[RESUME] Filsafat Ilmu
BAB I
PENDAHULUAN
Orang-
orang yang memelajari bahasa Arab mengalami sedikit kebingungan tatkala
menghadapi kata “ilmu”. Dalam bahasa Arab kata al’ilm berarti pengetahuan (knowledge),
sedangkan kata “ilmu” dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan science.
Dalam
mata kuliah Filsafat Pengetahuan (Philosopy of Knowledge) yang didiskusikan tidak hanya pengetahuan sain (science), didiskusikan juga seluruh yang
disebut pengetahuan termasuk pengetahuan yang “aneh, aneh” seperti pelet, kebal, santet, saefi, dan
lain-lain.
Pengetahuan
ialah semua yang diketahui. Menurut Al-Qur’an, tatkala manusia dalam perut
ibunya, ia tidak tahu apa-apa. Tatkala ia baru lahir pun barangkali ia belum
juga tahu apa-apa.
Semakin
bertambahnya umur manusia makan semakin banyak pengetahuannya. Dilihat dari
segi motif, pengetahuan itu diperoleh menlalui du acara. Pertama, pengetahuan
yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa motif, tanpa keingintahuan dan
tanpa usaha. Kedua, pengetahuan yang didasari motif ingin tahu.
Salah
satu tujuan perkuliahan Filsafat Pengetauhan ialah agar kita memahami kapling
pengetahuan. Yang akan dibahas berikut ini hanyalah pengetahuan yang
diusahakan.
Pengetahuan
sain harus berdasarakan logika (dalam arti rasional). Pengetahuan sain ialan
pengetahuan dan didukung bukti empiris. Namun, gejala yang paling menonjol
dalam pengetahuan sain ialah adanya bukti empiris itu.
Dalam
bentuknya yang sudah baku, pengetahun sain itu mempunyai paradigm dan metode
tertentu. Paradigmanya disebut paradigm sain (scientific paradigm) dan metodenya disebut metode ilmiah (metode
sain, scientific method). Formula
utama dalam pengetahuan sain ialah buktikan bahwa itu rasional dan tunjukkan
bukti empirisnya.
Formula
itu perlu sekali diperhatikan karena adakalanya kita menyaksikan bukti
empirisnya ada tetapi tidak rasional. Yang seperti ini bukanlah pengetahuan
sain atau ilmu.
Kebenaran
pengetahuan filsafat hanya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Bila
rasional, benar, bila tida, salah. Kebenarannya tidak pernah dapat dibuktikan
secara empiris. Bila ia rasional pernah dapat dibuktikan secara empiris. Bila
ia rasional dan empiris, maka ia berubah menjadi pengetahuan sain.
Objek
penelitiannya adalah objek-objek yang abstrak, karena objeknya abstark, maka
temuannya juga abstrak. Paradigmanya ialah paradigm rasional (rational paradigm), metdoenya metode
rasonal (Kerlinger menyebutnya method of
reason).
Sampai
disini kta sudah mengenal dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan sain yang
rasional empiris, dan kedua pengetahuan filsafat yang hanya rasional.
Jeruk
ditanam buahnya jeruk. Ini pengetahuan sain, jeruk selalu berbuah jeruk karena
ada hokum yang mengatur demikian. Ini pengetahuan filsafat.
Masih
ada orang, amat kecil jumlahnya, ingin tahu lebih jauh lagi. Ereka bertanya
“Siapa yang membuat hokum itu?” pertanyaan ini sulit dijawab. Tetapi masih
dapat dijawab oleh filsafat. Salah satu teori dalam filsafat mengatakan bahwa
hokum itu dibuat oleh alam itu sendiri secara kebetulan. Teori ini lemah, tadi
sudah dikatakan. Teori lain hukum itu dibuat oleh Yang Maha Pintar. Ini logis
(dalam arti supra-rasional). Jadi, teori kedua ini benar secara filsafat. Ini
masih pengetahuan filsafat. Yang Maha Pintar itu seringkali disebut Tuhan. Ini
masih pengetahuan filsafat.
Masih
ada orang, yang jumlahnya segelintir saja, ingin tahu lebih jauh lagi. Mereka
bertanya lebih jauh lagi. Mereka bertanya “Siapa Tuhan itu, saya ingin
mengenal-Nya, saya ingin melihat-Nya, saya ingin belajar langsung kepada-Nya”.
Tuntunan orang-orang “nekad” ini tidak dapat dilayani oleh pengetahuan sain dan
tidak juga oleh pengetahuan filsafat. Objek yang hendak mereka ketahui bukanlah
objek empiris dan tidak juga dapat dijangkau akal rasional. Objek itu
abstrak-supra-rasional atau meta-rasional.
Objek
abstrak-supra-rasional itu dapat diketahui dengan menggunakan rasa, bukan
pancaindera dan atau akal rasional. Bergson menyebut alat itu instuisi, Kant
menyebutnya moral atau akal praktis, filosof muslim seperti Ibu Sinna menyebutnya
akal mustafad, shufi-shufi muslim menyebutnya qalb,
dzawq, kadang-kadang dhamir, kadang-kadang sirr. Pengetahuan jenis ini memang
aneh. Paradigmanya oleh Ahmad Tafsir disebut paradigm mistik (mystical paradigm), metodenya ia Ahmad
Tafsir sebut metode latihan (riyadhah)
dan metode yakin (percaya). Pengetahuan jenis ini Ahmad Tafsir sebut
pengetahuan mistik (mystical knowledge).
Kebenarannya pada umumnya tidak dapat dibuktikan secara empiris, selalu tidak
terjangkau pembuktian rasional.
Logis dan Rasional
Ahmad Tafsir mengajarkan filsafat (sebagai dosen)
sejak tahun 1970. Sampai dengan sekitar tahun 2000 beliau menganggap “yang
logis” adalah sama dengan “yang rasional”.
Kira-kira sejak tahun 2001 beliau
melihat ada perbedaan antara kedua istilah itu. Adanya perbedaan itu dimulai
ketika beliau membaca untuk kesekian kalinya buku Kant. Kant antara lain
mengatkan bahwa rasional itu sebenarnya sesuatu yang masuk akal sebatas hukum
alam.
Ternyata istilah logis dan rasional
merupakan dua istilah yang sangat popular dalam arti dua istilah itu amat
sering digunakan orang, baik ia kaum terpelajar maupun kaum yang bukan
tergolong terpelajar, digunakan orang kota dan juga orang desa, bahkan
anak-anakpun banyak yang sering menggunakan kedua istilah itu.
Ada orang bercerita kepada seseorang
yang lain bahwa ia baru saja mengantarkan temannya yang sakit aneh ke seorang
dukun. Dukun mengobatinya dengan cara yang tidka umum dikenal. Lantas orang
sakit itu sembuh. Orang yang diceritai itu langsung mengatakan bahwa itu
musyrik karena pengobatan itu tidak rasional. Ada anak-anak saling bercerita
tentang hantu, bahwa ia melihat hantu yang rupanya begini-begini, tingkahnya
begini-begini. Kata yang seorang “ah. Sudahlah, itu tidak rasional” kadang-kadang ia berkata “ah, sudahlah, itu tidak logis.” “Bila logis oke, bila tidak, nanti dulu” Demikian contoh kalimat yang
sering kita dengar dari banyak orang.
Apa yang kita dapat? Yang kita dapat
ialah (1) memang dua istilah itu popular dalam arti sering digunakan oleh hampir
semua orang dari semua kelas dan golongan, (2) Pengguna istilah itu tidak
mempedulikan apakah dua istilah sama persis atau ada persamaan atau sama sekali
berbeda.
Kant mengatakan bahwa apa yang kita
katakan rasional itu ialah suatu pemikiran yang masuk akal tetapi menggunakan
ukuran hokum alam. Dengan kata lain, menurut Kant rsional itu ialah kebenaran
akal yang diukur dengan hukum alam.
Teori
Kant ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Tatkala Anda mengatakan Nabi Ibrahim
dibakar tidak hangus, itu adalah hal yang tidak rasional karena menurut hukum
alam sesuatu yang dibakar pasti hangus, kecuali bahan itu memang materi yang
tidak hangus dibakar, sedangkan Ibrahim itu adalah materi yang hangus dibakar. Tetapi,
pesawat terbang yang beratnya ratusan ton, kok dapat terbang? Ya, karena
pesawat itu telah dirancang sesuai dengan hukum alam. Itu rasional. Orang tidak
mungkin kebal karena hal itu berlawanan dengan hukum alam. Demikianlah sebagian
pernyataan sebagai contoh.
Kesimpulannya
jelas: (1) sesuatu yang rasional ialah sesuatu yang mengikuti atau sesuai
dengan hukum alam; (2) yang tidak rasional ialah yang tidak sesuai dengan hukum
alam; (3) kebenaran akal diukur dengan hukum alam.
Dulu,
Ahmad Tafsir menyangka yang rasional itu amat tinggi kedudukannya, ia dapat
mengatasi hukum alam. ternyata tidaklah demikian. Kebenaran rasional itu
tidaklah sehebat yang saya pikirkan. Ia sebatas hukum alam. Kebenaran rasional
tidka lebih dari kebenaran sejauh yang ditunjukkan hukum alam.
Bagaimana
dengan logis? Kebenaran logis terbagi dua, pertama logis-rasional, seperti yang
telah diuraikan diatas tadi, kedua logis supra-rasional. Logis-supra-rasional
ialah pemikiran akal yang kebenarannya hanya mengandalkan argument, ia tidak
diukur dengan hukum alam. Kebenaran logis-surpa-rasional itu benar-benar
bersifat abstrak. Kebenaran logis-supra-rasional itu ialah kebenaran yang masuk
akal sekalipun melawan hukum alam.
Jadi,kasus
Ibrahim in adalah kasus yang tidak rasional tetapi logis dalam arti logis-supra
rasional. Kesimpulannya ialah: yang logis ialah yang masuk akal. Terdiri atas
yang logis-rasional dan yang logis-supra rasional.
BAB 2
PENGETAHUAN SAIN
Pada Bab 2 ini dibicarakan ontologi,
epistemologi dan aksiologi sain. Uraian mengenai ontology sain membahas hakikat
dan struktur sain. Uraian tentang struktur sain tidka terlalu bagus, hal itu
disebabkan oleh begitu banyak macam sain, karena banyaknya maka banyak yang
tidak saya ketahui. Epistemology sain difokuskan pada caar kerja metode ilmiah.
Sedangkan pembahasan aksiologi sain diutamakan pad acara sain menyelesaikan
masalah yang dihadapi manusia.
A.
Ontologi Sain
Disini
dibicarakan hakikat dan struktur sain. Hakikat sain menjawab pertanyaan apa
sain itu sebenarnya. Sturktur sain seharusnya menjelaskan cabang-cabang sain,
serta isi setiap cabang itu. Namun di sini hanya dijelaskan cabang-cabang sain
dan itu pun tidak lengkap.
1.
Hakikat Pengetahuan Sain
Pada dasarnya cara kerja sain adalah kerja mencari
hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap atau mencari
pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sain ialah tidak ada kejadian
tanpa sebab.
Ilmu atau sain berisi teori. Teorti itu pada dasarnya
menerangkan hubungan sebab akibat. Sanintidak memberikan nilai baik atau buruk,
halal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah; sain hanya
memberikan nilai benar atau salah.
2.
Struktur Sain
Dalam
garis besarnya sain dibagi dua, yaitu sain kealaman dan sain sosial.
1)
Sain kealaman
: Astronomi; Fisika; Ilmu Bumi; Ilmu Hayat
2)
Sain sosial
: Sosiologi; Antropologi; Psikologi; Ekonomi; Politik
3)
Humaniora
: Seni; Hukum; Filsafat; Bahasa; Agama; Sejarah
B.
Epistemologi Sain
Pada
bagian ini diuraikan objek pengetahuan sain, cara memperoleh pengetahuan sain
dan cara mengukur benar-tidaknya pengetahuan sain.
1.
Objek Pengetahuan Sain
Objek kajian sain haruslah objek-objek
yang empiris sebab bukti-bukti yang harus ia temukan adalah bukti-bukti ang
empiris. Bukti empiris ini diperlukan untuk menguji bukti rasional yang telah
dirumuskan dalam hipotesis.
Objek-objek yang dapat diteliti oleh sain
banyak sekali: alam, tetumbuhan, hewan dan manusia, serta kejadian-kejadian di
sekitar alam, tetumbuhan, hwan dan manusai itu; semuanya dapat diteliti oleh
sain.
2.
Cara Memperoleh Pengetahuan Sain
Perkembangan sain
didorang oleh paham Humanisme. Humanisme ialah paham filsafat yang mengajarkan
bahwa manusai mampua mengatur dirinya dan alam.
Untuk menjamin tegaknya
kehidupan yang teratur itu diperlukan aturan. Manusia juga perlu aturan untuk
mengatur alam.
Menurut mereka aturan itu
harus dibuat berdasarkan dan bersumber pada sesuatu yang ada pada manusia. Alat
itu ialah akal. Aturan ialah logika alami yang ada pada akal setiap manusia.
Akal itulah alat dan sumber yang paling dapat disepakatai. Maka, Humanisme
melahirkan Rasionalisme.
Rasionalisme ialah paham
yang mengatakan bahwa akal itulh pencari dan pengukur pengetahuan. pengetahuan dicari
dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula.
Dicari dengan akal ialah
dicari dengan berpikir logis. Diukur dengan akal artinya diiuji apakah temuan
itu logis atau tidak. Bila logis, benar; bila tidak, salah.
Diperlukan alat lain.
Alat itu ialah Empirisme.
Empirisme ialah paham
filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti
empiris. Nah dengan Empirisme inilah aturan (untuk mengatur aturan manusia dan
alam) itu dibuat. Empirisme hanya menemukan konsep yang sifatnya umum. Konsep
itu belum operasional, karena belum terukur. Jadi, masih diperlukan alat lain.
Alat lain itu ialah Positivisme.
Positivisme mengajarkan
bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya, yang terukur.
Positivisme sudah dapat
disetujui utuk memulai upaya membuat
aturan untuk mengatur manusia dan mengatur alam. Kata Positivisme, ajukan
logikanya, ajukan bukti empirisnya yang terukur. Tetapi bagaimana caranya? Kita
masih memerlukan alat lain. Alat lain itu ialah Metode Ilmiah. Metode Ilmiah
mengatakan, untuk memperoleh pengetahuan yang benar lakukan langkah berikut: logico-hypothetico-verificatif.
Maksudnya, mula-mula buktikan hawa itu logis, kemudian ajukan hipotesis
(berdasarkan logika itu), kemudia lakukan pembuktian hipotesis itu secara
empiris.
Metode Ilmiah itu sceara
teknis dan rince dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut Metode Riset.
Riset menghasilkan Model-model Penelitian. Nah, model-model Penelitian inilah
yang menjadi instansi terakhir dan memang operasional-dalam membuat aturan
tadi.
3.
Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sain
Hipotesis (dalam sain)
ialah pertanyaan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti
empirisnya. Belum atau tidak ada bukti empiris bukanlah merupakan bukti bahwa
hipotesis itu salah. Ada atau tidak ada bukti bahwa kelogisan suatu
hipotesis-juga teori-lebih penting ketimbang bukti empirisnya.
C.
Aksiologi Sain
Pada
bagian ini dibicarakan tiga hal saja, pertama
kegunaan sain; kedua, cara sain
menyelesaikan masalah; ketiga,
netralitas sain.
1.
Kegunaan Pengetahuan Sain
Sekurang-kurangnya ada tidak kegunaan
teori sain: sebagai alat membuat eksplanasi, sebagai alat peramal, dan sebagai
alat pengontrol.
1)
Teori Sebagai Alat Eksplanasi
Berbagai sain yang ada sampai sekarang ini secara umum
berfungsi sebagai alat untuk membuat eksplanasi kenyataan. Menurut T. Jacob (Manusia, Ilmu dan Teknologi, 1993: 7-8) sain merupakan suatu sistem
eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya
dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan.
