruang mythe? Tanya Bert kepada
Kaisar. Secara spekulatif, manusia kata Kaisar, dapat mempertanyakan asal-usul
unia membuat pertanyaan dan sekaligus jawaban yang bersifat memuaskan.
Misalnya, dari mana alam dan berbagai kejadian ini dimulai?
Kalau begitu kata Bert, mythe dapat mencari ketenangan tentang
asal usuk alam semesta dan kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite mampu memberi jawaban atas sejumlah
pertanyaan dasar tentang asal usul alam semesta. Jawaban yang diberikan mite atas pertanyaan dasar tentang asal usul alam
semesta ini, secara teoritis kemudia disebut dengan kosmoginis yang tidak lagi murni mistik. Tetapi sedikir banyak
sudah filosofis sekaligus sedikit banyak ilmiah. Iya, jawab Kaisar singkat.
Sedikit berbeda dengan bangsa lain, Yunani
Kuno mampu melakukan usaha serius dan sistematis dalam menyusun mythe yang diceritakan rakyat menjadi
satu keseluruhan kajian sistematik.
Dengan nalar ini, maka penyebutan Yunani
dengan seperangkat pengaruhnya terhadap dunia Barat, menjadi sulit diabaikan,
kata Kaisar. Kalau begitu, Bert bertanya, mite
dapat menjadi dasar lahirnya peradaban? Ya, jawab kaisar. Dari sini, kata
Kaisar, dapat dimafhumi mengapa peradaban terbaik justru terlahir dari sikap
masyakarat yang seimbang antara keyakinan akan adanya sesuatu berdasarkan
fakta-fakta empiris-rasaonal dan adanya sesuatu di balik yang empiris-rasional
dan menjadi penggerak utama pada segala sesuatu yang tampak.
Situasi inilah yang terjadi di zaman
Yunani Kuno, pungkas Kaisar berapi-api. Karena itu, lahirnya Yunani Kuno
sebagai pusat peradaban dunia di zamannya, sebenarnya dapat menjadi konsekuensi
logis atas kekayaan mereka dalam budaya mistik tadi. Yunano Kuno
mendeskripsikan situasi ini menjadi kekuatan ilmu pengetahuan, salah satunya melalui
keterampilan pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Sambil menggigitkan jarinya, Bert terpaku
sekaligus terpukau. Memang jika demikian adanya, hebatlah Yunani. Kaisar pun
berlalu dengan memanggil istrinya tidur ke kamar. Bert kembali sendiri tidur di
kamar dengan rasa dingin yang luar biasa. Entah mimpi apa Bert malam itu. Yang
pasti ia seperti memperoleh pembuktian ilmiah atas apa yang dibaca dan
didiskusikan bersama Kaisar tentang kehebatan Yunani itu.
III
EVOLUSI ILMU
1.
Evolusi Ilmiah
Keluarga adalah baigan penting untuk
membangun dinamika umat. Hanya melalui keluargalah segala hal tercipta. Tidak
mungkin suatu keluarga mampu menumbuhkan keluarga nubuwah, jika spectrum kehidupan keluarga itu, tidak mampu disemai
dengan bentuknya yang kokoh dalam menanam nilai-nilai kebaikan. Inilah pesan
Kaisar, sewaktu Bert dan saudara-saudaranya berkumpul di rumah mereka.
Keluarga ini, biasanya menghabiskan waktu
mereka untuk bersama itu, di hari lbur dan yang pasti, hari libur dimaksud,
tentu hari minggu. Suatu hari, di waktu libur pada suatu minggu, Bert dan
Kaisar ramai mendiskusikan evolusi ilmiah dalam lingkup dunia. Mereka berkumpul
di ruang diskusi rumah. Pagi itu, Ema, istri Kaisar, sudah siap membawakan dua
cangkir kopi pahit bersama dengan goreng singkong yang tidak dicampur keju.
Saat Ema datang, Bert sedang berbicara
kepada Kaisar tentang rasa penasarannya atas apa yang menyebabkan Yunani dikagumi
dunia sebagai peletak dasar lahirnya filsafat dan bahkan ilmu pengetahuan. Ia
bertanya, bagaimanakah situasi transisional ilmiah ini terjadi di Yunani Kuno
ini.
Kaisar mengatakan: Bert, harus kamu
ketahui bahwa di Yunani Kuno, ada pemikir ulung yang mentransisikan fenomena
alam yang sebelumnya penuh mistik ke ranah baru yang lebih observasional.
Karakter observasional inilah yang dimaskud transisional menurut kamu.
Kamu harus tahu, kata Kaisar, Yunani
memilki dua generasi besar, yakni Pra Socrates (era transisional) dan fase
Socrates itu sendiri (kemapanan ilmiah). Di kedua fase ini, saya, kata
Kaisar,melihatnya telah memiliki corak yang berbeda satu sama lain.
Yunani Kuno, sebelum kehadiran Socrates,
Plato dan Aristoteles sebagaimana telah saya jelaskan tadi, kata Kaisar, seing
dianggap sebagai negeri dongeng penuh mistik. Mereka tumbuh menjadi kelompok
masyarakat majiner yang
mentransformsasi mitos ke dalam bentuk cerita yang menghibur rakyat banyak.
Kala begitu, kata Bert menimpali, para
pemikir Yunani Kuno, mulai mencoba mengkritisi pengetahuan mereka yang
diperoleh dengan cara mistik tadi ke dalam bentuk baru. Bentuk baru itulah yang
diperkenalkan dengan nama ilmu? Tanya Bert.
Ya, kata Kaisar. Ilmu (Sains), kata Kaisar
adalah produk sadar atas hasil penyelidikan manusia dalam menemukan berbagai
aspek dari realitas alam semesta dan relasi yang terdapat di alam. Dalam kasus
tertentu, ilmu terbentuk karena manusai mulai mencoba berpikir lebih, tentang
apa pun yang diketahui dirinya, termasuk jika objek yang diketahui itu berbau
mistik dan paganis.
Dalam banyak kasus, kata Kaisar, legenday
yang menjadi mistik Yunani Kuno, persis seperti cerita yang menjadi alur
wayang-wayng kulit d Indonesia. Saya piker, kata Kaisar, agak sulit
mendeskripsiskan cerita-cerita yang terdapat dalam wayang, yang mengisahkan
cerita sesungguhnya sebagai sesuatu yang nyata.
Ooo kalau begitu, kata Bert, jauh hari
sebelum Socrates, Plato dan Aristoteles lahr, di Yunani Kuno sebenarnya telah
lahir pemikir ulung yang awalnya khusus mengkaji tentang asal-usul alam
semesta. Ya, kata Kaisar, menimpali. Karena itu, kata Kaisar, para pemikir
tadi, kemudian dikenal dengan istilah filsuf Pra-Socrates. Filsuf yang berupaya
melakukan re-thinking terhadap mitos
Yunani itu, misalnya terlihat dari: Thales, Anaximandros, Anaimenes, Phytagras,
Xenophanes, Heraclitus, Anaxagoras, Leuxippos dan Democritus.
Di mana basis ilmu mulai diterapkan dalam
konteks filsuf pra-Soctratean ini di Yunani Kuno? Tanya Kaisa kepada Bert. Bert
diam tidak berbicara. Tiba-tiba berkata sebelum Bert menjawab pertanyaannya.
Saya, kata Kaisar, melihat setidaknya
basis ilmu mulai diperoleh melalui dua karakter ideal, yakni: karakter
observasional yang dialektik dan karakter uji coba yang tidak lagi spekulatif
dalam memahami apa yang disebut dengan kebenaran.
Perdebatan ini, kata Kaisar, telah
mengisyaratkan datangnya fase baru di mana asas kehidupan terbentang dalam
jurang berbeda secara sgnifikan antara keharusan materialism sebagaimana
digagas Thales, Anaximenes, Phytagoras, Heraclitus, Leucippus, Democritus di
satu sisi, dan kelompok idealism yang diperagakan Anaximander, Xenophanes, dan
Anaxagoras.