2)
Teori Sebagai Alat Peramal
Tatkala membuat eksplanasi, biasanya ilmuawan telah
mengetahui juga faktor penyebab terjadinya gejala itu. Dengan “mengutak-atik”
faktor penyebab itu, ilmuwan dapat membuat ramalan. Dalam bahasa kaum ilmuwan
ramalan itu disebut prediksi, untuk membedakannya dari ramalan dukun.
3)
Teori Sebagai Alat Pengontrol
Ekplanasi merupakan bahan untuk membuat ramalan dan
kontrol. Ilmuwan, selain mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala,
juga dapat membuat kontrol.
Perbedaan prediksi dan kontrol ialah prediksi bersifat
pasif; tatkala ada kondisi tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya
akan terjadi ini, itu, begini atau begitu. Sedangkan kontrol bersifat aktif;
terhadap sesuatu keadaan, kita membuat tindakan atau tindakan-tindakan agar
terjadi ini, itu begini atau begitu.
2.
Cara Sain Menyelesaikan Masalah
Pertama, ia mengidentifikasi masalah. Identifikasi biasanya
dilakukan dengan cara mengadakan penelitian. Hasil penelitian iti ia analisis
untuk mengetahui secara persis segala sesuatu dalam suatu masalah.
Kedua, mencari teori tentang sebab-sebab masalah. Biasanya
mencari dalam literature.
Ketiga, kembali membaca literature lagi. Sekarang mencari
teori yang menjelaskan cara memperbaiki suatu masalah.
Cara filsafat dan mistik tentu lain lagi.
Langkah baku sain dalam menyelasikan masalah: identifikasi masalah, mencari
teori, menetapkan tindakan penyelesaian.
3.
Bonus
Netralitas Sain
Netral biasanya diartikan tidak memihal. Dalam kata
“sain netral” pengertian itu juga terpakai. Artinya: sain tidak memihak pada
kebaikan dan tidak juga pada kejahatan. Itulah sebabnya istilah sain netral
sring diganti dengan istilah sain bebas nilai.
Apa untungnya bila sain netral? Bila
sain itu kita anggap netral, atau kita mengatakan bahwa sain sebaiknya netral
keuntungannya ialah perkembangan sain akan cepat terjadi. Karena tidak ada yang
menghambat atau mengahalangi tatkala peneliti (1) memilih dan menetapkan objek
yang hendak diteliti, (2) cara meneliti, dan (3) tatkala menggunakan produk
penelitian.
Orang yang menganggap sain tidak
netral, akan dibataasi oleh nilai dalam (1) memilih objek penenlitian, (2) cara
meneliti, dan (3) menggunakan hasil penelitian.
Apa kerugiannya bila kita ambil
paham sain netral? Bila kita pilih paham sain netral maka kerugiannya ialah ia
akan melawan keyakinan misalnya keyakinan yang berasal dari agama.
Yang paling merugikan kehidupan
manusia ialah bila paham sain itu telah menerapkan pahamnya pada aspek aksiologi.
Mereka dapat saja menggunakan hasil penelitian mereka untuk keperluan apa pun
tanpa pertimbangan nilai.
Paham sain netral sebenarnya telah
melawan atau menyimpang dari maksud penciptaan sain, tadinya sain dibuat untuk
membantu manusai dalam menghadapai kesulitan hidupnya. Paham ini sebenarnya
telah bermakna bahwa sain itu tidak netral, sain memihak pada kegunaan membantu
manusia menyelesaikan kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Sementara itu,
paham sain netral justru akan memberikan tambahan kesulitian bagi manusia.
Berdasarkan uraian sederhana di atas
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa yang ling bijaksana ialah netral. Sain itu
bagian dari kehidupan, sementara kehidupan itu secara keseluruhan tidaklah
netral.
Krisis Sain Modern
Menurut Tarnas, sedikitnya ada enam hal yang menarik
perhatian tentang sain modern. Pertama,
postulat dasar sain modern ialah space,
matter, causality, dan observation,
ternyata semuanya dinyatakan tidak benar. Kedua,
dianutnya pendapat Kant bahwa yang orang katakana jagad raya, bukanlah jagad
raya yang sebenarnya, tetapi jagad raya sebagaimana diciptakan oleh pikiran
manusia. Ketiga, determinisme Newton
kehilangan dasar, orang pindah ke stochastic.
Keempat, partikel-partikel sub-atomik
terbuka untuk interpretasi spiritual. Kelima,
adanya uncertainty sebagaimana ditemukan oeh Heisenberg. Keenam, kerusakan ekologi dan atmosfir
yang menyeluruh yang disebut Tarnas planetary
ecological crisis.
Dari enam hal yang menarik di atas
Tarnas menyimpulkan bahwa orang merasa tahu tentang jagad raya, paahal tidak;
tidak ada jaminan orang dapat tahu; yang dikatakan jagad raya sebenarnya
menunjukkan hubungan orang dengan jagad raya itu, atau jagad raya sebagaimana
diciptakan oleh orang itu.
Pengembangan Ilmu
Secara ilmu teori ialah penapat yang beralasan.
Karena isi ilmu adalah teori, maka
mengembangkan ilmu adalah mengembangkan teorinya. Ada beberapa kemungkinan
dalam mengembangkan teori. Pertama, menyusun teori baru. Kedua, menemnukan
teori baru untuk mengganti teori lama. Ketiga, merevisi teori lama. Keempat,
membatalkan teori lama.
Bagaimana prosedur serta
langkah-langkah pengembangan ilmu akan amat ditentukan oleh jenis ilmnya. Itu
memerlukan organisasi biaya tinggi kadang-kadang; memerlukan tenaga yang
sedikit atau banyak; memerlukan waktu, ada yang sebentar ada yang lama, bahkan
ada yang sangat lama.
BAB 3
PENGETAHUAN FILSAFAT
Pada
bab ini dibicarakan ontologi, epistemologi, dan aksiologi filsafat. Dibicarakan
juga pada bab ini masalah netralitas filsafat yang akan membahas apakah
filsafat itu sebagiknya netral (value
free) atau terikat (value bound).
A.
Ontologi Filsafat
1.
Hakikat Pengetahuan Filsafat
Hatta mengatakan bahwa pengertian filsafat lebih baik
tidka dibicarakan lebih dulu; nanti bila orang telah banyak mempelajari
filsafat orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu (Hatta, Alam Pikiran Yunani, 1966, 1:3).
Poedjawijatna (Pembimbing
ke Alam Filsafat, 1974: 11) mendefiniskan filsafat sebagai sejenis
pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala
sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka.
D.C. Mulder (Pembimbing
ke Dalam Ilmu Filsafat, 1966: 10) mendefinisikan filsafat sebagai pemikiran
teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
2.
Struktur Filsafat
Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu:
ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan
satu kesatuan:
·
Ontolog,
membicarakan hakikat (segala sesuatu
); ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu;
·
Epistemologi cara memperoleh pengetahuan itu;
·
Aksiologi
membicarakan guna pengetahuan itu.
Salah satu filsafat yang
masih “baru” ialah Filsafat Perennial. Karena baru, filsafat itu diuraikan ala
kadarnya berikut ini.
Filsafat Perennial¹
Filsafat
perennial (Philosophia Perennis)
adalah filsafat yang dipandang dapat menjelaskan segala kejadian yang bersifat
hakikat menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalankan hidup yang benar,
yang menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi besar spiritulitas manusia
(lihay Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, 1995: xx).
Filsafat Pos
Modern (Post Modern Philosophy)
Pada
intinya, filsafat Pascamodern (anak-anak sering menyebutnya Posmo) mengkritik
Filsafat Modern. Orang-orang Posmo mengatakan Filsafat Modern itu harus
didekonstruksi. Karena Filsafat Modern itu didomunasi Rasionalisme, maka yang
didekontruksi itu adalah Rasionalime itu.
B.
Epistemologi Filsafat
Epistemologi
filsafat membicarajan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan),
cara memperoleh pengetahuan filsafta dan ukuran kebenaran (pengetahuan)
filsafat.
1.
Objek Filsafat
Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek
penelitian sain. Sain hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat
meneliti objek yang ada dan mungkin ada. Sebanarnya masih ada objek lain yang
disebut objek forma yang menjelaskan sifat kemendalaman penelitian filsafat.
Ini dibicarakan pada epistemologi filsafat.
Perlu juga ditegaskan (lagi) bahwa sain meneliti
objek-objek yang ada dan empiris; yang ada tetapi abstrak (tidak empiris) tidak
dapat diteliti oleh sain. Sedangkan filsafat meneliti objek yang ada
tetapi abstrak, adapun yang mungkin ada,
sudah jelas abstrak, itupun jika ada.
2.
Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat
Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan filsafat?
Dengan berpikir secara mendalam, tentang seuatu yang abstrak.. mungkin juga
objek pemikirannya sesuatu yang konkret, tetapi yang hendak diketahuinya ialah
bagian “di belakang” objek konkret. Dus
abstrak juga.
Secara mendalam artinya ia hendak mengetahui bagian
yang abstrak sesuatu itu, ia ingin mengetahui sedalam-dalamnya.
Filsafat ingin mengetahuidi belakang sesuatu yang
empiris itu. Inilah yang disebut mendalam. Tetap itu pun mempunyai rentangan.
Sejauhmana hal abstrak di belakang fakta empirisi itu dapat diketahui oleh
seseorang, akan banyak tergantung pada kemampuan berpikir seseorang.
3.
Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat
Pengetahuan filsafat
ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa
ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis
benar, bila tidka logis, salah.
Pengetahuan filsafta
ialah pengetahuan yang logis dan hanya logis. Bila logis dan empiris, itu
adalah pengetahuan sain.
Kebenaran teori filsafat
ditentukan oleh logis tidaknya teori itu. Ukuran logis tidak menghasilkan
kesimpulan (teori) itu.
C.
Aksiologi Pengetahuan Filsafat
Disini
diuraikan dua hal, pertama kegunaan pengetahuan filsafat dan kedua cara
filsafat menyelesaikan masalah.
1.
Kegunaan Pengetahuan Filsafat
Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat
memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, kedua filsafat sebagai metode pemecahan
masalah, ketiga, filsafat sebagai
pandnagan hidup (philosophy of life).
Jadi, mengetahui teori-teori filsafat amatlah perlu.
Filsafat sebagai teori filsafat juga perlu dipelajari oleh orang yang akan
menjadi pengajar dalam bidang filsafat.
Yang amat penting juga ialah filsaft sebagai methodology, yaitu cara memecahkan
masalah yang dihadapi. Disini filsafat digunakan sebagai satu cara atau model
pemecahan masalah secara mendalam dan universal.
Filsafat sebagai pandangan hidup tentu perlu juga
dietahui. Mengapa misalnya salah seorang Presiden Amerika (Bill Clinton, 1998),
telah mengaku bezina, dan masyarakatnya tetap banyak yang memberikan dukungan?
Presiden Indonesia yang mengaku berzina pasti akan dicopot oleh masyarakat
Indonesia. Mengapa berbeda? Karena masyarakat Indonesia berbeda pandangan
hidupnya dengan masyarakat Amerika.
Filsafat sebagai philosophy
of life sama dengan agama dalam hal sama mempengaruhi sikap dan tindakan
penganutnya.
Kegunaan Filsafat bagi Akidah
Akidah adalah bagia dari ajaran Islam yang mengatur
cara berkeyakinan. Pusatnya ialah keyakinan kepada Tuhan. Posisinya dalam
keseluruhan ajaran Islam secara penting, merupakan fondasi ajaran Islam secara
keseluruhan, di atas akidah itulah keseluruhan ajaran Islam berdiri dan
didirikan.
Untuk memperkuat akidah perlu dilakukan
sekurang-kurangnya dua hal, pertama,
mengamalkan keseluruhan ajaran Islam secara sungguh-sungguh, kedua, mempertajam pengertian ajara
Islam itu.
Kant menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami
melalui akal (ia menyebutnya akal teoritis) Tuhan dapat dipahami melalui suara
hati yang disebut moral.
Argumen-argumen akliah tentang adanya Tuahn, juga
tentang yang gaib lainnya, yaitu objek-objek metarasional, tidak dapat dipegang kebenarannya; bila akal (rasio)
masuk ke daerah ini ia kaan tersesat ke dalam paralogisme. Inilah pendirian Kant. Argument akliah tentang ini
lemah.
Agaknya kita dapat menyimpulkan bahwa filsafat (dalam
hal ini akal logis) dapat berguna untuk memperkuat keimanan, ini menurut
sebagian filosof lain, seperti Thoma Aquinasl tetapi menurut filosof lain,
seperti Kant, bukti-bukti akliah (dalam arti rasio) tentang adanya Tuhan
sebenarnya lemah, bukti yang kuat adalah suata hati. Suara hati itu memerintah,
bahkan rasio pun tidak mampu melawannya.
Kegunaan Filsafat bagi Hukum
Istilah hukum islami sering rancu. Kadang-kadang hukum
islami itu diartikan syari’ah, kadang-kadang fikih (fiqih). Yang dimaksud di sini ialah fikih.
Fikih secara bahasa berarti mengetahui. Al-Qur’an
menggunakan kata al-fiqh dalam
pengertian memahami atau paham. Pada zaman Nabi Muhammad SAW kata al-fiqh itu tidak hanya berarti paham
tentang hukum tetapi paham dalam arti umum. Faqiha
artinya paham, mengerti, tahu.
Butir-butir aturan dan ketentuan hukum yang ada dalam
ikih pada garis besarnya mencakup tiga unsur pokok. Pertama, perintah seperti shalat, zakat puasa dan sebagainya. Kedua, seperti larangan musyrik, zina
dan sebagainya. Ketiga, petunjuk,
seperti cara shalat, cara puasa dan sebagainya.
Tujuan utama diturunkannya hukum islami (fikih) ialah
untuk menciptakan kemaslahatan hidup manusai, yang dimaksud kemaslahatan ialah
kebaikan. Jelasnya pembentukan fikih itu sejalan dengan tuntunan kemaslahatan
manusia.
Kegunaan Filsafat bagi Bahasa
Tatkala bahasa berfungsi
sebagai alat berpikir ilmiah muncul problem yang serius, ini diselesaikan
antara lain dengan bantuan filsafat.
Filosof adalah “prototype” orang bijaksana. Orang
bijaksana tentu harus menggunakan bahasa yang benar. Bahasa yang benar itu akan
mampu mewakili konsep logis yang dibawakannya. Karena itu pada logika-lah kita
menemukan kaitan erat antara bahasa dan filsafat.
Kekeliruan dalam
berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berpikir. Berikut beberapa contohnya
(lihat Mundiri, Logika, 1994: 194). Pertama, kekeliruan karena komposisi. Kedua, kekeliruan dalam pembagian atau devis, yaitu kekeliruan karena
menetapkan sifat keseluruhan maka keliru pula dalam menetapkan sifat bagian. Ketiga¸kekeliruan karena tekanan. Ini
terjadi dalam pembicaraan tatkala salah dalam memberikan tekanan dalam pengucapan.
Keempat, kekeliruan karena amfiboli. Amfiboli terjadi bila kalimat
itu mempunyai arti ganda.
Kesimpulannya ialah
filsafat sangat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran serta
filsafat (logika) kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.
2.
Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah
Kegunaan filsafat yang
lain ialah sebagai methodology,
maksudnya sebagai metode dalma menghadapai dan menyelesaikan masalah bahkan
sebagai metode dalam memandang dunia (world
view)
Sesuai dengan sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah
secara mendalam dan universal. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya
ia ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya
penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.
Banyak orang Islam tidak menyenangi sebagian budaya
Barat, khususnya tentang kebebasan seks. Mereka mengatakan kebebasan seks harus
diberantas.
Filsafat mempelajari asal usul kebebasan seks itu.
Ditemukan, itu muncul dari faham Hedonisme. Maka kita perangi paham itu.
Filosof lain belum juga puas, karena menurutnya Hedonisme itu belum penyebab
paling awal, Hedonisme itu turunan Pragmatisme. Pragmatism itu bersama dengan
Liberalisme lahir dari Rasionalisme. Maka untuk memberantas kebebasan seks kita
harus menjelaskan bahwa Rasionalisme itu adalah pemikiran yang salah.
Bonus
Cara Orang Umum Menilai
Ada
tiga cara orang menilai suatu pendapat atau pernyataan. Pertama, ia menilai berdasarkan ketidaktahuannya tentang itu,
ketidaktahuannya itulah yang dijadikannya ukuran. Kedua, menilai dengan menggunakan pendapatnya sebagai ukuran. Ketiga, menilai dengan menggunakan
pendapat umumnya pakar sebagai alat ukur.
Sebenarnya
bila kita tidak tahu hanya ada dua hal yang layak dilakukan, pertama, diam, kedua, mempelajarinya.
Netralitas Filsafat
Seandainya
logika kita anggap netral, itu bukan berarti filsafat itu netral, sebab masi
menjadi persoalan apakah logika itu filsafat atau bukan filsafat. Jika Anda
termasuk yang berpandangan bahwa logika itu adalah bagian dari filsafat, maka
Anda harus berpendapat bahwa sebagian dari filsafat adalah netral.
BAB 4
PENGETAHUAN MISTIK
Diuraikan
berikut ini ontologi pengetahuan mistik, epistemologi pengetahuan mistik, dan
aksiologi pengetahuan mistik.
A.
Ontologi Pengetahuan Mistik
Diuraikan di sini hakikat
pengetahuan mistik dan struktur pengetahuan mistik.
1.
Hakikat Pengetahuan Mistik
Mistik
adalah pengetahuan yang tidak rasional; ini pengertian yang umum.
Pengetahuan
mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, maksudnya, hubungan
sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini
kadang-kadang memiliki bukti empiris tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan
secara empiris.
Pengetahuan
mistik (sebenarnya pengetahuan yang besifat mistik) ialah pengetahuan yang
supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.
2.
Struktur Pengetahuan Mistik
Dilihat
dari segi sifatnya kita membagi mistik menjadi dua, yaitu mistik biasa dan
mistik magis.
Mistik
biasa adalah mistik tanpa kekuatan tertentu. Dalam Islam mistik yang ini adalah
tasawuf. Mistik magis ialah mistik yang mengandung kekuatan tertuntu dan bias
any auntuk mencapai tujuan tertentu. Mistik magis ini dapat dibagi menjadi dua
yaitu mistik-magis-putih dan mistik-magis-hitam. Mistik-magis-putih dalam Islam
contohnya ialah mukjizat, karamah, ilmu himah, sedangkang mistik-magis-hitam
contohnya ialah santet dan sejenisnya yang menginduk ke sihir, bahkan boleh
jadi mistik-magis-hitam itu dapat disebut sihir saja.
Perbedaan
mendasar ada pada segi filsafatnya. Mistik-magis-putih selalu dekat dan
berhubungan dan bersandar pada Tuhan, sehingga dukungan Ilahi sangat
menentukan. Mistik-magis-hitam selalu dekat, bersandar dan bergantung pada
kekuatan setan dan roh jahat.
B.
Epistemologi Pengetahuan Mistik
Pengetahuan
mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui inderan dan bukan melalui
rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat
merasa. Kalau indera dan rasio adalah alat mengetahui yang dimiliki manusia,
maka rasa aatu hati, juga adalah alat mengetahui.
1.
Objek Pengetahuan Mistik
Yang
menjadi objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak-supra-rasional,
seperti alam gaib termasuk Tuhan, malaikat, surge, neraka, jin dan lain-lain.
Termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah
objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek
supra-natural (supra-rasional), seperti kebal, debus, pelet, penggunaan jin,
santet.
2.
Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
Bagaimana
memperoleh pengetahuan mistik? Di atas sudah dikatakan bahwa pengetahuan mistik
itu tidak diperoleh melalui indera dan tidak juga dengan menggunakan akal
rasional. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa.
Pada
umumnya cara memperoleh pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riyadhah. Dari riyadhah itu manusia memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan
yang dalam tasawuf disebut ma’rifah.
3.
Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik
Kebenaran pengetahuan
mistik diukur dengan berbagai ukuran. Bila pengetahuan mistik itu berasal dari
Tuhan, maka ukurannya ialah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Tatkala Tuhan
dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa surge neraka itu ada, maka teks itulah yang
menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran kebenaran
pengetahuan mistik itu kepercayaan. Jadi, sesuatu dianggap benar karena kita
mempercayainya. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh melakukan kebenarannya.
C.
Aksiologi Pengetahuan Mistik
Disini
dibahas kegunaan pengetahuan mistik dan cara pengetahuan mistik menyelesaikan
masalah.
1.
Kegunaan Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik itu
amat subjektif, yang paling tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Secara kasar
kita dapat mengetahui bahwa mistik yang biasa digunakan untuk memperkuat
keimanan, mistik-magis-hitam digunakan untuk kebaikan, sedangkan
mistik-magis-hitam digunakan untuk tujuan jahat.
Di kalangan sufi
(pengetahuan sufi mistik biasa) dapat menentramkan jiwa mereka, mereka bahkan
menemukan kenikmatan luar biasa tatkala “berjumpa” dengan kekasihnya (Tuhan).
Jenis mistik lain seperti
kekebalan, pelet, debus, dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseorang
sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu, terlepas dari benar atau tidak
penggunaannya.
2.
Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah
Jadi, ada dua
macam mistik, yaitu mistik yang biasa dan mistik magis. Istilah “mistik”
menunjukkan pengertian kegiatan spiritual tanpa penggunaan rasio. Ini berlaku
bagi dua macam istik itu. Sedangkan “mistik-magis” adalah kegiatan mistik yang
mengandung tujuan-tujuan untuk memperoleh sesuatu yang diingini penggunanya
Cara Kerja Mistik-Magis-Putih
Cara kerja mistik-magis-putih ialah sebagai berikut.
Para ahli hikmah dengan metode kasyf telah menemukan bahwa di dalam agama ada
muatan-muatan praktis untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah seperti
mengatasi sesuatu kebutuhan. Mereka menyadari bahwa kekuatan Tuhan baik yang
ada dalam diri-Nya atau yang ada dalam firman-Nya dapat digunakan oleh manusia.
Pengertian yang dapat diambil ialah
bahwa do’a dan wirid dapat menjembatani manusia dengan kebutuhannya dan Tuhan
yang memiliki apa yang dibutuhkan itu.
Cara yang kedua ialah dengan cara
memindahkan jiwa-jiwa ilahiyah atau khadam yang ada di dalam huruf-huruf
al-Qur’an atau yang ada di dalam asma-asma Allah. Cara inilah yang disebut
wafaq atau isim. Istilah wafaq berasal dari kata wafaqa (sesuai atau selaras),
artinya jiwa-jiwa ilahiyah ditarik sesuai dengan karakternya.
Cara Kerja Mistik-Magis-Hitam
Kita melihat dengan mata kepala sendiri cara seorang
tukang sihir membuat gambar calon korbannya. Lalu ia bacakan mantra bagi gambar
yang diletakannya sebagai ganti orang yang dituju, secara konkrit dan simbolik.
Kita juga menyaksikan bagaimana orang
mempraktikan sihir. Ada yang menunjuk pada pakaian atau selembar kulit sebagai
perantara dan membacakan mantra-mantra.
Bonus
Ilmu Putih vs Ilmu Hitam
Bila pada ontologinya (misalnya mantranya) melawan
ajaran benar (agama misalnya, maka “ilmu” itu kita golongkan hitam. Pada segi
epistemologinya, seandainya melawan ajaran yang benar, maka “ilmu” itu kita
katakana hitam. Pada segi aksiologi juga demikian. Bila “ilmu” itu digunakan
untuk tujuan melawan ajaran yang benar, maka ia akan aksiologi ia digolongkan
hitam.
Suatu ilmu mistik magis haruslah
lolos dalam uji ontologi, epistemologi, maupun aksiologinya. Tidak lolos dari
salah satu saja berakibat “ilmu” itu dapat digolongkan hitam. Alat pengujinya
ialah ajaran kebenaran.
Netralitas Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik dengan mudah dapat dilihat bahwa ia
tidak netral.
Sebagian dari pengetahuan mistik
adalah mengenai agama seperti surga, neraka, tasawuf. Bagian ini jelas sekali
tidak netral. Mistik magis (baik yang putih maupun yang hitam) selalu memiliki
sifat individualistic, karena itu ia subjektif. Bila subjektif, maka sudah
jelas ia bersifat tidak netral.
Beberapa Contoh Pengetahuan Mistik
Berikut ini beberapa contoho
pengetahuan mistik dengan sedikit uraiannya, umumnya disarikan dari makalah
mahasiswa Pascasarjana IAIN Bandung.
Mukasyafah
Ontologi
Mukasyafah adalah salah satu contoh pengetahuan
mistik, ini termasuk mistik putih.
Berbeda halnya dengan filsafat dan
sain, pengetahuan mukasyafah justru
diawali oleh asumsi dan kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi
antara subjek-objek, yaitu manusai-Tuhan. Hal ini dirumuskan oleh Ha’iri (Ilmu Hudluri: Prinsip-prinsip Epistemologi
dalam Islam, 1994: 20) sebagai berikut.
Tuhan dalam
Diri-diri dalam Tuhan
Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang
dan dalam Tuhan, suatu pengetahuan hakikiah. Mukasyafah adalah upaya penyikapan hijab-hijab yang menutupi diri. Secara esensial penyingkapan adalah
penghancuran tirai yang menutup objek dengan jalan rohani.
Pengetahuan
mukasyafah berpijak pada asumsi bahwa
Allah itu ada, dan selai Allah ada juga. Akan tetapi terdapat perbedaan sifat
ontologis mendasar antara ada Allah dan
ada selain Allah.
Pengetahuan
tentang alam (selain Allah) diperoleh hanya jika manusia melakukan konseptualisasi
pengalaman inderawinya.
Tuhan
mempunyai dua sisi, sisi esensi dan sisi eksistensi. Tatkala Tuhan
bereksistensilah Ia dapat dipahami, yaitu tatkala Ia berhubungan dengan selain
Dia. Jadi, kita tidak akan dapat mengetahui esensi Tuhan. Tuhan diketahui
tatkala Ia dalam penampakan, dus tatkala
Ia berhubungan dengan yang lain, yaitu dalam ciptaan-Nya. Ini masih pada level
pengetahuan filsafat.
Sistem pengetahuan mukasyafah berpijak
pada asumsi (keyakinan) bahwa Tuhan memancarkan pengetahuan-Nya. Tetapi pengetahuan
yang dipancarkan-Nya itu tidak dapat dipahami oleh indera atau pu rasio.
Pengetahuan yang dipancarkan-Nya itu hanya dapay dipahami oleh potensi
spiritual kita.
Epistemologi
Metodologi Penyingkapan Tabir
Ibnu Sina membagi kegiatan penempuh jalan cahaya dalam
dua tahapan, yaitu iradah (kehendak)
dan riyadhah (latihan). Iradah yaitu munculnya hasrat berpegang
teguh pada jalan yang membimbing menuju Tuhan. Menurut Ibn Sina iradah adalah kerinduan yang dirasakan
manusai tatkala dirinya kesepian dan tidak berdaya, ia ingin bersatu dengan
kebenaran agar tidak merasa kesepian dan lepas dari ketakberdayaan.
Adapun riyadhah ialah
latihan. Ini mempunyai tiga tujuan:
·
Menyingkirkan
segala sesuatu selain Allah yang mengahalangi perjalanan spiritual;
·
Menundukkan jiwa
yang cenderung menyuruh berbuat jahat (al-nafs
al-ammarah) ke jiwa yang tenang (al-nafs
al-muthma’innah);
·
Melembutkan jiwa
batiniah (talthif al-sirr) dengan
tujuan membuatnya siap menerima pencerahan (lihat Murtadla Muthahhari, Menapak Jalan Spiritual, 1995: 68-70)
Ilmu Ladun
Ontologi
Ilmu ladun ialah ilmu batiniah yang bukan merupakan
hasil pemikiran; ilmu laduni adalah yang diterima langusng melalui ilham,
iluminasi, atau inspirasi dari sisi Tuhan (Ensiklopedi
Islam, 3: 90)
Epistemologi
Maqam itu dapat dicapai dengan cara membersihkan diri
(hati) melalui riyadhah dan mujahadah.
Riyadhah dan mujahadah itu akan menghasilkan musyahadah (tembus pandang) pada ke-Ilahian Tuhan setelah
terbukanya hijan (dinding pembatas) antara hamba dan Tuhannya. Ketika itulah
hamba tesebut menerima ilmu laduni (Ensiklopedia
Islam, 3: 90).
Aksiologi
Kegunaan ilmu ladunia ialah sebagai berikut.
Agar dapat
memahami ilmu dengan tepat;
Dapat mengetahui
tingkatan ilmu seseorang;
Dapat mengetahui
karakter seseorang;
Dapat mengambil
ilmu orang lain yang diinginkan;
Dapat membedakan antaar
jin, setan, malaikat, dan dapat berdialog dengan mereka itu;
Dapat mengetahui penyakit
seseorang dan dapat menyembuhkannya;
Dapat mengobati orang kena
santet;
Dapat mengetahui jodoh
seseorang dan nasibnya;
Dapat mengetahui kematian
seseorang, kalau mungkin mengundurnya;
Dapat mengetahui
keinginan seseorang tanpa ia mengatakannya;
Saefi
Ontologi
Dari segi etimologi, kata “saefi” (bahasa Arab)
berarti pedang. Dari segi terminologi, saefi adalah nama ilmu yang terdiri dari
rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan kepada
Allah. Dilihat segi substansinya saefi adalah doa yang dibaca terus-menerus
atau berulang-ulang menurut bilangan dan waktu tertentu.
Epistemologi dan Aksiologi
Pada dasarnya pengetahuan saefi diperoleh seperti
mempeoleh pengetahuan hikmah. Pengetahuan saefi adalah salah satu pengetahuan
magis putih. Cara-cara memperoleh pengetahuan saefi sangat beragam, tergantung
pada siapa gurunya dan saefi apa yang ia gunakan.
Ada saefi yang diperoleh hanya dengan melakukan wirid
saja sebanyak bilangan tertentu seperti Saefi Mughni, Saefi Dzulfaqar, dan
lain-lain. Namun, secara umum saefi diperoleh dengan banyak dzikrullah dan menjauhi maksiat.
Berikut ini ada beberapa macam saefi dan cara
memperolehnya.
1) Saefi Dzulfaqar
Pengetahuan
ini apabila dimiliki, orang yang memilkinya berwibawa.
2) Saefi Mughni
Saefi
ini dapat menyebabkan pemilik atau pengamalnya mendadak kaya.
3)
Saefi Umum
Saefi ini apabila
diamalkan maka apapun yang diinginkan akan mudah tercapai.
4)
Saefi Antazaman
Saefi ini dapat
menyelamatkan orang dari pengaruh negatif arus zaman.
Jangjawokan
Ontologi
Jangjawokan adalah bahasa
Sunda, disebut juga Jampi. Aji-aji
dalam bahasa Jawa, adalah semacam ucapan yang bacaannya campuran antara bahasa
Arab, bahasa Sunda, bahasa Jawa.
Jangjawokan itu merupakan
ucapan atau kalimat (kalimat-kalimat) yang bila diucapkan diyakini memiliki
kekuatan magis tertentu.
Di daerah Sunda,
Jangjawokan itu kelihatannya berupa doa, untuk keperluan tertentu, seperti agar
lulus ujian, agar dagangannya laris, agar dicintai seseorang (jadi sama dengan
pelet), agar jadi pemberani, agar musuh takut, dan lain-lain.
Epistemologi
Bacaan dalam Jangjawokan biasanya diajarkan oleh guru
dari mulut ke telinga (Secara lisan) dalam situasi tidak formal. Lafal-lafal
bacaannya dihafalkan dengan meniru ucapan dari guru, biasanya orang datang ke
guru tatkala memerlukannya saja, misalnya, seseorang mendapat tantangan (fisik)
maka ia datang ke guru minta diajarkan bacaan agar penantang itu takut.
Aksiologi
Berikut
beberapa contoh Jangjawokan yang menjelaskan selain bacaannya juga kegunaannya.
1)
Asihan Nabi Yusuf
Kegunaannya
agar dicintai perempuan.
2)
Asihan Perorangan
Gunanya:
mempertebal cinta kasih yang sudah lama retak.