Hal terpenting lain dari apa yang
dihasilkan filsuf era pra-Socrates ini, kata Kaisar, adalah penempatan bumi
sebagai pusat segala dinamuka alam, dan upayanya untuk memberi seubangan
pemikiran, bahwa manusia memiliki peran penting dalam memprespektif bumi.
Diskusi ini terus berlangsung, sampai kopi
pahit habis dan film si Unyil mulai berlangsung.
2.
Ilmu dan Moral Praktis
Rumah Kaisar yang
didesain secara arsiktektur sejak tahun 1960-an, saat tertentu terkesan sepi
dan sulit mendapat pengunjung, kecuali di malam hari. Banyak manusia datang
berduyun-duyun hanya sekedar untuk menonton televisi. Meskipun demikian, rumah
ini terasa sepi, sebab setelah diskusi di hari minggu itu berlangsung, entah
kenapa, disuse cukup lama tidak digelar. Mereka tampak sibuk dengan
pekerjaannya masing-masing. Hamper satu bulan lamanya, Kaisar hanya ditemani
Marhum yang selalu mendampingi ke mana pun Kaisar pergi.
Kaisar tampak senang saat
itu, ketika Bert diketahui pulang.
Sore itu, ayam
benar-benar disembelih Ma’rif, dimasak Emad an dimakan bersama di malam hari.
Bertlah yang mengawali diskusi di malam itu ketika santap malam berakhir. Dalam
diskusi itu, Bert menyatakan bahwa tradisi ilmiah tokoh-tokoh kunci Yunani
sekelas Thales dan kawan-kawannya, ternyata diteruskan filsuf brilian seperti
Socrates, Plato dan Aristoteles.
Keteguhan tiga filsuf
yang meneruskan tradisi ilmiah di atas, kata Bert, telah menyebabkan Yunani
berdiri kokoh menjadi pusat perkembangan ilmu dan peradaban dunia.
Ya, ya…kata Kaisar menimpali.
Soctrates, Plato, dan Aristoteles karena itu, sering disebut deklarator penting
tentu mungkin banyak tokoh lain hanya tidak tercatat dalam ejarah yang
engasumsikan pentingnya membalikkan dunia mite
menjadi ilmu ke dalam bentuknya yang lebih praksis. Tiga tokoh ini, di kalangan
masyarakat dikenal sebagai fugur yang mampu mengubah mite menjadi ilmu pengetahuan praktis.
Filsuf Yunani setingkat
Socrates, Plato dan Aristoteles yang menjadi trio filsuf besar Yunani di abad ke-5 sampai abad ke-4 SM, telah
menjadi titik kunci pemikiran filsuf fan saintis modern.
Saya percaya, kata Bert,
tiga filsuf ini tidak pernah sadar kalau nama dan pemikiran mereka menjadi
demikian popular di tenagh kehidupan umat sesudahnya temasuk di kalangan
temporer belakangan ini. bahkan setelah hamper dua ribu lima ratus tahun
setelah kematian mereka, pemikiran mereka tetap hidup dan dikembangkan.
Bert kemudia mengutip
Akbar S. Ahmed (1992). Kalau menurut saya, kata Bert mereka mungkin
sebenarnyadisebut Allah sebagai nabi dalam Al-Qur’an atau kibat suci lainnya,
tetapi manusia tidak mampu menunjukkan bukti konkret kenabian mereka atau beda
nama dan istilah yang disebutkannya.
Marhum menimpali. Mungkin
ada benarnya juga pernyataan kamu Bert. Fakta menunjukkan bahwa jumlah nabi dan
rasul itu banyak. bahkan sampai ratusan (untuk rasul) dan ribuan untuk nabi.
Iya juga kata Kaisar
menimpali.
Nah di sini, sebenarnya
peril penerjemah lain, kata Bert. Misalnya nih, kata Bert, kenapa filsuf Yunani
Kuno menjadi demikian popular, bahkan seolah telah menjadi legenda dibandingkan
dengan para filsuf lain di negeri lain.
Socrates, Plato, dan
Arisoteles, kata Bert, karena itu, dapat disebut sebagai penggerak demitologi Yunani, sehingga filsafat yang
semula bercorak mitologis, berkembang
menjadi ilmu pengetahuan praktis dan mengambil jarak dengan aspek-aspek mistis.
Indikatornya, terlihat dari pernyataan Aristoteles bahwa filsafat adalah
aktivitas akliyah yang harus dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hati-hati kata Kaisar.
Butuh terjemahan dari kata dipertanggungjawabkan Bert. Apa yang dimaksud dengan
dapat dipertanggungjawabkan? Bert berkata bahwa kata dipertanggungjawabkan
mengharuskan adanya neraca pemikiran karena segala sesuatunya dapat dibuktikan.
Keberanian Aristoteles yang sangat rasional-empirik ini, menurut Bert yang
kemudian mengutip Abdus Salam (1994) bahkan telah dipuja para ilmuwan Barat
modern sebagai pemikir yang sulit dtemukan kesalahannya, sampai sekarang ini.
ilmuwan modern merasa kesulitan untuk meyakini bahwa pikiran Aristoteles
mengandung kelemahan dan kesalahan.
Bert kembali mengutip K.
Bertens (1989) untuk mempertegas kembali keyakinannya, kenapa filsuf Yunani
tumbuh dan dikenang dunia sebagai pemikir brilian dan genuine? Semua itu, ternyata terjadi karena mereka mampu
mensistematisasi mistik menjadi ilmu.
Apa yang dapat
disimpulkan dari fenomena Yunani Kuno itu, tanya Kaisar kepada Bert. Bert
kemudian berkata bahwa dialektika berpikir karena itu, adalah sumbangan lain
yang diberikan Yunani terhadap dunia ilmu. Ilmu yang dibangun flsuf Yunani
Kuno, misalnya terlihat antara Plato dan muridnya Aristoteles.
Diaklektika itu seperti
telah kita diskusikan bersama beberapa minggu yang lalu kata Bert, juga terjadi
jauh hari sebelum Plato dan Aristoteles hadir. Di awal kita dapat menyimpulkan
bagaimana Thales menyebut asas kehidupapn itu air, sedangkan Anaximenes
menyebutnya dengan udara dan anaximandros menyebutnya dengan to apperion. Tradisi dialektis ini,
menjadi formula penting lahirnya ilmu pengetahuan.
Dialektika pemikiran
karena itu, misalnya antara Plato versus Aristoteles, atau antara Thales,
Anaxiomandros dan Anaximenes, penting untuk disebut sebagai pendorong lahirnya
ilmu, sebab melalui dialektika semacam ini, ilmu bukan saja menjadi lebih
dinamis, tetapi juga dari setiap wacana dialektik, pasti akan melahirkan
sesuatu yang baru. Sifat ini pula, telah menyebabkan lahirnya wacana keilmuan.
Bert berlalu dari meja
makan. Ia lebih dulu pamit meninggalkan ruangan itu, Ia masuk ke kamar tidur,
mematikan lampu dan membiarkan kamarnya gelap pekattanpa cahaya sedikitpun.
Sementara Kaisar dan
Marhum masih tinggal di ruangan itu, mereka, sepeti malam biasanya, selalu
menghabiskan dua pertiga waktu malamnya untuk berdiskusi tentang apa saja yang
mereka inginkan. Mereka menyebut kegiatan diskusi di malam hari sebagai tahajud
ilmiahnya.
3.
Peran Sastra dalam Mentransformasi Ilmu
Rambut lembut kemerahan,
raut muka apik dengan kulit beniing tanpa goresan, membuat Bert tampak
berwibawa. Bibir merah tanpa gincuyang ditakdirkan Tuhan diberikan kepada Bert
muda, membuat dirinya sering dgandruni banyak remaja, khususnya kaum wanita.