3)
Penyembuhan Bisul
4)
Penyembuhan Sakit Ulu Angen
5)
Memandikan Orang yang Mempunyai Tanda
6)
Memberantas Hama Wereng
Menurut Kadim
(sumber Muchtaram), ilmu ini (Jangjawokan) dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan,
tergantungan pada jenis bacannya, antara lain:
·
Agar dikasihi
orang, pembesar;
·
Agar dicintai
(jadi seperti pelet);
·
Untuk menyembuhkan
penyakit;
·
Agar disegani atau
ditakuti, dan lain-lain.
Berikut beberapa contoh
Jangjawokan yang diambil dari makalah Dede Daud:
1)
Kadugalan (agar kebal)
2)
Kadugalan (supaya dapat berjalan di atas air)
3)
Pangobaran (mengahadapi musuh)
4)
Pemelet (asihan si lulut putih)
5)
Jampi Raheut (patah tulang)
6)
Pileumpeuhan (agar musuh lemah)
7)
Penangkal sial
Jangjawokan adalah
semacam jampi-jampi atau bacaan-bacaan atau mantra-mantra yang berkembang di
daerah tertentu. Jampi-jampi itu diyakini memiliki kekuatan magis oleh orang
yang menggunakannya.
Jangjawokan merupakan
tradisi mistis yang berlaku di daerah tertentu. Biasanya diajarkan atau
diberikan ketika diperlukan.
Sihir
Ontologi
Secara etimologis kata
sihir berasal dari bahasa Arab bentuk mashdar
kata kerja sahara-yasharu yang
memiliki arti sesuatu yang sumbernya lembut atau halus.
Berdasarkan arti kata
tersebut dapatlah dikatakan bahwa sihir merupakan upaya yang dilakukan manusia
sebagai suatu tipu daya yang dalam mewujudkannya,meminta bantuan sesuatu yang
halus (setan) untuk membelokkan sesuatu yang sebenarnya ke sesuatu yang bukan
sebenarnya.
Dilihat dari
klasifikasinya Suroso Orakas (White
Magic, 1989: 21-22) membagi sihir menjadi dua, yaitu sihir klasik dan sihir
modern. Sihir klasik dilaksanakan secara tradisional dan dilakukan oleh pawing
atau pemenung. Sihir klasik ini dibaginya tiga, yaitu:
1) Sihir dengan konsentrasi penuh pada tujuan.
2) Sihir dengan menggunakan alat bantu.
3) Sihir dengan gerakan-gerakan tertentu disertai
mantra-mantra.
Sihir modern adalah yang
dilaksanakan dengan cara-cara modern, praktis dan sederhana, yang biasanya
dilakukan oleh ahli hipnotis dan paranormal.
Epistemologi
Sihir selalu menggunakan bantuan jin kafir. Cara
mendatangkan jin ialah sebagai berikt.
Thariqat al-Iqsam
(bersumpah atas nama jin)
Thariqat al-Dzabhi
(menyembelih sembelihan)
Thariqat Sufliyah ( melakukan
kenistaan)
Thariqat Najasah (menuliskan ayat
al-Qur’an menggunakan najis)
Thariqat al-Tankis (menuliskan ayat
al-Qur’an dengan susunan sungsang)
Thariqat Tanjim (menujum
menggunakan binatang)
Thariqat Kaffi (melihat melalui
telapak tangan)
Thariqat al-Atsar (menggunakan benda
bekas pakai)
Aksiologi
Kegunaan sihir lebih berorientasi pada orang yang
memanfaatkannya (biasanya pemesan) dan penyihir itu sendiri (yang mendapat
imbalan dan ada juga bersifat sukarela).
Penggunaanya sihir hanya ada gua, pertama yang dikenakan pada badan, kedua kepada harta korban. Berikut adalah beberapa jenis sihir dan
kegunaannya:
1)
Sihir Perceraian
Digunakan
untuk menceraikan suami istri atau untuk menimbulkan permusuhan antara orang
yang bersahabat.
2)
Sihir Mahabbah atau Guna-guna
Digunakan
oleh perempuan agar terlihat menarik.
3)
Sihir Menipu Penglihatan (hipnotis)
4)
Sihir Gila
5)
Sihir Lesu
6)
Sihir Suara Panggilan
7)
Sihir Penyakit
8)
Sihir Pendarahan
9)
Sihir Menghalangi Pernikahan
Ilmu Kebal
Ilmu kebal adalah sejenis pengetahuan yang berkembang
di masyarakat, khusunya Indonesia, dikenal sebagai ilmu tentang cara-cara
menjaga diri tanpa bantuan alat fisik agar tidka mempan senjata tajam atau
benda lain yang dapat melukai.
Ilmu ini pada dasarnya membahas cara agar mendapat
keselamatan dari ganggunan yang akan mencelakakan diri atau jiwanya. Bentuk
keselematan tersebut dapat berupa:
1. Terhindar dari perlakukan untuk melukai;
2. Tidak luka pada saat orang melukai;
Bentuk kedua ini lebih
dikenal sebagai ilmu kanuragan dan
dipandang bersifat fisik, sedangkan bentuk pertama sering disebut sebagai ilmu hikmah yang lebih bersifat psikis.
Kegunaan ilmu kebal ialah
untuk menjaga diri dari kecelakaan yang diakibatkan oleh kejahatan orang lain
dan dapat pula digunakan untuk menolong orang lain dari kejahatan orang
terhadapnya. Jika tujuannya baik maka ia disebut ilmu putih, bila tujuannya
tidak mengindahkan moral, maka disebut ilmu hitam.
Santet
Dalam Kamus Umum Bahasa Sunda (1982: 152)
disebutkan bahwa santet adalah jampe
pamake keur hasud ka batur sina gering atawa maot (mantra yang dibacakan dengan
maksud hasud pada orang lain agar sakit atau mati). Ini berarti santet selalu
berkonotasi jahat. Menurut J. Van Baal (Sejarah
dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya, I, 1987: 210) santet adalah
bagian dari sihir, merupakan kekuatan supra natural yang dapat dipaksa ataupun
dengan jalan buruk. Suyono Ariyono (Kamus
Antroplogi, 1985: 158) menyatakan bahwa santet adalah sejenis pengetahuan
yang semata-mata berdasarkan kekuatan gaib.
Dari sekian banyak definisi di atas dapat disimpulkan
bahwa santet adalah suatu pengetahuan tentang makhluk gaib yang dapat
diperintah untuk memengaruhi korban dengan menggunakan simbol-simbol dan
upacara ritual.
Cara mempelajari santet berbeda dari mempelajari
filsafat atau sain. Sampai saat ini santet masih merupakan cerita misteri.
Dikatakan demikian karena santet itu bersfiat irrasional.
Berdasarkan wawancara diketahui bahwa kegunaan santet
ada dua: pertama menyakiti; kedua membunuh.
Pelet
Ontologis
Secara etimologis pelet mengandung arti memikat,
mengambilm pesona, bujukan, secara terminologis pelet ialah usaha sadar
membujuk, menarik rasa cinta seseorang dengan cara-cara tertentu.
Berdasarkan pengertian di atas, dapatlah disimpulkan
bahwa pelet merupakan tindakan yang disengaja untuk menarik, mengalihkan rasa
cinta seseorang kepada pemelet tanpa disadari sepenuhnya oleh orang yang
dipelet.
Dilihat dari sumber pengamalannya pelet dapat dibagi
menjadi dua bagian. Pertama, pelet
yang menggunakan huruf-huruf Arab. Pelet model ini banyak ditemukan dalam
kitab-kitab mujarabat. Berdasarkan
pengalaman, para santri banyak memiliki pelet semacam ini.
Epistemologi dan
Aksiologi
Untuk memperoleh ilmu pelet kategori pertama, orang
dapat berguru kepada “kyai”, ustaz atau orang-orang tertentu yang memiliki ilmu
itu. Pelet jenis kedua biasanya diperoleh dari dukun yang banyak berpraktek di
bidang itu.
Ada dua kegunaan pelet. Pertama, untuk mengakrabkan persahabatan, hubungan suami istri,
atasan bawahan. Kedua, pelet untuk
memelet lawan jenis untuk dijadikan pasangan hidup. Pelet semacam ini terkadang
dilakukan dengan paksaan yang keras, terkadang sang korban sampai berpindah
agama demi mengikuti kehendak pemelet.
Debus
Kata debus dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia mengandung arti tiruan bunyi seperti hembusan angina,
sedangkan di dalam Kamus
Indonesia-Inggris disebutkan bahwa debus bermakna ritual display of invulnerabilitity in west Java.
Ontologi
Dalam prakteknya, debus memang sesuatu yang luar
biasa, seperti:
·
Memakan kaca dan
tidak luka.
·
Kulit tahan
disiram air keras.
·
Tahan ditusuk
dengan jarum.
·
Ditusuk atau
digorok tidak luka.
·
Orang diikat
dimasukan peti, setelah dibuka ikatannya lepas, bahka ia keluar sambal merokok.
·
Api tidak panas
baginya.
Untuk
mampu makan kaca pendebus harus wirid dan puasa. Banyaknya wirid dan lamanya berpuasa
juga ditentukan oleh tingkat kemampuan yang hendak dicapai.
Epistemologi
Ada dua hal yang harus dipenuhi oleh seseorang yang
memperoleh kemampuan debus, yaitu:
·
Harus suci badan
dari hadas baik besar maupun kecil dan harus suci dari dosa terutama dosa
besar.
·
Dituntut adanya
kebulatan dan keyakinan dalam hati.
Aksiologi
Pada mulanya debus digunakan di Kerajaan Islam Banten
dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Agaknya debus digunakan sebagai media
dakwah seperti walisongo menggunakan wayang. Menurut catatan sejarah, orang
yang hendak nonton debus cukup mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ganti
karcis masuk. Kemudian dalam setiap wirid debs selalu didahului dengan
syahadat.
Tentang Jin
Jin adalah nama jenis, bentuk tunggalnya jinniy untuk laki-laki dan jinniyah untuk perempuan yang mempunyai
pengertian “yang tertutup” atau “yang tersembunyi”.
Iblis adalah keturunan jin yang sangat pandai, tetapi
kemudian ia berperangai buruk dan sombong sebagaimana digambarkan dalam
al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 50. Perbedaan jin dan setan adalah setiap setan
adalah jin dan tidak setiap jin adalah setan.
Salah satu jenis jin adalah jin qarin yaitu jin yang ditugasi mendampingin seseorang di mana
dan kapan pun orang itu berada. Jin qarin inilah yang membantu untuk mengetahui
dukun untuk mengetahui ihwal pasien, sehingga dukun tersebut dapat menebak ihwal
pasiennya seakan-akan ia menyetahui yang gain.
Memiliki pengetahuan tentang jin dapat menambah
keimanan, mengharuskan manusia waspada terhadap kejahatan atau gangguan jin
jahat, yang selalu menggoda manusia agar ingkar kepada Allah.
Bagi orang yang dapat menundukkan jin atau bekerja
sama dengan jin pada umumnya menjadikan jin sebagai khadam. Peran jin dalam hal ini mungkin positif mungkin negative,
sesuai dengan orang memanfaatkannya dan juga ditentukan oleh jenis jin, apakah
jin itu dari jenis baik atau jin jahat. Dalam arti negative jin dapat digunakan
untuk membahayakan orang lain seperti digunakan dalam menyantet, menyihir.
Nyambat
Ontologi
Nyambat, dalam bahasa Sunda, artinya kita-kita sama
dengan memanggil, menghadirkan, mendatangkah. Secara istilah nyambat ialah memanggil atau
menghadirkan roh melalui suatu ritual dengan mengucapkan bacaan-bacaan
tertentu.
Epistemologi dan
Aksiologi
Berikut diuraikan secara ringkas beberapa jenis nyambat, cara melakukannya dan
kegunaannya.
1)
Asrar
Yaitu
memanggil yang gaib untuk mengetahui sesuatu yang tidak terlihat mata tidak
terdengar telinga.
2)
Abdul Jabbar
Adalah
nama nyambat untuk menghadirkan
kekuatan dan kesaktian Abdul Jabbar.
3)
Pajajaran
Adalah
nyambat untuk menghadirkan khadam berupa siluman yang menjelma
menjadi harimau.
4)
Kuda Lumping
Nyambat untuk menghadirkan makhluk gaib, ini adalah nyambat yang berasal dari Majalengka.
5)
Kasurupan
Memanggil
jin (khadam) untuk dimintai
bantuannya mengeluarkan jin pengganggu yang mengganggu seseorang (yang
kesurupan)
6)
Tenaga Gaib
Adalah
tenaga yang diisikan guru atau didapat karena wirid atau puasa. Tenaga ini dimasukkan ke dalam tubuh untuk
membangkitkan atau memancing kekuatan gaib yang ada di dalam tubuh kita (Lembaga
Seni Bela Diri Hikmatul Islam, Buku
Pegangan Anggota, 1993: 17).
Tenaga
ini digunakan:
·
Agar disenangi
orang banyak
·
Agar dapat lari
cepat
7)
Pendukunan (al-kahin)
Caranya:
Dukun bersemedi, membersihkan pikirannya dari
persoalan duniawi dengan harapan mendapat petunjuk (Jawa: wangsit) yang gaib.
Ada juga dukun yang membacakan mantra-mantra pada
segelas air putih, setelah itu air tersebut diseduh dan air itu diyakini dapat
menyembuhkan penyakit.
8)
Ramal
Maria
Susuei Dhacamony (Fenomenologi Agama,
1997: 61) menjelaskan tiga teknik ramal, yaitu:
Pertama, ramalan mekanis yang menggunakan manipulasi objek
material dan operasinya secara kebetulan saja, kedua, ramalan lewat nujum, ketiga,
ramalan yang menggunakan kekuatan supranatural.
Dapat disimpulkan bahwa
melalui nyambat dapat diperoleh,
kegunaan sebagai berikut:
Mendatangkan kekuatan
gaib melalui khadam;
Mengetahui rahasia bathin
melalui khadam;
Melalukan gerakan dengan
kekuatan gaib dan alam bawah sadar;
Menghadirkan kesaktian seseorang
melalui kekuatan gaib;
Menghadirkan kekuatan
gaib dalam bentuk binatang seperti jurus-jurus harimau;
Mengusir
kekuatan gaib pada seseorang yang kemasukan makhluk dan menyembuhkannya;
Memecahkan
benda-benda keras melalui khadam dan
pukulan jarak jauh;
Menimbulkan
simpati orang banyak melalui kekuatan gaib;
Mendapatkan
kekebalan, pengobatan dan kekuatan fisik supranatural;
Menjawab
pertanyaan-pertanyaan orang.
Ilmu Kanugaran
Ilmu kanugaran adalah
ilmu bela diri, dapat berbentuk kekuatan yang datang dari dalam dan dapat juga
datang dari luar, keduanya merupakan hasil dari latihan fisik dan riyadhah.
Di Indonesia banyak
terdapat perguruan yang mengajarkan ilmu
kanuragan, satu diantaranya Al-Ma’unah di Jember. Stiap anggota perguruan
ini diharuskan mengamalkan Tarikat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Cara memepelajari
seni bela diri tenaga dalam Al=Ma’unah itu adalah mengikut urutan sebagai
berikut.
1)
Dasar
Mempelajari
10 jurus latihan fisik seperti gerakan silat sampai dikuasai.
2)
Pembuka
Jurus
dasar yang 10 tersebut, setelah dikuasai benar-benar, harus dilengkapi degan
tendangan sambal zikir nafas sirr.
3)
Pintu Wali
Dalam
tahap ini pelajar sudah mulai menerima harakat,
semacam tenaga dari guru.
4)
Payung Wali
Di
sini pelajar harus sudah diuji ilmunya dalam hal menghasilkan tenaga-dalam dan
ia harus terus mengamalkan Tarikat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.
5)
Pancaran Ma’unah
setelah
menguasai ilmu bela diri tersebut, murid dapat mempergunakan ilmunya itu kapan
saja.
Secara umum, ilmu kanuragan dapat digunakan:
·
Untuk melumpuhkan
ilmu hitam, dengan terlebih dahulu menggunakan ilmu tahanan maut untuk menjaga
serangan balik.
·
Untuk menyedot dan
membalikkan ilmu lawan, bila lawan menyerang dengan tenaga gaib atau tenaga
dalam.
·
Untuk menotok
lawan dari jarak jauh.
·
Untuk memukul
lawan dari jarak jauh.
·
Untuk memukul
musuh dengan hawa panas, sehingga musuh akan kepanasan. BAB I
PENDAHULUAN
Orang-
orang yang memelajari bahasa Arab mengalami sedikit kebingungan tatkala
menghadapi kata “ilmu”. Dalam bahasa Arab kata al’ilm berarti pengetahuan (knowledge),
sedangkan kata “ilmu” dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan science.
Dalam
mata kuliah Filsafat Pengetahuan (Philosopy of Knowledge) yang didiskusikan tidak hanya pengetahuan sain (science), didiskusikan juga seluruh yang
disebut pengetahuan termasuk pengetahuan yang “aneh, aneh” seperti pelet, kebal, santet, saefi, dan
lain-lain.
Pengetahuan
ialah semua yang diketahui. Menurut Al-Qur’an, tatkala manusia dalam perut
ibunya, ia tidak tahu apa-apa. Tatkala ia baru lahir pun barangkali ia belum
juga tahu apa-apa.
Semakin
bertambahnya umur manusia makan semakin banyak pengetahuannya. Dilihat dari
segi motif, pengetahuan itu diperoleh menlalui du acara. Pertama, pengetahuan
yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa motif, tanpa keingintahuan dan
tanpa usaha. Kedua, pengetahuan yang didasari motif ingin tahu.
Salah
satu tujuan perkuliahan Filsafat Pengetauhan ialah agar kita memahami kapling
pengetahuan. Yang akan dibahas berikut ini hanyalah pengetahuan yang
diusahakan.
Pengetahuan
sain harus berdasarakan logika (dalam arti rasional). Pengetahuan sain ialan
pengetahuan dan didukung bukti empiris. Namun, gejala yang paling menonjol
dalam pengetahuan sain ialah adanya bukti empiris itu.
Dalam
bentuknya yang sudah baku, pengetahun sain itu mempunyai paradigm dan metode
tertentu. Paradigmanya disebut paradigm sain (scientific paradigm) dan metodenya disebut metode ilmiah (metode
sain, scientific method). Formula
utama dalam pengetahuan sain ialah buktikan bahwa itu rasional dan tunjukkan
bukti empirisnya.
Formula
itu perlu sekali diperhatikan karena adakalanya kita menyaksikan bukti
empirisnya ada tetapi tidak rasional. Yang seperti ini bukanlah pengetahuan
sain atau ilmu.
Kebenaran
pengetahuan filsafat hanya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Bila
rasional, benar, bila tida, salah. Kebenarannya tidak pernah dapat dibuktikan
secara empiris. Bila ia rasional pernah dapat dibuktikan secara empiris. Bila
ia rasional dan empiris, maka ia berubah menjadi pengetahuan sain.
Objek
penelitiannya adalah objek-objek yang abstrak, karena objeknya abstark, maka
temuannya juga abstrak. Paradigmanya ialah paradigm rasional (rational paradigm), metdoenya metode
rasonal (Kerlinger menyebutnya method of
reason).
Sampai
disini kta sudah mengenal dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan sain yang
rasional empiris, dan kedua pengetahuan filsafat yang hanya rasional.
Jeruk
ditanam buahnya jeruk. Ini pengetahuan sain, jeruk selalu berbuah jeruk karena
ada hokum yang mengatur demikian. Ini pengetahuan filsafat.
Masih
ada orang, amat kecil jumlahnya, ingin tahu lebih jauh lagi. Ereka bertanya
“Siapa yang membuat hokum itu?” pertanyaan ini sulit dijawab. Tetapi masih
dapat dijawab oleh filsafat. Salah satu teori dalam filsafat mengatakan bahwa
hokum itu dibuat oleh alam itu sendiri secara kebetulan. Teori ini lemah, tadi
sudah dikatakan. Teori lain hukum itu dibuat oleh Yang Maha Pintar. Ini logis
(dalam arti supra-rasional). Jadi, teori kedua ini benar secara filsafat. Ini
masih pengetahuan filsafat. Yang Maha Pintar itu seringkali disebut Tuhan. Ini
masih pengetahuan filsafat.
Masih
ada orang, yang jumlahnya segelintir saja, ingin tahu lebih jauh lagi. Mereka
bertanya lebih jauh lagi. Mereka bertanya “Siapa Tuhan itu, saya ingin
mengenal-Nya, saya ingin melihat-Nya, saya ingin belajar langsung kepada-Nya”.
Tuntunan orang-orang “nekad” ini tidak dapat dilayani oleh pengetahuan sain dan
tidak juga oleh pengetahuan filsafat. Objek yang hendak mereka ketahui bukanlah
objek empiris dan tidak juga dapat dijangkau akal rasional. Objek itu
abstrak-supra-rasional atau meta-rasional.
Objek
abstrak-supra-rasional itu dapat diketahui dengan menggunakan rasa, bukan
pancaindera dan atau akal rasional. Bergson menyebut alat itu instuisi, Kant
menyebutnya moral atau akal praktis, filosof muslim seperti Ibu Sinna menyebutnya
akal mustafad, shufi-shufi muslim menyebutnya qalb,
dzawq, kadang-kadang dhamir, kadang-kadang sirr. Pengetahuan jenis ini memang
aneh. Paradigmanya oleh Ahmad Tafsir disebut paradigm mistik (mystical paradigm), metodenya ia Ahmad
Tafsir sebut metode latihan (riyadhah)
dan metode yakin (percaya). Pengetahuan jenis ini Ahmad Tafsir sebut
pengetahuan mistik (mystical knowledge).
Kebenarannya pada umumnya tidak dapat dibuktikan secara empiris, selalu tidak
terjangkau pembuktian rasional.
Logis dan Rasional
Ahmad Tafsir mengajarkan filsafat (sebagai dosen)
sejak tahun 1970. Sampai dengan sekitar tahun 2000 beliau menganggap “yang
logis” adalah sama dengan “yang rasional”.
Kira-kira sejak tahun 2001 beliau
melihat ada perbedaan antara kedua istilah itu. Adanya perbedaan itu dimulai
ketika beliau membaca untuk kesekian kalinya buku Kant. Kant antara lain
mengatkan bahwa rasional itu sebenarnya sesuatu yang masuk akal sebatas hukum
alam.
Ternyata istilah logis dan rasional
merupakan dua istilah yang sangat popular dalam arti dua istilah itu amat
sering digunakan orang, baik ia kaum terpelajar maupun kaum yang bukan
tergolong terpelajar, digunakan orang kota dan juga orang desa, bahkan
anak-anakpun banyak yang sering menggunakan kedua istilah itu.
Ada orang bercerita kepada seseorang
yang lain bahwa ia baru saja mengantarkan temannya yang sakit aneh ke seorang
dukun. Dukun mengobatinya dengan cara yang tidka umum dikenal. Lantas orang
sakit itu sembuh. Orang yang diceritai itu langsung mengatakan bahwa itu
musyrik karena pengobatan itu tidak rasional. Ada anak-anak saling bercerita
tentang hantu, bahwa ia melihat hantu yang rupanya begini-begini, tingkahnya
begini-begini. Kata yang seorang “ah. Sudahlah, itu tidak rasional” kadang-kadang ia berkata “ah, sudahlah, itu tidak logis.” “Bila logis oke, bila tidak, nanti dulu” Demikian contoh kalimat yang
sering kita dengar dari banyak orang.
Apa yang kita dapat? Yang kita dapat
ialah (1) memang dua istilah itu popular dalam arti sering digunakan oleh hampir
semua orang dari semua kelas dan golongan, (2) Pengguna istilah itu tidak
mempedulikan apakah dua istilah sama persis atau ada persamaan atau sama sekali
berbeda.
Kant mengatakan bahwa apa yang kita
katakan rasional itu ialah suatu pemikiran yang masuk akal tetapi menggunakan
ukuran hokum alam. Dengan kata lain, menurut Kant rsional itu ialah kebenaran
akal yang diukur dengan hukum alam.
Teori
Kant ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Tatkala Anda mengatakan Nabi Ibrahim
dibakar tidak hangus, itu adalah hal yang tidak rasional karena menurut hukum
alam sesuatu yang dibakar pasti hangus, kecuali bahan itu memang materi yang
tidak hangus dibakar, sedangkan Ibrahim itu adalah materi yang hangus dibakar. Tetapi,
pesawat terbang yang beratnya ratusan ton, kok dapat terbang? Ya, karena
pesawat itu telah dirancang sesuai dengan hukum alam. Itu rasional. Orang tidak
mungkin kebal karena hal itu berlawanan dengan hukum alam. Demikianlah sebagian
pernyataan sebagai contoh.
Kesimpulannya
jelas: (1) sesuatu yang rasional ialah sesuatu yang mengikuti atau sesuai
dengan hukum alam; (2) yang tidak rasional ialah yang tidak sesuai dengan hukum
alam; (3) kebenaran akal diukur dengan hukum alam.
Dulu,
Ahmad Tafsir menyangka yang rasional itu amat tinggi kedudukannya, ia dapat
mengatasi hukum alam. ternyata tidaklah demikian. Kebenaran rasional itu
tidaklah sehebat yang saya pikirkan. Ia sebatas hukum alam. Kebenaran rasional
tidka lebih dari kebenaran sejauh yang ditunjukkan hukum alam.
Bagaimana
dengan logis? Kebenaran logis terbagi dua, pertama logis-rasional, seperti yang
telah diuraikan diatas tadi, kedua logis supra-rasional. Logis-supra-rasional
ialah pemikiran akal yang kebenarannya hanya mengandalkan argument, ia tidak
diukur dengan hukum alam. Kebenaran logis-surpa-rasional itu benar-benar
bersifat abstrak. Kebenaran logis-supra-rasional itu ialah kebenaran yang masuk
akal sekalipun melawan hukum alam.
Jadi,kasus
Ibrahim in adalah kasus yang tidak rasional tetapi logis dalam arti logis-supra
rasional. Kesimpulannya ialah: yang logis ialah yang masuk akal. Terdiri atas
yang logis-rasional dan yang logis-supra rasional.
BAB 2
PENGETAHUAN SAIN
Pada Bab 2 ini dibicarakan ontologi,
epistemologi dan aksiologi sain. Uraian mengenai ontology sain membahas hakikat
dan struktur sain. Uraian tentang struktur sain tidka terlalu bagus, hal itu
disebabkan oleh begitu banyak macam sain, karena banyaknya maka banyak yang
tidak saya ketahui. Epistemology sain difokuskan pada caar kerja metode ilmiah.
Sedangkan pembahasan aksiologi sain diutamakan pad acara sain menyelesaikan
masalah yang dihadapi manusia.
A.
Ontologi Sain
Disini
dibicarakan hakikat dan struktur sain. Hakikat sain menjawab pertanyaan apa
sain itu sebenarnya. Sturktur sain seharusnya menjelaskan cabang-cabang sain,
serta isi setiap cabang itu. Namun di sini hanya dijelaskan cabang-cabang sain
dan itu pun tidak lengkap.
1.
Hakikat Pengetahuan Sain
Pada dasarnya cara kerja sain adalah kerja mencari
hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap atau mencari
pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sain ialah tidak ada kejadian
tanpa sebab.
Ilmu atau sain berisi teori. Teorti itu pada dasarnya
menerangkan hubungan sebab akibat. Sanintidak memberikan nilai baik atau buruk,
halal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah; sain hanya
memberikan nilai benar atau salah.
2.
Struktur Sain
Dalam
garis besarnya sain dibagi dua, yaitu sain kealaman dan sain sosial.
1)
Sain kealaman
: Astronomi; Fisika; Ilmu Bumi; Ilmu Hayat
2)
Sain sosial
: Sosiologi; Antropologi; Psikologi; Ekonomi; Politik
3)
Humaniora
: Seni; Hukum; Filsafat; Bahasa; Agama; Sejarah
B.
Epistemologi Sain
Pada
bagian ini diuraikan objek pengetahuan sain, cara memperoleh pengetahuan sain
dan cara mengukur benar-tidaknya pengetahuan sain.
1.
Objek Pengetahuan Sain
Objek kajian sain haruslah objek-objek
yang empiris sebab bukti-bukti yang harus ia temukan adalah bukti-bukti ang
empiris. Bukti empiris ini diperlukan untuk menguji bukti rasional yang telah
dirumuskan dalam hipotesis.
Objek-objek yang dapat diteliti oleh sain
banyak sekali: alam, tetumbuhan, hewan dan manusia, serta kejadian-kejadian di
sekitar alam, tetumbuhan, hwan dan manusai itu; semuanya dapat diteliti oleh
sain.
2.
Cara Memperoleh Pengetahuan Sain
Perkembangan sain
didorang oleh paham Humanisme. Humanisme ialah paham filsafat yang mengajarkan
bahwa manusai mampua mengatur dirinya dan alam.
Untuk menjamin tegaknya
kehidupan yang teratur itu diperlukan aturan. Manusia juga perlu aturan untuk
mengatur alam.
Menurut mereka aturan itu
harus dibuat berdasarkan dan bersumber pada sesuatu yang ada pada manusia. Alat
itu ialah akal. Aturan ialah logika alami yang ada pada akal setiap manusia.
Akal itulah alat dan sumber yang paling dapat disepakatai. Maka, Humanisme
melahirkan Rasionalisme.
Rasionalisme ialah paham
yang mengatakan bahwa akal itulh pencari dan pengukur pengetahuan. pengetahuan dicari
dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula.
Dicari dengan akal ialah
dicari dengan berpikir logis. Diukur dengan akal artinya diiuji apakah temuan
itu logis atau tidak. Bila logis, benar; bila tidak, salah.
Diperlukan alat lain.
Alat itu ialah Empirisme.
Empirisme ialah paham
filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti
empiris. Nah dengan Empirisme inilah aturan (untuk mengatur aturan manusia dan
alam) itu dibuat. Empirisme hanya menemukan konsep yang sifatnya umum. Konsep
itu belum operasional, karena belum terukur. Jadi, masih diperlukan alat lain.
Alat lain itu ialah Positivisme.
Positivisme mengajarkan
bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya, yang terukur.
Positivisme sudah dapat
disetujui utuk memulai upaya membuat
aturan untuk mengatur manusia dan mengatur alam. Kata Positivisme, ajukan
logikanya, ajukan bukti empirisnya yang terukur. Tetapi bagaimana caranya? Kita
masih memerlukan alat lain. Alat lain itu ialah Metode Ilmiah. Metode Ilmiah
mengatakan, untuk memperoleh pengetahuan yang benar lakukan langkah berikut: logico-hypothetico-verificatif.
Maksudnya, mula-mula buktikan hawa itu logis, kemudian ajukan hipotesis
(berdasarkan logika itu), kemudia lakukan pembuktian hipotesis itu secara
empiris.
Metode Ilmiah itu sceara
teknis dan rince dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut Metode Riset.
Riset menghasilkan Model-model Penelitian. Nah, model-model Penelitian inilah
yang menjadi instansi terakhir dan memang operasional-dalam membuat aturan
tadi.
3.
Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sain
Hipotesis (dalam sain)
ialah pertanyaan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti
empirisnya. Belum atau tidak ada bukti empiris bukanlah merupakan bukti bahwa
hipotesis itu salah. Ada atau tidak ada bukti bahwa kelogisan suatu
hipotesis-juga teori-lebih penting ketimbang bukti empirisnya.
C.
Aksiologi Sain
Pada
bagian ini dibicarakan tiga hal saja, pertama
kegunaan sain; kedua, cara sain
menyelesaikan masalah; ketiga,
netralitas sain.
1.
Kegunaan Pengetahuan Sain
Sekurang-kurangnya ada tidak kegunaan
teori sain: sebagai alat membuat eksplanasi, sebagai alat peramal, dan sebagai
alat pengontrol.
1)
Teori Sebagai Alat Eksplanasi
Berbagai sain yang ada sampai sekarang ini secara umum
berfungsi sebagai alat untuk membuat eksplanasi kenyataan. Menurut T. Jacob (Manusia, Ilmu dan Teknologi, 1993: 7-8) sain merupakan suatu sistem
eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya
dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan.