Meskipun demikian, saat
Bert masih berada di kampus utamanya, dia sempat diminta untuk membuat naskah
sastra dan peannya dalam membangun peradaban dunia. Tentu ia senang dengan
tugas ini, sebab sewaktu dia di SLTP dan di SLTA dan diteruskan ketika dia
studi di perguruan tinggi, ada kebiasaan yang jarang dimiliki orang lain, yakni
kesenangannya membaca novel dan karya sastra baik pada kelas local maupun pada
kelas regional, nasional dan bahkan ketika ia dewaa membaca karya-karya sastra
dunia.
Makalah Bert tentang
sastra, mendorong hatinya membatin, sebab ia meyakini bahwa kehebatan lain yang
dimilik Yunani Kuno adalah pengahrgaanmereka terhadap dunia sastra.
Bert memperlihatkan
bagaimana karya puitis Homeros
seorang dalang untuk itilah masyarakat Jawa dengan judul Illias dan Oddeysia,
telah menduduki tempat teristimewa dalam kesusastraan Yunani. Melalu karya ini,
Yunani memperkenalkan dirinya kepada dunia.
Karya Homeros, inilah
karya tertua dunia, kata Bert.
Homeros, kata Bert,
dikenal di Yunani dengan sebutan Homer. Homer adalah pembuat seni cerita rakyat
Yunani dan memainkannya dalam bentuk praktis di tengah rakyat banyak. Bert
meneruskan tulisannya dengan menyebut, bahwa akuingin seperti Homer. Ya…,
seperti Homer.
Sehabis itu Bert menulis
lagi tentang kisah petualangan Amerika Serikat baik di Jepang, Vietnam, Panama,
Kuba, Iran, Irak, dan Afganistan. Bert kembali menjawab aku tidak tahu! Yang
pasti kata Bert baik Jerman maupun Amerika, keduanya sama ingin menjadi polisi
dunia.
Nazi di Jerman dan sikap
pandang para pemimpn Amerika, kata Bert sering kali memahami diri mereka
sebagai pemegang polis yang beradab.
Konkret dan membentuk covert
sekaligus overt politik mereka yang
mengadagiumkan diri sebagai pengikut gerakan Yunani Kuno ke dalam tataran yang
lebih praktis.
Melalui karya sastra yang
demikian itu, Bert dalam imajinasinya, menyimulkan bahwa pemikiran Yunani Kuno
yang sudah mulai ilmiah tersosialisasi dan bahkan terinternasionalisasi oleh
apa yang disebut dengan karya sastra.
Dalam konteks tertentu,
Yunani Kuno dalam tulisan Bert dimaksud, mampu melakukan sistematisasi dan
sekaligus generalisasi landasan bagi lahirnya teori/ilmu pengetahuan yang
sebelumnya penuh mistik.
Dalam narasi di
tulisannya itu, Bert lalu membuat hipotetik, bagaimana dengan Indonesia?
Keagungan negeri ini, negeri yang dalam anggapannya telah menjadi semacam
cuplikan Surga Tuhan di muka bumi ini, perlu diinternasionalisasi para
susastra. Jika tidak, maka, megeri ini akan tetap berada dalam posisi yang jauh
dari merek ayang disebut negara besar. Padahal negeri ini memang besar dan
memiliki tradisi agung yang sulit memperoleh tandingannya jika harus
dibandingkan dengan negeri maju seklaipun.
IV
MASA KEGELAPAN
BARU
1.
Ilmu di Era Kristen Awal
Suatu hari, Bert kembali pulang kampong.
Kali ini, kepulangannya benar-benar dihabiskan di rumahnya. Suatu hari Bert
duduk di taman belakang rumah yang dimiliki Kaisar. Saat itu Bert duduk
sendiri. Ia menggengam buku besar tulisan tokoh reformasi agama Indonesia,
bernama Nurcholisoh Madjid.
Bert terenyak kaget, saat dia membaca buku
Nurcholisoh Madjid (1997) yang memuat salah satunya ungkapan misterius yang
menyatakan bahwa tradisi awal Kristen sangat jauh berbeda dengan tradisi
masyarakat Muslim dalam konteks penguasaan ilmu pengetahuan.
Selain itu, Bert berhipotesis bahwa
sebelum Islam menjadi sebuah sistem ajaran, karena Nabi-nya lahir terakhir,
yakni sekitar abad ke-7 masehi, Kristenlah yang pertama kali masuk dalam
kubangan dunia, termasuk mungkin dalam kubangan ilmu pengetahuan. Masalahnya,
mengapa Nurcholisoh Madjid mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan.
Ia datang seperangkat kalimat tanya yang
terus membara untuk disampaikan kepada Kaisar. Bert menghampiri Kaisar yang
sedang diskusi dengan Marhum. Namun, tanpa tedeng aling-aling, Bert bertanya,
Kaisar apa mungkin Kristem awal berjarak dengan ilmu pengetahuan?
Tanpa diduga, Marhumlah justru yang
menjawab. Ia mengatakan bahwa era awal Kristen, para filsuf selalu merasa berat
menghadapi gerakan kaum gereja, meski bukan berarti filsuf sama sekali hilang
di peredaran dunia, termasuk di kalangan Gereja sendiri.
Mengapa bisa begitu, kata Bert. Bukankah
ajaran Kristen juga berasal dri Tuhan yang sama, yakni Allah? Kalau sama-sama
bersumber dari sesuatu yang sama, mengapa berbeda? mengapa yang satu kritis
terbuka (Islam) dan mengapa Kristen tertutup dan jauh dari karakter kritis.
Sampai pada konteks berasal dari Wujud
yang Sama, iya tidak beda, kata Marhum.
Kristen lebih memilih kelompok elite mereka yang cenderung dogmatis. Lho
siapa yang disebut dengan kelompok elitis itu, tanya Bert. Kelompok itu, kata
Marhum adalah emreka yang memiliki kekuasaan utnuk menafsirkan ajaran agama
Kriten bersama Injil tentu saja di dalamnya. Sebelum Marhum melanjutkan
pembicaraan, Kaisar mengatakan, dalam terminology Kristen disebut dengan
Pendeta.
Kaisar meneruskan kalimatnya dengan
menyatakan bahwa, Biara tidak saja menjadi tempat aktivitas agama para pendeta,
tetapi ia juga menjadi pusat kegiatan intelektual. Hanya perlu dicatatkan bahwa
di kalangan gereja terdahulu, berlaku namun keterbatasan. Rumusan ini
mengasumsikan bahwa yang harus menguasai Injil itu adalah mereka yang disebut
dengan pendeta. Merekalah yang bebas masuk ke dalam Gereja. Segela bentuk yang
terbatas, pasti akan menghasilkan sesuatu yang terbatas juga dana kehilangan
elastisitasnya. Ditambah dngan kecenderungan mereka yang selalu menghubungkan
ilmu pengetahuan dan agama dalam bentuk history
of scientific progress (sejarah perkembangan ilmu), tidak pada social psychology-nya.
Kamu tahu risiko dari kondisi ini. Tanya
Kaisar dengan sorot mata yang tajam diarahkan kepada Bert. Kaisar kemudian
menjawab sendiri dengan mengungkapkan bahwa kondisi ajaran Kristiani yang
menempatkan kitab suci dengan ilmu dengan posisi tadi, akan menjadi catatn
penting bukan saja bagi masyarakat Kristen sesudahnya, tetapi yang menarik
justru bagi masyarakat dan komunitas ini.
Oooh kalau begitu, bentuk hubungan seperti
yang diperagakan masyarakat Kristiani, dicatat sejarah telah melahirkan
sejumlah kerugian dalam konteks perkembangan filsafat dan ilmu. Dimanakah letak
kerugian dimaksud tersedia? Tanya Bert dengan memberi tekanan khusus. Di antara
kerugian dimaksud, kata Kaisar, adalah terjadinya pertentangan anatar kajian
keilmuan dengan kajian keagamaan. Hasilnya! Ilmu menjadi macet dan saintis diposisikan dan dianggap sebagai
penentang ajaran agama.
Kondisi ini harus diakui telah menyebabkan
hilangnya tradisi agung Yunani yang kritis sekaligus dialektis. Kata Kaisar menegaskan. Pengikut agama yang
fanatic tumbuh menjadi penentang yang kuat terhadap perkembangan empiric-rasional
yang dibangun filsuf awal Yunani.
Banyak musibah yang terjadi sebagai akibat
atas sikap pandang keberagaman semacam ini. Kata Marhum ikut menimpali lagi.
Ooo iya kata Kaisar.
Korban pertama terjadi kepada seorang
wanita cantik dan cerdas, bernama Hypatia. Ia harus rela menjadi korban kaum Gerejawan
Kristen yang sedang mengonsolidasi
dirinya di Vatikan. Kalau begitu, Hypatia menjadi semacam resi petapa
dalam soal perkembangan ilmu? Tanya Bert semangat. Iya kata Kaisar. Ia
memberanikan diri berdiri di tengah kuatnya arus kekuatan sosial yang menolak
perkembangan filsafat dan ilmu yang dikembangakan Yunani Kuno, khususnya
filsafat Aristotalian. Hypatia akhirnya dibunuh dalam suatu perjalanan menuju
perpustakaan yang dia sendiri sering menghabiskan waktu di tempat itu.
Sikap sebagian masyarakat Kristen terhadap
ilmu sebagaimana diilustrasikan tadi, nyatanya masih terjadi pada
ilmuwan-ilmuwan abad medievalis
(ilmuwan abad pertengahan). Oooh sampai abad pertengahan, Kristen masih
demikian? Bert kembali membatik. Iya. Buktinya kata Kaisar, Giordano Bruno
hidup pada kisaran 1548-1600 harus rela dibunuh.
Ilustrasi ilmiah atas sikap kesewanangan
Gereja terhadap tokoh-tokoh ilmuwan tadi, kalau kamu baca secara serius dalam
ilustrasi Dan Brown dalam berbagai Novel filosofinya, akan terlihat jelas kata
Kaisar.
Kemenangan Kristen awal atas filsafat
Yunani Kuno, tentu tidak perlu disesali. Namun, jika diizinkan untuk melakukan
hiptetik, yakni andaikan orang Kristen mampu membedakan antara mana yang
disebut dengan Paganisme (sebagai sistem ritus) dan mana yang disebut dengan
ilmu pengetahuan, atau anadakan perpustakaan Iskandaria yang dikembangkan
Hypatia itu tidak pernah dimusnahkan, mungkin kegelapan dunia dan ilmu
pengetahuan.
Meksipun demikian, ketika mayoritas
masyarakat mengambil sikap pandang yang jauh dari filsafat, bukan berarti
filsafat otomatis mati dan terhenti dalam lintasan sejarah dunia.
Kembali ke pesoalan Pasca kematian
Aristoteles, kata Kaisar, filsafat Yunani Kuno, kembali menjadi ajaran praktis
dan bahkan mistik. Filsafat lebih
bercorak teologis dan ideology (berkarakter tertutup) dibandingkan dengan corak
sebelumnya yang ilmiah (Dengan sifat terbuka) dan dialogis.
Oooh hebat sekali pikiranmu Kaisar. Inilah
bagian yang mungkin selama ini, belum banyak terjamah pemikiran manusia
kebanyakan. Iya, kata Kaisar dan Marhum serempak. Jadi bagi kamu, Barat dan
Eropa semestinya tidak terlalu sombong atas kemajuannya hari ini.
2.
Sepercik Kesadaran
Sehabis diskusi penuh
yang membincangkan sikap pandang mainstream
kaum Kristen Awal terhadap ilmu pengetahuan itu, dan bagaimana mereka
merelasikan ilmu pengetahuan dimaksud dengan agaman, yang dianalisis dalam
sikap peyoratif, Bert sesungguhnya tidka tinggal diam dalam asumsi Kaisar dan
Marhum.
Suatu hari, untuk
kepentingan ini, bert akhirnya terpaksa masuk ke ruang kerjanya yang spesifik.
Bert mencari Novel karya Dan Brown yang tidak kurang dari lima judul yang dia
miliki dan tersdia di Perpustakaan mereka. Bert menarik benang pemikiran dengan
mengkaji rumusan Stoa yang menjadi
instiusi di mana pusat perkembangan ilmu pengetahuan ditumbuhkan di era Kristen
Awal. Bert pertama kali mencari makna dari kata Stoae dengan cara beruzlah
sendiri.
Bert menyimpulkan bahwa Stoae melambangkan sebuah gedung yang
melukiskan adanya harmoni dalam hidup. Bangunan yang menyimetriskan antara atap
dengan dukungan tiang-tiang yang kokoh telah menyebabkan suasananya menjadi
demikian berwibawa. Dibangun dengan lambing kejayaan masyarakat Yunani masa
lalu akan kegigihan mereka dalam membangun peradaban.
Ketika Bert menelusuri
situasi-situasi yang membingungkannya, ia bertemu dengan pikiran Epikouros yang
menjadi salah satu juru kunci di Stoae.
Dalam berbagai bacannya, ia oleh Bert dianggap sebaagi salah satu filsuf yaitu
memanfaatkan Stoae sebagai tempat
pengembangan ilmu pengetahuan, tentu selain perkembangan agama yang lain dia
anut yang Kristen.
Ia akhirnya berkesimpulan
bahwa, apa yang disampaikan Kaisar dan Marhum ada benarnya. Meski catatannya,
kata Bert, Kaisar dan Marhum lupa bahwa di sebagian kecil mereka juga tersedia
pemikir dan filsuf yang mengadagiumkan diri akan pentingnya dunia sufi.
Pemikiran mereka dengan jumlah yang terbatas itu, juga ternyata sangat
memengaruhi pemikiran filsuf Muslim.
Dalam lelah, Bert tidur
dengan sejumlah rasa suka citanya.
Bert bangga kepada siapa
pun yang mencintai ilmu. Mengapa? Sebab ilmu selalu menjadi warisan manusia
beriman yang selalu hilang atau ditinggalkan.
V
CAHAYA BARU DI
MEDITERANIA
1.
Mediterania
Kali ini, Bert berbeda
dengan biasanya. Ia merasa bahwa dirinya Muslim, tetapi, dalam banyak hal,
sebutannya sebagai Muslim, tak mampu ia tunaikan dengan baik. Bert ingin
menguak dinamika ilmu di lungkup masyarakat Muslim yang dia imani.
Ketika Bert hendak
menyusun sebagian kecil kaum Gereja yang konsen
pada Filsafat dan Ilmu, waktunya dihabiskan di meja belajar. Suasananya berbeda
dengan ketika Bert, ingin mencari tahun tentang peran dunia Isalm dalam
membangun peradaban. Ia menggeluti dan membaca pikiran masa lalu dalam konteks
pengembangan ilmu pengetahuan dan bagaimana dunia Islam membangun ilmu
pengetahuan.
Ia begitu gundah ingin
mengatahui, mengapa seluruh dunia termasuk tentu masyarakat dan pemerintah
Indonesia, begitu kuat memperhatikan dan mendinamisasi perkembangan ISIS di
Iran, Irak, Suriah, serta dampaknya tentu saja terhadap dunia Islam, termasuk
Indonesia. Ia memulai kajiannya dengan menelaah berbagai kajian tentang
Mediterania. Ia membagi cerita ini dengan lawan diskusinya bernama Lana.