2)
Teori Sebagai Alat Peramal
Tatkala membuat eksplanasi, biasanya ilmuawan telah
mengetahui juga faktor penyebab terjadinya gejala itu. Dengan “mengutak-atik”
faktor penyebab itu, ilmuwan dapat membuat ramalan. Dalam bahasa kaum ilmuwan
ramalan itu disebut prediksi, untuk membedakannya dari ramalan dukun.
3)
Teori Sebagai Alat Pengontrol
Ekplanasi merupakan bahan untuk membuat ramalan dan
kontrol. Ilmuwan, selain mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala,
juga dapat membuat kontrol.
Perbedaan prediksi dan kontrol ialah prediksi bersifat
pasif; tatkala ada kondisi tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya
akan terjadi ini, itu, begini atau begitu. Sedangkan kontrol bersifat aktif;
terhadap sesuatu keadaan, kita membuat tindakan atau tindakan-tindakan agar
terjadi ini, itu begini atau begitu.
2.
Cara Sain Menyelesaikan Masalah
Pertama, ia mengidentifikasi masalah. Identifikasi biasanya
dilakukan dengan cara mengadakan penelitian. Hasil penelitian iti ia analisis
untuk mengetahui secara persis segala sesuatu dalam suatu masalah.
Kedua, mencari teori tentang sebab-sebab masalah. Biasanya
mencari dalam literature.
Ketiga, kembali membaca literature lagi. Sekarang mencari
teori yang menjelaskan cara memperbaiki suatu masalah.
Cara filsafat dan mistik tentu lain lagi.
Langkah baku sain dalam menyelasikan masalah: identifikasi masalah, mencari
teori, menetapkan tindakan penyelesaian.
3.
Bonus
Netralitas Sain
Netral biasanya diartikan tidak memihal. Dalam kata
“sain netral” pengertian itu juga terpakai. Artinya: sain tidak memihak pada
kebaikan dan tidak juga pada kejahatan. Itulah sebabnya istilah sain netral
sring diganti dengan istilah sain bebas nilai.
Apa untungnya bila sain netral? Bila
sain itu kita anggap netral, atau kita mengatakan bahwa sain sebaiknya netral
keuntungannya ialah perkembangan sain akan cepat terjadi. Karena tidak ada yang
menghambat atau mengahalangi tatkala peneliti (1) memilih dan menetapkan objek
yang hendak diteliti, (2) cara meneliti, dan (3) tatkala menggunakan produk
penelitian.
Orang yang menganggap sain tidak
netral, akan dibataasi oleh nilai dalam (1) memilih objek penenlitian, (2) cara
meneliti, dan (3) menggunakan hasil penelitian.
Apa kerugiannya bila kita ambil
paham sain netral? Bila kita pilih paham sain netral maka kerugiannya ialah ia
akan melawan keyakinan misalnya keyakinan yang berasal dari agama.
Yang paling merugikan kehidupan
manusia ialah bila paham sain itu telah menerapkan pahamnya pada aspek aksiologi.
Mereka dapat saja menggunakan hasil penelitian mereka untuk keperluan apa pun
tanpa pertimbangan nilai.
Paham sain netral sebenarnya telah
melawan atau menyimpang dari maksud penciptaan sain, tadinya sain dibuat untuk
membantu manusai dalam menghadapai kesulitan hidupnya. Paham ini sebenarnya
telah bermakna bahwa sain itu tidak netral, sain memihak pada kegunaan membantu
manusia menyelesaikan kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Sementara itu,
paham sain netral justru akan memberikan tambahan kesulitian bagi manusia.
Berdasarkan uraian sederhana di atas
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa yang ling bijaksana ialah netral. Sain itu
bagian dari kehidupan, sementara kehidupan itu secara keseluruhan tidaklah
netral.
Krisis Sain Modern
Menurut Tarnas, sedikitnya ada enam hal yang menarik
perhatian tentang sain modern. Pertama,
postulat dasar sain modern ialah space,
matter, causality, dan observation,
ternyata semuanya dinyatakan tidak benar. Kedua,
dianutnya pendapat Kant bahwa yang orang katakana jagad raya, bukanlah jagad
raya yang sebenarnya, tetapi jagad raya sebagaimana diciptakan oleh pikiran
manusia. Ketiga, determinisme Newton
kehilangan dasar, orang pindah ke stochastic.
Keempat, partikel-partikel sub-atomik
terbuka untuk interpretasi spiritual. Kelima,
adanya uncertainty sebagaimana ditemukan oeh Heisenberg. Keenam, kerusakan ekologi dan atmosfir
yang menyeluruh yang disebut Tarnas planetary
ecological crisis.
Dari enam hal yang menarik di atas
Tarnas menyimpulkan bahwa orang merasa tahu tentang jagad raya, paahal tidak;
tidak ada jaminan orang dapat tahu; yang dikatakan jagad raya sebenarnya
menunjukkan hubungan orang dengan jagad raya itu, atau jagad raya sebagaimana
diciptakan oleh orang itu.
Pengembangan Ilmu
Secara ilmu teori ialah penapat yang beralasan.
Karena isi ilmu adalah teori, maka
mengembangkan ilmu adalah mengembangkan teorinya. Ada beberapa kemungkinan
dalam mengembangkan teori. Pertama, menyusun teori baru. Kedua, menemnukan
teori baru untuk mengganti teori lama. Ketiga, merevisi teori lama. Keempat,
membatalkan teori lama.
Bagaimana prosedur serta
langkah-langkah pengembangan ilmu akan amat ditentukan oleh jenis ilmnya. Itu
memerlukan organisasi biaya tinggi kadang-kadang; memerlukan tenaga yang
sedikit atau banyak; memerlukan waktu, ada yang sebentar ada yang lama, bahkan
ada yang sangat lama.
BAB 3
PENGETAHUAN FILSAFAT
Pada
bab ini dibicarakan ontologi, epistemologi, dan aksiologi filsafat. Dibicarakan
juga pada bab ini masalah netralitas filsafat yang akan membahas apakah
filsafat itu sebagiknya netral (value
free) atau terikat (value bound).
A.
Ontologi Filsafat
1.
Hakikat Pengetahuan Filsafat
Hatta mengatakan bahwa pengertian filsafat lebih baik
tidka dibicarakan lebih dulu; nanti bila orang telah banyak mempelajari
filsafat orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu (Hatta, Alam Pikiran Yunani, 1966, 1:3).
Poedjawijatna (Pembimbing
ke Alam Filsafat, 1974: 11) mendefiniskan filsafat sebagai sejenis
pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala
sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka.
D.C. Mulder (Pembimbing
ke Dalam Ilmu Filsafat, 1966: 10) mendefinisikan filsafat sebagai pemikiran
teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
2.
Struktur Filsafat
Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu:
ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan
satu kesatuan:
·
Ontolog,
membicarakan hakikat (segala sesuatu
); ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu;
·
Epistemologi cara memperoleh pengetahuan itu;
·
Aksiologi
membicarakan guna pengetahuan itu.
Salah satu filsafat yang
masih “baru” ialah Filsafat Perennial. Karena baru, filsafat itu diuraikan ala
kadarnya berikut ini.
Filsafat Perennial¹
Filsafat
perennial (Philosophia Perennis)
adalah filsafat yang dipandang dapat menjelaskan segala kejadian yang bersifat
hakikat menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalankan hidup yang benar,
yang menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi besar spiritulitas manusia
(lihay Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, 1995: xx).
Filsafat Pos
Modern (Post Modern Philosophy)
Pada
intinya, filsafat Pascamodern (anak-anak sering menyebutnya Posmo) mengkritik
Filsafat Modern. Orang-orang Posmo mengatakan Filsafat Modern itu harus
didekonstruksi. Karena Filsafat Modern itu didomunasi Rasionalisme, maka yang
didekontruksi itu adalah Rasionalime itu.
B.
Epistemologi Filsafat
Epistemologi
filsafat membicarajan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan),
cara memperoleh pengetahuan filsafta dan ukuran kebenaran (pengetahuan)
filsafat.
1.
Objek Filsafat
Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek
penelitian sain. Sain hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat
meneliti objek yang ada dan mungkin ada. Sebanarnya masih ada objek lain yang
disebut objek forma yang menjelaskan sifat kemendalaman penelitian filsafat.
Ini dibicarakan pada epistemologi filsafat.
Perlu juga ditegaskan (lagi) bahwa sain meneliti
objek-objek yang ada dan empiris; yang ada tetapi abstrak (tidak empiris) tidak
dapat diteliti oleh sain. Sedangkan filsafat meneliti objek yang ada
tetapi abstrak, adapun yang mungkin ada,
sudah jelas abstrak, itupun jika ada.
2.
Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat
Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan filsafat?
Dengan berpikir secara mendalam, tentang seuatu yang abstrak.. mungkin juga
objek pemikirannya sesuatu yang konkret, tetapi yang hendak diketahuinya ialah
bagian “di belakang” objek konkret. Dus
abstrak juga.
Secara mendalam artinya ia hendak mengetahui bagian
yang abstrak sesuatu itu, ia ingin mengetahui sedalam-dalamnya.
Filsafat ingin mengetahuidi belakang sesuatu yang
empiris itu. Inilah yang disebut mendalam. Tetap itu pun mempunyai rentangan.
Sejauhmana hal abstrak di belakang fakta empirisi itu dapat diketahui oleh
seseorang, akan banyak tergantung pada kemampuan berpikir seseorang.
3.
Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat
Pengetahuan filsafat
ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa
ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis
benar, bila tidka logis, salah.
Pengetahuan filsafta
ialah pengetahuan yang logis dan hanya logis. Bila logis dan empiris, itu
adalah pengetahuan sain.
Kebenaran teori filsafat
ditentukan oleh logis tidaknya teori itu. Ukuran logis tidak menghasilkan
kesimpulan (teori) itu.
C.
Aksiologi Pengetahuan Filsafat
Disini
diuraikan dua hal, pertama kegunaan pengetahuan filsafat dan kedua cara
filsafat menyelesaikan masalah.
1.
Kegunaan Pengetahuan Filsafat
Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat
memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, kedua filsafat sebagai metode pemecahan
masalah, ketiga, filsafat sebagai
pandnagan hidup (philosophy of life).
Jadi, mengetahui teori-teori filsafat amatlah perlu.
Filsafat sebagai teori filsafat juga perlu dipelajari oleh orang yang akan
menjadi pengajar dalam bidang filsafat.
Yang amat penting juga ialah filsaft sebagai methodology, yaitu cara memecahkan
masalah yang dihadapi. Disini filsafat digunakan sebagai satu cara atau model
pemecahan masalah secara mendalam dan universal.
Filsafat sebagai pandangan hidup tentu perlu juga
dietahui. Mengapa misalnya salah seorang Presiden Amerika (Bill Clinton, 1998),
telah mengaku bezina, dan masyarakatnya tetap banyak yang memberikan dukungan?
Presiden Indonesia yang mengaku berzina pasti akan dicopot oleh masyarakat
Indonesia. Mengapa berbeda? Karena masyarakat Indonesia berbeda pandangan
hidupnya dengan masyarakat Amerika.
Filsafat sebagai philosophy
of life sama dengan agama dalam hal sama mempengaruhi sikap dan tindakan
penganutnya.
Kegunaan Filsafat bagi Akidah
Akidah adalah bagia dari ajaran Islam yang mengatur
cara berkeyakinan. Pusatnya ialah keyakinan kepada Tuhan. Posisinya dalam
keseluruhan ajaran Islam secara penting, merupakan fondasi ajaran Islam secara
keseluruhan, di atas akidah itulah keseluruhan ajaran Islam berdiri dan
didirikan.
Untuk memperkuat akidah perlu dilakukan
sekurang-kurangnya dua hal, pertama,
mengamalkan keseluruhan ajaran Islam secara sungguh-sungguh, kedua, mempertajam pengertian ajara
Islam itu.
Kant menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami
melalui akal (ia menyebutnya akal teoritis) Tuhan dapat dipahami melalui suara
hati yang disebut moral.
Argumen-argumen akliah tentang adanya Tuahn, juga
tentang yang gaib lainnya, yaitu objek-objek metarasional, tidak dapat dipegang kebenarannya; bila akal (rasio)
masuk ke daerah ini ia kaan tersesat ke dalam paralogisme. Inilah pendirian Kant. Argument akliah tentang ini
lemah.
Agaknya kita dapat menyimpulkan bahwa filsafat (dalam
hal ini akal logis) dapat berguna untuk memperkuat keimanan, ini menurut
sebagian filosof lain, seperti Thoma Aquinasl tetapi menurut filosof lain,
seperti Kant, bukti-bukti akliah (dalam arti rasio) tentang adanya Tuhan
sebenarnya lemah, bukti yang kuat adalah suata hati. Suara hati itu memerintah,
bahkan rasio pun tidak mampu melawannya.
Kegunaan Filsafat bagi Hukum
Istilah hukum islami sering rancu. Kadang-kadang hukum
islami itu diartikan syari’ah, kadang-kadang fikih (fiqih). Yang dimaksud di sini ialah fikih.
Fikih secara bahasa berarti mengetahui. Al-Qur’an
menggunakan kata al-fiqh dalam
pengertian memahami atau paham. Pada zaman Nabi Muhammad SAW kata al-fiqh itu tidak hanya berarti paham
tentang hukum tetapi paham dalam arti umum. Faqiha
artinya paham, mengerti, tahu.
Butir-butir aturan dan ketentuan hukum yang ada dalam
ikih pada garis besarnya mencakup tiga unsur pokok. Pertama, perintah seperti shalat, zakat puasa dan sebagainya. Kedua, seperti larangan musyrik, zina
dan sebagainya. Ketiga, petunjuk,
seperti cara shalat, cara puasa dan sebagainya.
Tujuan utama diturunkannya hukum islami (fikih) ialah
untuk menciptakan kemaslahatan hidup manusai, yang dimaksud kemaslahatan ialah
kebaikan. Jelasnya pembentukan fikih itu sejalan dengan tuntunan kemaslahatan
manusia.
Kegunaan Filsafat bagi Bahasa
Tatkala bahasa berfungsi
sebagai alat berpikir ilmiah muncul problem yang serius, ini diselesaikan
antara lain dengan bantuan filsafat.
Filosof adalah “prototype” orang bijaksana. Orang
bijaksana tentu harus menggunakan bahasa yang benar. Bahasa yang benar itu akan
mampu mewakili konsep logis yang dibawakannya. Karena itu pada logika-lah kita
menemukan kaitan erat antara bahasa dan filsafat.
Kekeliruan dalam
berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berpikir. Berikut beberapa contohnya
(lihat Mundiri, Logika, 1994: 194). Pertama, kekeliruan karena komposisi. Kedua, kekeliruan dalam pembagian atau devis, yaitu kekeliruan karena
menetapkan sifat keseluruhan maka keliru pula dalam menetapkan sifat bagian. Ketiga¸kekeliruan karena tekanan. Ini
terjadi dalam pembicaraan tatkala salah dalam memberikan tekanan dalam pengucapan.
Keempat, kekeliruan karena amfiboli. Amfiboli terjadi bila kalimat
itu mempunyai arti ganda.
Kesimpulannya ialah
filsafat sangat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran serta
filsafat (logika) kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.
2.
Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah
Kegunaan filsafat yang
lain ialah sebagai methodology,
maksudnya sebagai metode dalma menghadapai dan menyelesaikan masalah bahkan
sebagai metode dalam memandang dunia (world
view)
Sesuai dengan sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah
secara mendalam dan universal. Penyelesaian filsafat bersifat mendalam, artinya
ia ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar nantinya
penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.
Banyak orang Islam tidak menyenangi sebagian budaya
Barat, khususnya tentang kebebasan seks. Mereka mengatakan kebebasan seks harus
diberantas.
Filsafat mempelajari asal usul kebebasan seks itu.
Ditemukan, itu muncul dari faham Hedonisme. Maka kita perangi paham itu.
Filosof lain belum juga puas, karena menurutnya Hedonisme itu belum penyebab
paling awal, Hedonisme itu turunan Pragmatisme. Pragmatism itu bersama dengan
Liberalisme lahir dari Rasionalisme. Maka untuk memberantas kebebasan seks kita
harus menjelaskan bahwa Rasionalisme itu adalah pemikiran yang salah.