Lana adalah salah satu
figure intelektual muda yang dalam kasus tertentu, agak mirip dengan Hypatia
dalam cerita Barat Awal, khususnya soal kesenangannya dalam mempelajari
perkembangan filsafat dan Ilmu di Sumeria. Karena itu, Bert begitu senang
ketika pada akhirnya ia dapat menjumpainya di ranah ilmu.
Bert selalu menemui Lana
di pojok perpustakaan. Lana hanya tampak kaget ketika Bert tiba-tiba,
menyapanya.
Bert bertanya, apa yang
kamu tahu tentang Mediterania Lana? Hari ini, kita dibikin takut oleh berbagai
berita tentang kelompok masyarakat di sini, padahal, sejauh yang aku tahu,
sebetulnya mereka memiliki tradisi keilmuan yang demikian hebat. Apa
sesungguhnya yang membuat banyak masyarakat dunia begitu takut terhadap
dinamika ini?
Sambil minum kopi dan
cemilan, Lana kemudian berkata: “Mediterania adalah suatu wilayah di kawasan
Laut Tengah. Wilayah ini berbatasan dengan sebuah laut yang oleh para ahli
diberi nama Mediterania. Mediterania berarti negeri daratan tenngah yang berada
di antara laut yang posisinya menghubungkan antarbenua di dunia.” Inilah yang
menyebabkan mengapa daerah ini dianggap strategis dan selalu menjadi tempat
pertanrungan berbagai ideolgi, yang ujug sebenarnya adalah pertarungan ekonomi.
Kalau begitu kata Bert,
Mediterania, memiliki arti sebagai wilayah yang menjadi pusaran bisnis dunia?
Iya kata Lana. Ia juga dianugerahi Allah dengan limpahan Sumber Daya Alam yang
demikian melimpah, meski di tengah segenap keadaan lingkungan yang secara umum
tandus.
Kondisi natur yang
demikian, diperkuat dengan letak daerah yang juga strategis. Jalur ini, menurut
Lana, telah menghubungkan berbagai jalur perdagangan dan pertukaran budaya
Mesir, Yunani Kno, Romawi dan Jazirah Arab pada umumnya.
Bert kemudian berkata:
ini kehebatan kamu. Cara bertutur kamu tentang perkembangan filsafat, telah
membuat banyak pihak takzim dan agak sulit untuk menghindari suatu asumsi bahwa
kamu memang orang hebat.
Jangan begitulah kata
Lana.
Akan tetapi, kemudia Lana
segera memotong kalimat Bert dengan menyatakan: “Kamu harus tahu akbatnya Bert.
Akibat yang timbul atas situasi geografis yang demikian strategis itu.”
Banyak kepentingan dan
banyak orang yang terus menenus “berperang” memperebutkan wilayah ini.” jadi,
ISIS juga buatan mereka yang hendak menguasai wilayah-wilayah ini? Ya iyalah
katanya ketus sambil menghabiskan kopi pahitnya.
2.
Karakter Dasar Mediterania
Situasi ini yang menyebabkan Bert harus
berpikir bahwa Mediterania adalah bangsa unik. Islam dalam keyakinannya, turun
dalam perspektifnya yang ilmiah. Ia turun dengan perintah pertama membaca dan
secara substansial menyuruh juga untuk menulis.
Bert meningat betul, seorang guru
ngajinya, bernama Kiai Kholid dan Ustaz Sayyid dengan mengutip tafsir al Maraghi, yang menyebut bahwa sebab
turunnya ayat ini berkaitan dengan perjalanan Muhammad yang melaksanakan
meditasi di gua yang berada di Gunung Tsur.
Al
Maraghi, masih dalam penuturan
Kiai dimaksud, menyatakan bahwa pena harus dijadikan sebagai sarana
berkomunikasi antar sesama manusia. Dalam bahasa modern disebut dengan istilah
menulis. Jadi kegiatan membaca dan menulis, selalu harus berjalan bersama. Dan
itulah tradisi masyarakat Muslim.
Bert ingat, bagaimana grunya mengatakan
bahwa dalam konteksi ini, Allah menyatakan bahwa dirinyalah yang telah menciptakan
manusia dari ‘alaq, kemudian
mengajari manusia dengan perantara qalam.
Inilah pintu awal, kata guru ngaji Bert,
lahirnya pemikiran ilmiah masyarakat Muslim di Mediterania. Kegiatan membaca
dan menulis di sebuah tempat penuh gurun yang digambarkan Al-Qur’an sebagai
masyarakat yang ummi, harus turun ke
medan perjuangan menjadi manusia tercerdaskan sekaligus tercerahkan karena
kemampuan membaca dan menulis.
Apa pun itu, semua kondisi tadi sejatinya
jauh dari tradisi Islam. Watak dasar masyarakay Muslim, sesungguhnya di mana
pun mereka berada adalah ilmiah. Bert tersenyum. Ia menegaskan, Islam justru
mesti tampil dan ditampilkan dalam gejalana yang ilmiah. Jika tidak, maka,
sesungguhnya itu semua bukan merupakan watak Islamiah.
3.
Watak Ilmiah Mediterania
Bert berada dalam kebimbangan luar biasa,
saat telinganya harus mendengar istilah kafir zindik yang disematkan kepada
rasionalis Muslim, Muktazilah. Budaya mengkafirkan, kata Bert terlalu mudah
didapatkan dan disematkan. Ini bahaya kata Bert. Dan mereka yang terbiasa
menyalahkan ini, justru disayangkan muncul dari mereka yang kadung dianggap
ahli agama.
Selain dirinya, hanya Leman, teman
setianya yang menolak anggapan dimaksud. Keduanya justru memuja keberhasilan
kaum rasionalis Muktazilah dalma membangun peradaban masyarakat Muslim dalam
puncak peradaban yang kuar biasa tidak hanya dalam konteks dunia Islam, tetapi
bahkan dalam perkembangan dunia pada umumnya.
Dengan jiwa penasaran yang tinggi, Bert
kemudia menelusuri apa sejatinya itu Muktazilah. Setelah mendalaminya, Bert
menyimpulkan bahwa Muktazilah adalah salah satu aliran teologi dalam Islam.
Ada dua persoalan mengapa dunia Islam
tampil menjadi penyelamat ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya Filsafat
Yunani Kuno. Pertaman, dorongan keagamaan seperti terlihat dari nash-nash
Al-Qur’an. Kitab suci ini, banak membicarakan pentingnya ilmu pengetahuan bagi
hajat hidup manusia.
Kedua, harus diakui bahwa kira-kira etelah
serratus tahun wafatnya Nabi Muhammad, orang Islam telah berhasil melaksanakan
tugas mereka untuk menguasai sesuatu, khususnya wilayah kekuasaan Islamiah.
Kekuasaan Islam yang dibentuk dalam rumus khilafah
Islamiyah, telah berkembang bahkan masuk ke berbagai benua. Dengan dari
sisi ilmu, pengetahuan sejak abad ketujuh sampai dengan abad ketiga belas
masehi. Dari sisi politik, bahkan baru berakhir pada abad kedua puluh.
4.
Pemikir Brilian Muslim Mediterania
Pagi itu, duyunan santri dari berbagai daerah
kabupaten Kota Priangan Timur hadir. Memadati pelataran parker di sekitar
Masjid yang membentang di jalan utama sebuah Kabupaten di Priangan Timur
Selatan.
Kiai sepuh pondok pesantren itu, meminta Bert hadir
dalam acara reunion dan haulan pesanten yang telah hampir dua puluh tahun tak
pernah dijamah Bert dan kawan-kawannya yang menybar entah dimana dan kemana.
Bert diminta kiai sepuh utnuk memberi semacam motivasi kepada junior-juniornya
agar mereka memiliki semangat menghidupkan kembali duna Islam dan tradisi
keilmuan Muslim yang genuine.
Setelah uluk salam, puji syukur dan permohonan maaf
serta rasa syukur atas kesempatan untuk berdiri di forum dimaksud, Bert memuji
pesantrennya sebagai perspektif Muslim.
Bert kemudia bekata: Aku bingung dan sangat bingung.
Umat Islam Indonesia selalu memuja keberhasilah dunia Islam di Mediterania,
tetapi, selalu menghujat kaum Muktzilah yang justru menjadi salah satu peletak
keberhasilan dunia Islam itu sendiri.
Ia melanjutkan perkataannya dalam kalimat tanya:
“Bukanlah tokoh seperti al-Farabi (950 M), al-Biruni (973-1048 M), Ibnu Al
Haitam (965-1039 M), Al-Kindi dan Al-Razi (1209 M) yang terkenal dengan
komentar-komentarnya terhadap filsafat Aristoteles. Al-Razi bahkan dinobatkan
bukan saja oleh masyarakat Muslim, tetapi juga oleh penganut agama lain sebagai
guru kedua setelah Plato, itu semua hadir dengan ideology rasionalnya?
Gaya sompral Bert ini, cukup mencengangkan.
Suasana santri agak mulai senyap ketika Bert, mulai
mengurai ilmuwan-ilmuwan Muktazilah.
Saya, kata Bert tak berharap, bahwa kita tumbuh
menjadi “pembunuh” ilmuwan. Kita justru harus berdiri sebagai penyelamat ilmu
pengetahuan dan memberi penghormatan yang tulus kepada merek ayang berjasa
dalam mengembangkan ilmu. Termasuk jika mereka yang mengembangkan ilmu itu,
tidak memiliki nilai pertaliannya dengan ideolgi yang kita anut, atau bahkan
dengan mereka yang memiliki akar keagamaan yang berbeda dengan kita sekalipun.
Selesai melaksanakan kajian dimaksud, Bert melingkar
bersama para alumni dan kiai serta sepuh Pesantren dimaksud. Menarik disebut
bahwa dari semua paparan yang disampaikan Bert atas fenomena dimaksud adalah,
ketika kiai sepuh meyakinkan bahwa apa yang disampaikan Bert sebagai kebenaran
sejarah.
5.
Produk Metodologi Muslim Mediterania
Jika benar intelektual Muslim awal mampu
menjadi pelopor lahirnya ilmu praktis, metode apa yang digunakan masyarakat
Muslim dalma mengelaborasi ilmu? Pertanyaan ini, lama dan cukup panjang menyita
pemikiran Bert.
Untuk kepentingan dimaksud, Bert bersama
grupnya kemudia menyelenggarakan kajian khusus dalam studi lingkaran yang
disebut dengan Central of Philosophy and
Social Problem Studies. Sampailah pada suatu waktu, Bert bersama Nanan,
Dudung, Abdusalam dan Kikim Tarkim, menyimpulkan nalar ilmiah berdasarkan
dimensi historis Intelektual masyarakat Muslim.
Bert membagi tiga metodologi ini, ke dalam
tiga grup yang rutin mereka laksanakan. Tarkim diberi tuhas untuk mengkaji
metode bayani, Nanan dan Dudung diminta untuk mengkaji metode Burhani dan Bert
sendiri akan khusus mengkaji soal metode irfani.
Bayani dalam analisis Kikim Tarkim, adalah
pengakuan bahwa sumber ilmu tidak hanya harus empiris dan rasional, tetapi juga
harus memiliki patokan dasar ilahiat. Patoka ilahiat itu bisa berupa Al-Qur’an,
Injil, Taurat, dan Jabur. Model berpikir semacam ini, dalam dunia Islam
biasanya dilakukan dalam konteks penelaahan terhadap ayat-ayat Al-Quran dan
hadis Nabi.
Bert temangut-mangut menyaksikan
mitramitra diskusinya berpikir dengan cemerlang. Bert ikut menimali pikiran dimaksud
dengan menyatakan bahwa Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (767 M) adalah salah
satu imam mazhab dalam bidang fiqih di kalangan teologi sunni. Bert mengatakan
bahwa Abu Hanifah adalah sosok pertama yang mendeklarasikan analogi atau qiyas sebagai sumber hukum dalam Islam.
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Abu Abd
Allah al-Syahbani (780-855 M/164-241 M) adalah fuqaha dan teolog penting di kalangan masyarakat Muslim sunni
lainnya yang juga melahirkan produk fiqhiyah.
Bert menjelaskan bahwa sheikh al-Islam yang disematkan kepada Ahmad Ibn Hanbal,
adalah gelar kehormatan yang agung bagi kelompok sunni.
Bagian metode irfani, digelar secara
serius oleh Bert. Bert mengawali pembahasan irfani di forum itu dengan memberi
penjelasan irfani dan disebutnya sebagai modelpenalran yang didasarkan atas
pendekatan dan pengalaman spiritual langsung (direct experience) seseroang di balik realitas yang tampak.
Bert dalam narasi lebih lanjut mengatakan
bahwa lahirnya kaum sifustik Muslim dengan menggambarkan tiga tokoh besar yang
lahir karena metode ini. Ketiga tokoh itu adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad
bin Ahmad bin Abdullah al-Hatimi, yang kemudian dikenal dengan nama Ibnu al
Arabi (1165 M).
Bert menjelaskan bahwa dalam tradisi
Islam, belajar tidak selalu berasal dari guru yang tunggal. Itulah tradisi
intelektual Muslim, kata Bert menyakinkan. Kamu tidak boleh dan tidak harus
hanya berguru kepada satu kelompok. Bergurulah dengan banyak orang dan banyak
komunitas.
Gagasan sufi Ibn Arabi dikenal publik
dengan rumusan wihdatul wujud (kesatuan
wujud) antara manusia dengan penciptanya. Melalui gagasan ini, kata Bert yang
sempat mempresentasikan gagasan ini di Banda Aceh, dalam pandangan Ibnu Al
Arabi, semua wujud yang ada sebenarnya hanya satu sebab wujud makhluk pada
hakikatnya wujud khalik pula.
Bert meyakinkan ulang bahwa sufi awal
Muslim bukan hanya sangat puitus, seperti Rummi misalnya, tetapi juga sangat
filosofis radikal. Ibn Arabi misalnya memandang manusia dana lam sebagai cermin
yang memperlihatkan (mirror)
Tuhan, sebagaimana al Jilli katakana.
Dalam posisi yang demikian menengangkan
peserta, Bert memberi kesempatan kepada tarkim untuk berkomentar atas gagasan
ilmu al Arabi ini. tarkim mempertanyakan bagaimana ketika Tuhan berkehendak
dengan nama-nama bagus-Nya yang berada di luar hitungan, esensinya bisa
dilihat? Bert dengan tangkas menyatakan bahwa itulah Dia yang menyebabkan
nama-nama itu bisa dilihat dalam sebuah wujud mikrokosmik, karena eksistensi
meliputi seluruh objek penglihatan dan melalui itu pulalah kesadaran terdalam
Tuhan menjadi termanifestasikan di hadapan-Nya. Itulah yang kemudia disebut
makhluk.
Tarkim mengangguk meski sangat sulit
menerima gagasan ini.
Tokoh lain dari kaum sufi, kata Bert
adalah Rabi’ah Al Adawiyah binti Ismail al Adawiyah al Bashriyah (94-185 H). Ia
dikenal dengan nama Rabi’ah al Adawiyah. Bert menjelaskan bahwa ajaran Cinta
Rabi’ah al Adawiyah memiliki hakikat makna yang sesungguhnya. Cinta rabi’ah al
Adawiyah adalah cinta ketuhanann yang sulit dielaborasi pasti, baik melalui
kata maupun symbol. Cinta Rabi’ah adalah cinta spiritual, bukan al-hubbi al-hawa atau cinta lain yang
bersifat basyariyat.