Bonus
Cara Orang Umum Menilai
Ada
tiga cara orang menilai suatu pendapat atau pernyataan. Pertama, ia menilai berdasarkan ketidaktahuannya tentang itu,
ketidaktahuannya itulah yang dijadikannya ukuran. Kedua, menilai dengan menggunakan pendapatnya sebagai ukuran. Ketiga, menilai dengan menggunakan
pendapat umumnya pakar sebagai alat ukur.
Sebenarnya
bila kita tidak tahu hanya ada dua hal yang layak dilakukan, pertama, diam, kedua, mempelajarinya.
Netralitas Filsafat
Seandainya
logika kita anggap netral, itu bukan berarti filsafat itu netral, sebab masi
menjadi persoalan apakah logika itu filsafat atau bukan filsafat. Jika Anda
termasuk yang berpandangan bahwa logika itu adalah bagian dari filsafat, maka
Anda harus berpendapat bahwa sebagian dari filsafat adalah netral.
BAB 4
PENGETAHUAN MISTIK
Diuraikan
berikut ini ontologi pengetahuan mistik, epistemologi pengetahuan mistik, dan
aksiologi pengetahuan mistik.
A.
Ontologi Pengetahuan Mistik
Diuraikan di sini hakikat
pengetahuan mistik dan struktur pengetahuan mistik.
1.
Hakikat Pengetahuan Mistik
Mistik
adalah pengetahuan yang tidak rasional; ini pengertian yang umum.
Pengetahuan
mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, maksudnya, hubungan
sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini
kadang-kadang memiliki bukti empiris tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan
secara empiris.
Pengetahuan
mistik (sebenarnya pengetahuan yang besifat mistik) ialah pengetahuan yang
supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.
2.
Struktur Pengetahuan Mistik
Dilihat
dari segi sifatnya kita membagi mistik menjadi dua, yaitu mistik biasa dan
mistik magis.
Mistik
biasa adalah mistik tanpa kekuatan tertentu. Dalam Islam mistik yang ini adalah
tasawuf. Mistik magis ialah mistik yang mengandung kekuatan tertuntu dan bias
any auntuk mencapai tujuan tertentu. Mistik magis ini dapat dibagi menjadi dua
yaitu mistik-magis-putih dan mistik-magis-hitam. Mistik-magis-putih dalam Islam
contohnya ialah mukjizat, karamah, ilmu himah, sedangkang mistik-magis-hitam
contohnya ialah santet dan sejenisnya yang menginduk ke sihir, bahkan boleh
jadi mistik-magis-hitam itu dapat disebut sihir saja.
Perbedaan
mendasar ada pada segi filsafatnya. Mistik-magis-putih selalu dekat dan
berhubungan dan bersandar pada Tuhan, sehingga dukungan Ilahi sangat
menentukan. Mistik-magis-hitam selalu dekat, bersandar dan bergantung pada
kekuatan setan dan roh jahat.
B.
Epistemologi Pengetahuan Mistik
Pengetahuan
mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui inderan dan bukan melalui
rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat
merasa. Kalau indera dan rasio adalah alat mengetahui yang dimiliki manusia,
maka rasa aatu hati, juga adalah alat mengetahui.
1.
Objek Pengetahuan Mistik
Yang
menjadi objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak-supra-rasional,
seperti alam gaib termasuk Tuhan, malaikat, surge, neraka, jin dan lain-lain.
Termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah
objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek
supra-natural (supra-rasional), seperti kebal, debus, pelet, penggunaan jin,
santet.
2.
Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
Bagaimana
memperoleh pengetahuan mistik? Di atas sudah dikatakan bahwa pengetahuan mistik
itu tidak diperoleh melalui indera dan tidak juga dengan menggunakan akal
rasional. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa.
Pada
umumnya cara memperoleh pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riyadhah. Dari riyadhah itu manusia memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan
yang dalam tasawuf disebut ma’rifah.
3.
Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik
Kebenaran pengetahuan
mistik diukur dengan berbagai ukuran. Bila pengetahuan mistik itu berasal dari
Tuhan, maka ukurannya ialah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Tatkala Tuhan
dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa surge neraka itu ada, maka teks itulah yang
menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran kebenaran
pengetahuan mistik itu kepercayaan. Jadi, sesuatu dianggap benar karena kita
mempercayainya. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh melakukan kebenarannya.
C.
Aksiologi Pengetahuan Mistik
Disini
dibahas kegunaan pengetahuan mistik dan cara pengetahuan mistik menyelesaikan
masalah.
1.
Kegunaan Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik itu
amat subjektif, yang paling tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Secara kasar
kita dapat mengetahui bahwa mistik yang biasa digunakan untuk memperkuat
keimanan, mistik-magis-hitam digunakan untuk kebaikan, sedangkan
mistik-magis-hitam digunakan untuk tujuan jahat.
Di kalangan sufi
(pengetahuan sufi mistik biasa) dapat menentramkan jiwa mereka, mereka bahkan
menemukan kenikmatan luar biasa tatkala “berjumpa” dengan kekasihnya (Tuhan).
Jenis mistik lain seperti
kekebalan, pelet, debus, dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseorang
sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu, terlepas dari benar atau tidak
penggunaannya.
2.
Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah
Jadi, ada dua
macam mistik, yaitu mistik yang biasa dan mistik magis. Istilah “mistik”
menunjukkan pengertian kegiatan spiritual tanpa penggunaan rasio. Ini berlaku
bagi dua macam istik itu. Sedangkan “mistik-magis” adalah kegiatan mistik yang
mengandung tujuan-tujuan untuk memperoleh sesuatu yang diingini penggunanya
Cara Kerja Mistik-Magis-Putih
Cara kerja mistik-magis-putih ialah sebagai berikut.
Para ahli hikmah dengan metode kasyf telah menemukan bahwa di dalam agama ada
muatan-muatan praktis untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah seperti
mengatasi sesuatu kebutuhan. Mereka menyadari bahwa kekuatan Tuhan baik yang
ada dalam diri-Nya atau yang ada dalam firman-Nya dapat digunakan oleh manusia.
Pengertian yang dapat diambil ialah
bahwa do’a dan wirid dapat menjembatani manusia dengan kebutuhannya dan Tuhan
yang memiliki apa yang dibutuhkan itu.
Cara yang kedua ialah dengan cara
memindahkan jiwa-jiwa ilahiyah atau khadam yang ada di dalam huruf-huruf
al-Qur’an atau yang ada di dalam asma-asma Allah. Cara inilah yang disebut
wafaq atau isim. Istilah wafaq berasal dari kata wafaqa (sesuai atau selaras),
artinya jiwa-jiwa ilahiyah ditarik sesuai dengan karakternya.
Cara Kerja Mistik-Magis-Hitam
Kita melihat dengan mata kepala sendiri cara seorang
tukang sihir membuat gambar calon korbannya. Lalu ia bacakan mantra bagi gambar
yang diletakannya sebagai ganti orang yang dituju, secara konkrit dan simbolik.
Kita juga menyaksikan bagaimana orang
mempraktikan sihir. Ada yang menunjuk pada pakaian atau selembar kulit sebagai
perantara dan membacakan mantra-mantra.
Bonus
Ilmu Putih vs Ilmu Hitam
Bila pada ontologinya (misalnya mantranya) melawan
ajaran benar (agama misalnya, maka “ilmu” itu kita golongkan hitam. Pada segi
epistemologinya, seandainya melawan ajaran yang benar, maka “ilmu” itu kita
katakana hitam. Pada segi aksiologi juga demikian. Bila “ilmu” itu digunakan
untuk tujuan melawan ajaran yang benar, maka ia akan aksiologi ia digolongkan
hitam.
Suatu ilmu mistik magis haruslah
lolos dalam uji ontologi, epistemologi, maupun aksiologinya. Tidak lolos dari
salah satu saja berakibat “ilmu” itu dapat digolongkan hitam. Alat pengujinya
ialah ajaran kebenaran.
Netralitas Pengetahuan Mistik
Pengetahuan mistik dengan mudah dapat dilihat bahwa ia
tidak netral.
Sebagian dari pengetahuan mistik
adalah mengenai agama seperti surga, neraka, tasawuf. Bagian ini jelas sekali
tidak netral. Mistik magis (baik yang putih maupun yang hitam) selalu memiliki
sifat individualistic, karena itu ia subjektif. Bila subjektif, maka sudah
jelas ia bersifat tidak netral.
Beberapa Contoh Pengetahuan Mistik
Berikut ini beberapa contoho
pengetahuan mistik dengan sedikit uraiannya, umumnya disarikan dari makalah
mahasiswa Pascasarjana IAIN Bandung.
Mukasyafah
Ontologi
Mukasyafah adalah salah satu contoh pengetahuan
mistik, ini termasuk mistik putih.
Berbeda halnya dengan filsafat dan
sain, pengetahuan mukasyafah justru
diawali oleh asumsi dan kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi
antara subjek-objek, yaitu manusai-Tuhan. Hal ini dirumuskan oleh Ha’iri (Ilmu Hudluri: Prinsip-prinsip Epistemologi
dalam Islam, 1994: 20) sebagai berikut.
Tuhan dalam
Diri-diri dalam Tuhan
Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang
dan dalam Tuhan, suatu pengetahuan hakikiah. Mukasyafah adalah upaya penyikapan hijab-hijab yang menutupi diri. Secara esensial penyingkapan adalah
penghancuran tirai yang menutup objek dengan jalan rohani.
Pengetahuan
mukasyafah berpijak pada asumsi bahwa
Allah itu ada, dan selai Allah ada juga. Akan tetapi terdapat perbedaan sifat
ontologis mendasar antara ada Allah dan
ada selain Allah.
Pengetahuan
tentang alam (selain Allah) diperoleh hanya jika manusia melakukan konseptualisasi
pengalaman inderawinya.
Tuhan
mempunyai dua sisi, sisi esensi dan sisi eksistensi. Tatkala Tuhan
bereksistensilah Ia dapat dipahami, yaitu tatkala Ia berhubungan dengan selain
Dia. Jadi, kita tidak akan dapat mengetahui esensi Tuhan. Tuhan diketahui
tatkala Ia dalam penampakan, dus tatkala
Ia berhubungan dengan yang lain, yaitu dalam ciptaan-Nya. Ini masih pada level
pengetahuan filsafat.
Sistem pengetahuan mukasyafah berpijak
pada asumsi (keyakinan) bahwa Tuhan memancarkan pengetahuan-Nya. Tetapi pengetahuan
yang dipancarkan-Nya itu tidak dapat dipahami oleh indera atau pu rasio.
Pengetahuan yang dipancarkan-Nya itu hanya dapay dipahami oleh potensi
spiritual kita.
Epistemologi
Metodologi Penyingkapan Tabir
Ibnu Sina membagi kegiatan penempuh jalan cahaya dalam
dua tahapan, yaitu iradah (kehendak)
dan riyadhah (latihan). Iradah yaitu munculnya hasrat berpegang
teguh pada jalan yang membimbing menuju Tuhan. Menurut Ibn Sina iradah adalah kerinduan yang dirasakan
manusai tatkala dirinya kesepian dan tidak berdaya, ia ingin bersatu dengan
kebenaran agar tidak merasa kesepian dan lepas dari ketakberdayaan.
Adapun riyadhah ialah
latihan. Ini mempunyai tiga tujuan:
·
Menyingkirkan
segala sesuatu selain Allah yang mengahalangi perjalanan spiritual;
·
Menundukkan jiwa
yang cenderung menyuruh berbuat jahat (al-nafs
al-ammarah) ke jiwa yang tenang (al-nafs
al-muthma’innah);
·
Melembutkan jiwa
batiniah (talthif al-sirr) dengan
tujuan membuatnya siap menerima pencerahan (lihat Murtadla Muthahhari, Menapak Jalan Spiritual, 1995: 68-70)
Ilmu Ladun
Ontologi
Ilmu ladun ialah ilmu batiniah yang bukan merupakan
hasil pemikiran; ilmu laduni adalah yang diterima langusng melalui ilham,
iluminasi, atau inspirasi dari sisi Tuhan (Ensiklopedi
Islam, 3: 90)
Epistemologi
Maqam itu dapat dicapai dengan cara membersihkan diri
(hati) melalui riyadhah dan mujahadah.
Riyadhah dan mujahadah itu akan menghasilkan musyahadah (tembus pandang) pada ke-Ilahian Tuhan setelah
terbukanya hijan (dinding pembatas) antara hamba dan Tuhannya. Ketika itulah
hamba tesebut menerima ilmu laduni (Ensiklopedia
Islam, 3: 90).
Aksiologi
Kegunaan ilmu ladunia ialah sebagai berikut.
Agar dapat
memahami ilmu dengan tepat;
Dapat mengetahui
tingkatan ilmu seseorang;
Dapat mengetahui
karakter seseorang;
Dapat mengambil
ilmu orang lain yang diinginkan;
Dapat membedakan antaar
jin, setan, malaikat, dan dapat berdialog dengan mereka itu;
Dapat mengetahui penyakit
seseorang dan dapat menyembuhkannya;
Dapat mengobati orang kena
santet;
Dapat mengetahui jodoh
seseorang dan nasibnya;
Dapat mengetahui kematian
seseorang, kalau mungkin mengundurnya;
Dapat mengetahui
keinginan seseorang tanpa ia mengatakannya;
Saefi
Ontologi
Dari segi etimologi, kata “saefi” (bahasa Arab)
berarti pedang. Dari segi terminologi, saefi adalah nama ilmu yang terdiri dari
rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan kepada
Allah. Dilihat segi substansinya saefi adalah doa yang dibaca terus-menerus
atau berulang-ulang menurut bilangan dan waktu tertentu.
Epistemologi dan Aksiologi
Pada dasarnya pengetahuan saefi diperoleh seperti
mempeoleh pengetahuan hikmah. Pengetahuan saefi adalah salah satu pengetahuan
magis putih. Cara-cara memperoleh pengetahuan saefi sangat beragam, tergantung
pada siapa gurunya dan saefi apa yang ia gunakan.
Ada saefi yang diperoleh hanya dengan melakukan wirid
saja sebanyak bilangan tertentu seperti Saefi Mughni, Saefi Dzulfaqar, dan
lain-lain. Namun, secara umum saefi diperoleh dengan banyak dzikrullah dan menjauhi maksiat.
Berikut ini ada beberapa macam saefi dan cara
memperolehnya.
1) Saefi Dzulfaqar
Pengetahuan
ini apabila dimiliki, orang yang memilkinya berwibawa.
2) Saefi Mughni
Saefi
ini dapat menyebabkan pemilik atau pengamalnya mendadak kaya.
3)
Saefi Umum
Saefi ini apabila
diamalkan maka apapun yang diinginkan akan mudah tercapai.
4)
Saefi Antazaman
Saefi ini dapat
menyelamatkan orang dari pengaruh negatif arus zaman.
Jangjawokan
Ontologi
Jangjawokan adalah bahasa
Sunda, disebut juga Jampi. Aji-aji
dalam bahasa Jawa, adalah semacam ucapan yang bacaannya campuran antara bahasa
Arab, bahasa Sunda, bahasa Jawa.
Jangjawokan itu merupakan
ucapan atau kalimat (kalimat-kalimat) yang bila diucapkan diyakini memiliki
kekuatan magis tertentu.
Di daerah Sunda,
Jangjawokan itu kelihatannya berupa doa, untuk keperluan tertentu, seperti agar
lulus ujian, agar dagangannya laris, agar dicintai seseorang (jadi sama dengan
pelet), agar jadi pemberani, agar musuh takut, dan lain-lain.
Epistemologi
Bacaan dalam Jangjawokan biasanya diajarkan oleh guru
dari mulut ke telinga (Secara lisan) dalam situasi tidak formal. Lafal-lafal
bacaannya dihafalkan dengan meniru ucapan dari guru, biasanya orang datang ke
guru tatkala memerlukannya saja, misalnya, seseorang mendapat tantangan (fisik)
maka ia datang ke guru minta diajarkan bacaan agar penantang itu takut.