Problemnya, Nanan dan Dudung Abdusalam
menimpali, dari berbagai diskusi yang digelar sejak tiga mingu terakhir, apa
yang dapat disimpulkan dari tiga metodologi yang di-create intelektual Muslim?
Melalui ketiga metodologgi itu kata Bert,
ilmu pengetahuan telah berhasil mencapai titik optimum dengan capaian yang luar
biasa.
Dari berbagai nalar di atas, aku kata
Bert, dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan dalam visi keislaman seperti
terlihat tadi, diakui keharusannya oleh tokoh sekelas Syad Husein Nasr (1992).
Menurutnya, model sintetik atas runyamnya basis keilmuan yang selama ini
muncul, sangat mendesak untuk dilkaukan perubahan paradigm.
Cara kerja ilmuwan berdasarkan metodologi
di atas, dalam realitas sejarah Islam memang tidka selalu seiring sejalan.
Namun, jika kita mencoba menganalisis dalam pendektan sejarah, runutu
perkembangannya teradi mulai dai pendekatan bayani,
burhani dan kemudia irfani. Masing-masing metodologi ni, satu sama lain
telah melahirkan basis keilmuan yang berbeda.
6.
Pudarnya Tradisi Ilmiah Muslim Mediterania
Jika intelektual Muslim demikian besar
memberi pengaruh atas perkembangan dunia ilmu dan peradaban dunia, lalu mengapa
hari ini, Islam justru berada dalam barisan terbelakang dibandingkan misalnya
dengan delapan agama ain di dunia. Bert selalu tergangun dengan situasi ini dan
ia ingin tahuh apa yang tmenjadi penyebab kemunduran masyarakat Muslim ini.
Suatu hari Bert membaca pikiran Rasyid
Ridha Intelektual Muslim abad ke-19 yang mengembangkan pikirannya di
Universitas AL-Azahr Kairo. Bert bertemu dengan pemikirannya yang
mempertanyakan: Kenapa Masyarakat Muslim tertinggal? Dengan bacaannya yang
menyimpulkan bahwa kemunduran Islam, karena komunitas ini meninggalkan tradisi
Muslim yang intelek. Intelektualitas adalah budaya Muslim dan ini ditinggalkan,
cetus Bert suatu hari.
Seiring dengan menurunnya minat masyarakat
terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan bahkan melakukan penolakan terhadap
filsafat, dunia Barat mengambil manfaat dari kekalahannya pada Peran Salib
untuk mengambil ilmu dan peradaban yang dibangun masyarakat Muslim.
Sehingga jika mau sedikit jujur, peradaban dan
perkembangan ilmu pengetahuan yag berkembang di Barat saat ini, adalah suatu
proses penting yang telah dilintasi dunia Islam. Dunia Islam bahkan menjadi
“transmisi” yang cukup signifikan dan cukup efektif bagi pertumbuhan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat Modern (A. Khudori Sholeh,
2004: xxii).
VI
BARAT MODERN DAN
TRADISI TEKNISME
1.
Masuknya Tradisi Ilmu ke Dunia Barat
Suatu malam sehabis melaksanakan salat
Isya bersama Kaisar, Bert duduk bersila. Salat yang diimami Kaisar dengan
muazin Marhum itu, terasa syahdu karena ayat-ayat yang dibacanya begitu
memesona. Sehabis melaksanakan salat isya itu, Kaisar meminta Isah untuk segara
menyediakan makan malam.
Kaisar mengawali pembicaraan malai itu. Ia
mengatakan mengapa dunia Islam terbelakang dan mnegapa Barat maju dalam episode
terakhir? Bert dan Marhum berdiam diri. Dalam suasana seperti itu, kaisar
kembali mengambil ali hpembicaraan, ia mengatakan bahwa Barat maju karena
filsafat Averros (Ibnu Rusyd) yang cenderung Aristotalian masuk ke Eropa
melalui Cordova, Spanyol. Di zaman dulu, Spanyol adalah negeri jajahan umat
Islam.
Ketika Kaisar mengatakan Spanyol sebagai
negeri jajahan umat Islam, Bert terperanjat dan kemudian bertanya. Apa betul
dunia Islam pernah menjajah? Bukankan penjajahan sanagt dilarang dalam
prinsip-prinsip Islam?
Kaisar dengan landau menjawab: Bagamana
mungkin aku tidak harus mengatakan penjajahan, sebab selam ahampir 500 tahun
dunia Islam bercokol di sana, hamper tidak ada bangsa Spanyol yang masuk Islam.
Karena itu jangan heran ya, kalau ternyata Spanyol sampai hari ini memiliki
tradisi Islam yang kuat, meski masyarakatnya tidak lagi ada yang muslim.
Ibnu Rusyd telah mewariskan sesuatu yang
bersifat kualitatif dalam bidang pengetahuan dan teknologi, kata Kaisar. Tanpa
peran masyarakat Muslim, tentu ilmu yang bertumbuh di Yunani, di Iskandaria,
dan beberapa kota di Turki, agak sulit untuk dikembangkan.
Bert memuncratkan suatu pertanyaan
mendasar, bagaimana kronolgi itu berjalan?
Kaisar lalu menjawab: “Ibnu Rusyd memiliki
karya yang mashyur, judulnya tahafut ala
tahafut al falasifah al Ghazali. Ini adalah buku filsafat yang mewakili
pemikiran Aritoteles. Pikiran Aristoteles ini, bukan saja sempat diharamkan
dunia Kristen Awal, tetapi juga, dilawan Al Ghazalai di Timur Tengah, jelang
keruntuhan imperium kelimuan dunia Islam.
Tetapi, kata Marhum menimpali, jangan lupa
bahwa al Ghazali sendiri sebenarnya filsuf. Hanya saja, doktri filosofi al
Ghazali cenderung sangat Platonik dan Soeratian.
Bert kemudian bertanya, mengap alairan
dalam filsafat sama dengan aliran dalam teologi. Mereka selalu saling
meyalahkan keyakinan yang lain. Kaisar dan Marhum tertawa simpul.
Lalu dimana aku harus menempatkan Ibnu
Rusyd dalam kaitannya dengan kemajuan Barat temporer? Kata Bert. Kaisar
mengatakan: “setiap cara bepikir aan berpengaruh secara langsung terhadap cara
bertindak. Bagaimana manusia bertindak dan berbuat, itu didorong oleh corak
berpikirnya.” Ibnu Rusyd yang sejatinya Aristotalian itu, sjatinya mengubah mindset masyrakat Barat untuk memiliki
kesadaran empiris.
Bert dan Marhum menganggukkan kepalanya
tanda setuju dan kagum. Diskusi selesai di situ. Mereka berdua meninggalkan
meja makan.
2.
Ilmu dan Paradigma Barat
Suatu siang setelah empat
minggu seabis diskusi di malam itu, datanglah serombongan orang Australia dan
Inggris ke pedalaman kampong di mana Kaisar dan Bert tinggal.
Di antara sekian banyak
warga sing yang datang ke tempat itu, ada beberapadi antaranya merupakan orang
Indonesia, meski sama memakai Salib, tetapi cenderung agak arogan. Buktinya
baru kurang lebih dua bulan tinggal di kampong itu, ia mulai menggoda umat
Islam setempat untuk meninggalkan tradisi dan bahkan ajaran agama Islam yang
mereka anut.
Sampailah berita ini
kepada Marhum. Akhirnya, Marhum melaporkan kejadian dimaksud kepada kaisar di
suatu malam dua hari setelah kejadian itu.
Malam itu, Kaisar dengan
lebut berkata kepada Marhuhm, biarkan saja. Orang Kristen itu, belum tahun
bagaimana kontribusi Umat Islam terhadap mereka. Kaisar lebih lanjut
mengatakan, adalah sah karena dengan fakta sejarah jika harus dikatakan ahwa
kepeloporan revolusioner, dilakukan umat Islam telah menyebabkan lahirnya “anak
kandung” renaissance dan aufklarung di Barat dan Eropa.
Dari mana kita harus
mengatakan bahwa pemikiran mereka dipengaruhi dunia Islam dan siapa yang
memberi pengaruh atasnya, tanya Bert suatu malam kepada Kaisar. Kaisar kemudia
mengatakan bahwa terdapat dua faktor yang menyebabkan mengapa Barat dan Eropa
pada akhirnya mengenal peradaban. Kedua faktor ini adalah:
Pertama, masuknya
filsafat Ibnu Rusyd yang Aristotalian dengan sendirinya membawa serta pemikiran
filsuf lain di generasi sebelum Ibnu Rusyd.
Kedua, ketika terjadi
perang salib selama kurang lebih tiga abad di Timur Tengah, umat Islam tidak
kalah oleh masyarakat Kristen. Saat sebelum perang salib berlangsung, di Eropa
dan Barat, peradaban mereka demikian tertinggal.
Saat itu Bert menyela
dengan mengatakan: “mereka mencintai ilmu, kok membakar perpustakaan? Kaisar
dengan tangkas mengatakan kalau mereka tidak pernah membakar perpusatakaan.
Yang membakar perpustakaan, adalah bangsa Barbar dari Asia. Dari Timur Leng.
Oooh yang membuat sungai
Tinggris menghitam akibat pembakaran buku itu, bukan bangsa Barat dan Eropa ya,
kata Bert! Bukan kata Kaisar.
Marhum tampak kaget
dengan pernyataan Kaisar tadi.
Kaisar mengatakan bahwa
bangsa Barat dan Eropa yang jauh dari ikmu dan baru belajar peradaban ke
masyakarat Timur Tengah saat perang salib dimaksud, terjadi karena perkembangan
ilmu demikian mandul.
Aku kata Kaisar, sering
mengatakan bahwa dunia ini selalu mencari titik keseimbangan. Jika ada gerakan
yang demikian massif untuk membuat sekularisme, maka, pasti aka nada gerakan
yang juga bersifat massif untuk melahirkan gerakan sebaliknya. Karen amenjadi
dapat dipahami, jika, banyak di antara masyarakat Kristiani yang hendak
menunjukkan wataknya sebagai pengikut ajaran agama Kristen yang taat. Salah
satunya mungkin yang datang ke tempat kita beberapa waktu ini.
3.
Capaian Barat dalam Dunia Ilmu
Bert menggoreskan tinta biru saat harus
menulis capaian yang berhasil dibangun Barat sejak masa kevakuman Islam di abad
ke-13, sampai era temporer. Bert kagum atas revolusi ilmu pengetahuan yang
dihasilkan ilmuwan dan filsuf Barat Modern yang sampai hari ini terus
berkembang. Perkembangan ini semakin memperlihatkan hasil yang maksimal
terutama setelah Albert Einstein merombak kerangkan filsafat Newton yang sudah
lama mapan dalma jagat ilmu pengetahuan dunia.
Bert membaca dengan tulus pikiran Einstein
melalui teori quantum-nya. Melalui
karya Einstein ini, manusia modern dapat mengembangkan ilmu dasar, seperti
astronomi, fisika, kimia, biologi dan molekuler yang pada tahap tertentu telah
dibangun di Yunani dan Dunia Islam, menjadi ilmu pengetahuan yang demikian luas
dan mendalam.
Berbeda dengan tradisi ilmuwan Muslim,
dunia Barat membangun peradaban, salah satunya melalui karya filosofis Ibnu
Rusyd, ternyata dalam lapangan paktis selalu mengabadikan “keperkasaan” Yunani
Kuno ke dalam hampir setiap wilayah kehidupan mereka dan ternyata cenderung
tidak apresiatif terhadap masyarakat Muslim, kecuali dalma jumlah yang sedikit.
Yunani Kuno, sebagaimana biasa Bert bacar
dari tulisan Akbar S. Ahmed terus memengaruhi peradaban Barat. Padahal sekali
lagi kata Bert, dunia Islam tidak luput memberi apresiasi bahkan menjadi
penyelamat filsafat Yunani Kuno dan menempatkan dalam supremasi peradaban dan
ilmu. Karena itu, kata Bert, dimensi teknologi dimasa keemasan Barat modern
saat ini, sesungguhnya tidak dapat dipaskan dari ide-ide normative yang
dibangun masyarakat Muslim. Dengan bahasa lain, Barat, harus dicatat telah
memiliki utang budi yang banyak kepada dunia Islam, khususnya ketika mereka
melahirkan Peradaban.
VII
SEJARAH YANG
HILANG
Tidak Perlu
Disembunyikan
Bert
mengayunkan kakinya dengan pelan. Matanya berbinar dan cenderung lembap. Meski
dalam suasan yang demikiann remang, kegelisahan Bert tetap tampak dan dapat
dilihat dengan jelas oleh siapa pun yang sempat melihat atau menengok ke
kamarnya.
Isah
pembantu rumah tangga itu, melihat dengan jelas dengan Bert lagi galau. Rayapan
senja berjalan pelan mengiringi putaran waktu, sampai suara azan Maghrib
dikumandangkan. Bert tetap diam dan tidak beringsut di ruang kamarnya tanpa ada
yang menemani.
Dengan
berbagai jurnal yang dibacanya, Bert yang bangga pada agama yang dianutnya itu,
akhirnya telah menyembulkan suatu harapan besar bahwa dunia Islam tidak seperti
banyak pihak mempersepsinya.
Dunia
Islam misalnya, kata Bert, meski hari ini jauh tertinggal dibandingkan dengan
dunia Barat yang Kristen, bahkan jauh tertinggal dibandingkan dengan penganut
dengan agama lain yang ada dimuka bumi. Di era Islam ini, filsafat yang
berkembangan di Yunani, dalam beberapa hal bahkan telah “dibumikan” ke dalam
teori-teori pengetahuan yang praksis dan mapan, selain tentu mengandung nilai
spiritulitasnya yang tinggi.
Jika
pelacakan ini diteruskan, kata Bert, Barat dengan semboyan dan kesombongan
modernitasnya, sebenarnya harus mengakui bahwa kemajuannya selalu merupakan
lanjutan logis dari perkembangan pemikiran manusia sebelumnya.
Bert
mengutip Kuhn, mengilustrasi bahwa setiap komunitas masyarakat, setiap fase
dalam sejarah kemanusiaan, selalu tersedia paradigm sesuai dengan konteks waktu
dan tempat. Asumsi inilah yang dijadikan alas berpikir Bert.
Ilmuwan
Muslim ternyata berbeda dengan epistemology sebelumnya, baik pada Kristen Awal
maupun pada Yunani Kuno.
Fakta
menunjukkan bahwa umat Islam mengambil sikap kompromistik dalam bingkai sains
dan kemudian Barat mengambilnya dengan sikap keilmuwan, seperti Yunani Kuno.
Dunia Barat mencerabut akar keilmuan yang kudus, kea rah ilmu yang benar-benar
sekuler. Akibtanya, gugatan terhadap capaian pengetahuan dunia Barat, terasa
sangat kencang.
Padahal
jika mau sedikit jujur, capaian teknologi dunia Barat, sebenarnya kata Bert,
mereka gagal mencapai tujuan terbentuknya manusia yang memiliki keterampilan
duniawi manusai yang lebih abadi. Lebih eternal dan tentu bertujuan Surgawi.
Lalu bagaimana hal itu dapat terbentuk, jika dalam konteks penghormatan pun
tidak mampu kita tunaikan, terlebih jika kita berupaya untuk melupakannya.
Komentar
Posting Komentar