Aksiologi
Berikut
beberapa contoh Jangjawokan yang menjelaskan selain bacaannya juga kegunaannya.
1)
Asihan Nabi Yusuf
Kegunaannya
agar dicintai perempuan.
2)
Asihan Perorangan
Gunanya:
mempertebal cinta kasih yang sudah lama retak.
3)
Penyembuhan Bisul
4)
Penyembuhan Sakit Ulu Angen
5)
Memandikan Orang yang Mempunyai Tanda
6)
Memberantas Hama Wereng
Menurut Kadim
(sumber Muchtaram), ilmu ini (Jangjawokan) dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan,
tergantungan pada jenis bacannya, antara lain:
·
Agar dikasihi
orang, pembesar;
·
Agar dicintai
(jadi seperti pelet);
·
Untuk menyembuhkan
penyakit;
·
Agar disegani atau
ditakuti, dan lain-lain.
Berikut beberapa contoh
Jangjawokan yang diambil dari makalah Dede Daud:
1)
Kadugalan (agar kebal)
2)
Kadugalan (supaya dapat berjalan di atas air)
3)
Pangobaran (mengahadapi musuh)
4)
Pemelet (asihan si lulut putih)
5)
Jampi Raheut (patah tulang)
6)
Pileumpeuhan (agar musuh lemah)
7)
Penangkal sial
Jangjawokan adalah
semacam jampi-jampi atau bacaan-bacaan atau mantra-mantra yang berkembang di
daerah tertentu. Jampi-jampi itu diyakini memiliki kekuatan magis oleh orang
yang menggunakannya.
Jangjawokan merupakan
tradisi mistis yang berlaku di daerah tertentu. Biasanya diajarkan atau
diberikan ketika diperlukan.
Sihir
Ontologi
Secara etimologis kata
sihir berasal dari bahasa Arab bentuk mashdar
kata kerja sahara-yasharu yang
memiliki arti sesuatu yang sumbernya lembut atau halus.
Berdasarkan arti kata
tersebut dapatlah dikatakan bahwa sihir merupakan upaya yang dilakukan manusia
sebagai suatu tipu daya yang dalam mewujudkannya,meminta bantuan sesuatu yang
halus (setan) untuk membelokkan sesuatu yang sebenarnya ke sesuatu yang bukan
sebenarnya.
Dilihat dari
klasifikasinya Suroso Orakas (White
Magic, 1989: 21-22) membagi sihir menjadi dua, yaitu sihir klasik dan sihir
modern. Sihir klasik dilaksanakan secara tradisional dan dilakukan oleh pawing
atau pemenung. Sihir klasik ini dibaginya tiga, yaitu:
1) Sihir dengan konsentrasi penuh pada tujuan.
2) Sihir dengan menggunakan alat bantu.
3) Sihir dengan gerakan-gerakan tertentu disertai
mantra-mantra.
Sihir modern adalah yang
dilaksanakan dengan cara-cara modern, praktis dan sederhana, yang biasanya
dilakukan oleh ahli hipnotis dan paranormal.
Epistemologi
Sihir selalu menggunakan bantuan jin kafir. Cara
mendatangkan jin ialah sebagai berikt.
Thariqat al-Iqsam
(bersumpah atas nama jin)
Thariqat al-Dzabhi
(menyembelih sembelihan)
Thariqat Sufliyah ( melakukan
kenistaan)
Thariqat Najasah (menuliskan ayat
al-Qur’an menggunakan najis)
Thariqat al-Tankis (menuliskan ayat
al-Qur’an dengan susunan sungsang)
Thariqat Tanjim (menujum
menggunakan binatang)
Thariqat Kaffi (melihat melalui
telapak tangan)
Thariqat al-Atsar (menggunakan benda
bekas pakai)
Aksiologi
Kegunaan sihir lebih berorientasi pada orang yang
memanfaatkannya (biasanya pemesan) dan penyihir itu sendiri (yang mendapat
imbalan dan ada juga bersifat sukarela).
Penggunaanya sihir hanya ada gua, pertama yang dikenakan pada badan, kedua kepada harta korban. Berikut adalah beberapa jenis sihir dan
kegunaannya:
1)
Sihir Perceraian
Digunakan
untuk menceraikan suami istri atau untuk menimbulkan permusuhan antara orang
yang bersahabat.
2)
Sihir Mahabbah atau Guna-guna
Digunakan
oleh perempuan agar terlihat menarik.
3)
Sihir Menipu Penglihatan (hipnotis)
4)
Sihir Gila
5)
Sihir Lesu
6)
Sihir Suara Panggilan
7)
Sihir Penyakit
8)
Sihir Pendarahan
9)
Sihir Menghalangi Pernikahan
Ilmu Kebal
Ilmu kebal adalah sejenis pengetahuan yang berkembang
di masyarakat, khusunya Indonesia, dikenal sebagai ilmu tentang cara-cara
menjaga diri tanpa bantuan alat fisik agar tidka mempan senjata tajam atau
benda lain yang dapat melukai.
Ilmu ini pada dasarnya membahas cara agar mendapat
keselamatan dari ganggunan yang akan mencelakakan diri atau jiwanya. Bentuk
keselematan tersebut dapat berupa:
1. Terhindar dari perlakukan untuk melukai;
2. Tidak luka pada saat orang melukai;
Bentuk kedua ini lebih
dikenal sebagai ilmu kanuragan dan
dipandang bersifat fisik, sedangkan bentuk pertama sering disebut sebagai ilmu hikmah yang lebih bersifat psikis.
Kegunaan ilmu kebal ialah
untuk menjaga diri dari kecelakaan yang diakibatkan oleh kejahatan orang lain
dan dapat pula digunakan untuk menolong orang lain dari kejahatan orang
terhadapnya. Jika tujuannya baik maka ia disebut ilmu putih, bila tujuannya
tidak mengindahkan moral, maka disebut ilmu hitam.
Santet
Dalam Kamus Umum Bahasa Sunda (1982: 152)
disebutkan bahwa santet adalah jampe
pamake keur hasud ka batur sina gering atawa maot (mantra yang dibacakan dengan
maksud hasud pada orang lain agar sakit atau mati). Ini berarti santet selalu
berkonotasi jahat. Menurut J. Van Baal (Sejarah
dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya, I, 1987: 210) santet adalah
bagian dari sihir, merupakan kekuatan supra natural yang dapat dipaksa ataupun
dengan jalan buruk. Suyono Ariyono (Kamus
Antroplogi, 1985: 158) menyatakan bahwa santet adalah sejenis pengetahuan
yang semata-mata berdasarkan kekuatan gaib.
Dari sekian banyak definisi di atas dapat disimpulkan
bahwa santet adalah suatu pengetahuan tentang makhluk gaib yang dapat
diperintah untuk memengaruhi korban dengan menggunakan simbol-simbol dan
upacara ritual.
Cara mempelajari santet berbeda dari mempelajari
filsafat atau sain. Sampai saat ini santet masih merupakan cerita misteri.
Dikatakan demikian karena santet itu bersfiat irrasional.
Berdasarkan wawancara diketahui bahwa kegunaan santet
ada dua: pertama menyakiti; kedua membunuh.
Pelet
Ontologis
Secara etimologis pelet mengandung arti memikat,
mengambilm pesona, bujukan, secara terminologis pelet ialah usaha sadar
membujuk, menarik rasa cinta seseorang dengan cara-cara tertentu.
Berdasarkan pengertian di atas, dapatlah disimpulkan
bahwa pelet merupakan tindakan yang disengaja untuk menarik, mengalihkan rasa
cinta seseorang kepada pemelet tanpa disadari sepenuhnya oleh orang yang
dipelet.
Dilihat dari sumber pengamalannya pelet dapat dibagi
menjadi dua bagian. Pertama, pelet
yang menggunakan huruf-huruf Arab. Pelet model ini banyak ditemukan dalam
kitab-kitab mujarabat. Berdasarkan
pengalaman, para santri banyak memiliki pelet semacam ini.
Epistemologi dan
Aksiologi
Untuk memperoleh ilmu pelet kategori pertama, orang
dapat berguru kepada “kyai”, ustaz atau orang-orang tertentu yang memiliki ilmu
itu. Pelet jenis kedua biasanya diperoleh dari dukun yang banyak berpraktek di
bidang itu.
Ada dua kegunaan pelet. Pertama, untuk mengakrabkan persahabatan, hubungan suami istri,
atasan bawahan. Kedua, pelet untuk
memelet lawan jenis untuk dijadikan pasangan hidup. Pelet semacam ini terkadang
dilakukan dengan paksaan yang keras, terkadang sang korban sampai berpindah
agama demi mengikuti kehendak pemelet.
Debus
Kata debus dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia mengandung arti tiruan bunyi seperti hembusan angina,
sedangkan di dalam Kamus
Indonesia-Inggris disebutkan bahwa debus bermakna ritual display of invulnerabilitity in west Java.
Ontologi
Dalam prakteknya, debus memang sesuatu yang luar
biasa, seperti:
·
Memakan kaca dan
tidak luka.
·
Kulit tahan
disiram air keras.
·
Tahan ditusuk
dengan jarum.
·
Ditusuk atau
digorok tidak luka.
·
Orang diikat
dimasukan peti, setelah dibuka ikatannya lepas, bahka ia keluar sambal merokok.
·
Api tidak panas
baginya.
Untuk
mampu makan kaca pendebus harus wirid dan puasa. Banyaknya wirid dan lamanya berpuasa
juga ditentukan oleh tingkat kemampuan yang hendak dicapai.
Epistemologi
Ada dua hal yang harus dipenuhi oleh seseorang yang
memperoleh kemampuan debus, yaitu:
·
Harus suci badan
dari hadas baik besar maupun kecil dan harus suci dari dosa terutama dosa
besar.
·
Dituntut adanya
kebulatan dan keyakinan dalam hati.
Aksiologi
Pada mulanya debus digunakan di Kerajaan Islam Banten
dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Agaknya debus digunakan sebagai media
dakwah seperti walisongo menggunakan wayang. Menurut catatan sejarah, orang
yang hendak nonton debus cukup mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ganti
karcis masuk. Kemudian dalam setiap wirid debs selalu didahului dengan
syahadat.
Tentang Jin
Jin adalah nama jenis, bentuk tunggalnya jinniy untuk laki-laki dan jinniyah untuk perempuan yang mempunyai
pengertian “yang tertutup” atau “yang tersembunyi”.
Iblis adalah keturunan jin yang sangat pandai, tetapi
kemudian ia berperangai buruk dan sombong sebagaimana digambarkan dalam
al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 50. Perbedaan jin dan setan adalah setiap setan
adalah jin dan tidak setiap jin adalah setan.
Salah satu jenis jin adalah jin qarin yaitu jin yang ditugasi mendampingin seseorang di mana
dan kapan pun orang itu berada. Jin qarin inilah yang membantu untuk mengetahui
dukun untuk mengetahui ihwal pasien, sehingga dukun tersebut dapat menebak ihwal
pasiennya seakan-akan ia menyetahui yang gain.
Memiliki pengetahuan tentang jin dapat menambah
keimanan, mengharuskan manusia waspada terhadap kejahatan atau gangguan jin
jahat, yang selalu menggoda manusia agar ingkar kepada Allah.
Bagi orang yang dapat menundukkan jin atau bekerja
sama dengan jin pada umumnya menjadikan jin sebagai khadam. Peran jin dalam hal ini mungkin positif mungkin negative,
sesuai dengan orang memanfaatkannya dan juga ditentukan oleh jenis jin, apakah
jin itu dari jenis baik atau jin jahat. Dalam arti negative jin dapat digunakan
untuk membahayakan orang lain seperti digunakan dalam menyantet, menyihir.
Nyambat
Ontologi
Nyambat, dalam bahasa Sunda, artinya kita-kita sama
dengan memanggil, menghadirkan, mendatangkah. Secara istilah nyambat ialah memanggil atau
menghadirkan roh melalui suatu ritual dengan mengucapkan bacaan-bacaan
tertentu.
Epistemologi dan
Aksiologi
Berikut diuraikan secara ringkas beberapa jenis nyambat, cara melakukannya dan
kegunaannya.
1)
Asrar
Yaitu
memanggil yang gaib untuk mengetahui sesuatu yang tidak terlihat mata tidak
terdengar telinga.
2)
Abdul Jabbar
Adalah
nama nyambat untuk menghadirkan
kekuatan dan kesaktian Abdul Jabbar.
3)
Pajajaran
Adalah
nyambat untuk menghadirkan khadam berupa siluman yang menjelma
menjadi harimau.
4)
Kuda Lumping
Nyambat untuk menghadirkan makhluk gaib, ini adalah nyambat yang berasal dari Majalengka.
5)
Kasurupan
Memanggil
jin (khadam) untuk dimintai
bantuannya mengeluarkan jin pengganggu yang mengganggu seseorang (yang
kesurupan)
6)
Tenaga Gaib
Adalah
tenaga yang diisikan guru atau didapat karena wirid atau puasa. Tenaga ini dimasukkan ke dalam tubuh untuk
membangkitkan atau memancing kekuatan gaib yang ada di dalam tubuh kita (Lembaga
Seni Bela Diri Hikmatul Islam, Buku
Pegangan Anggota, 1993: 17).
Tenaga
ini digunakan:
·
Agar disenangi
orang banyak
·
Agar dapat lari
cepat
7)
Pendukunan (al-kahin)
Caranya:
Dukun bersemedi, membersihkan pikirannya dari
persoalan duniawi dengan harapan mendapat petunjuk (Jawa: wangsit) yang gaib.
Ada juga dukun yang membacakan mantra-mantra pada
segelas air putih, setelah itu air tersebut diseduh dan air itu diyakini dapat
menyembuhkan penyakit.
8)
Ramal
Maria
Susuei Dhacamony (Fenomenologi Agama,
1997: 61) menjelaskan tiga teknik ramal, yaitu:
Pertama, ramalan mekanis yang menggunakan manipulasi objek
material dan operasinya secara kebetulan saja, kedua, ramalan lewat nujum, ketiga,
ramalan yang menggunakan kekuatan supranatural.
Dapat disimpulkan bahwa
melalui nyambat dapat diperoleh,
kegunaan sebagai berikut:
Mendatangkan kekuatan
gaib melalui khadam;
Mengetahui rahasia bathin
melalui khadam;
Melalukan gerakan dengan
kekuatan gaib dan alam bawah sadar;
Menghadirkan kesaktian seseorang
melalui kekuatan gaib;
Menghadirkan kekuatan
gaib dalam bentuk binatang seperti jurus-jurus harimau;
Mengusir
kekuatan gaib pada seseorang yang kemasukan makhluk dan menyembuhkannya;
Memecahkan
benda-benda keras melalui khadam dan
pukulan jarak jauh;
Menimbulkan
simpati orang banyak melalui kekuatan gaib;
Mendapatkan
kekebalan, pengobatan dan kekuatan fisik supranatural;
Menjawab
pertanyaan-pertanyaan orang.
Ilmu Kanugaran
Ilmu kanugaran adalah
ilmu bela diri, dapat berbentuk kekuatan yang datang dari dalam dan dapat juga
datang dari luar, keduanya merupakan hasil dari latihan fisik dan riyadhah.
Di Indonesia banyak
terdapat perguruan yang mengajarkan ilmu
kanuragan, satu diantaranya Al-Ma’unah di Jember. Stiap anggota perguruan
ini diharuskan mengamalkan Tarikat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Cara memepelajari
seni bela diri tenaga dalam Al=Ma’unah itu adalah mengikut urutan sebagai
berikut.
1)
Dasar
Mempelajari
10 jurus latihan fisik seperti gerakan silat sampai dikuasai.
2)
Pembuka
Jurus
dasar yang 10 tersebut, setelah dikuasai benar-benar, harus dilengkapi degan
tendangan sambal zikir nafas sirr.
3)
Pintu Wali
Dalam
tahap ini pelajar sudah mulai menerima harakat,
semacam tenaga dari guru.
4)
Payung Wali
Di
sini pelajar harus sudah diuji ilmunya dalam hal menghasilkan tenaga-dalam dan
ia harus terus mengamalkan Tarikat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.
5)
Pancaran Ma’unah
setelah
menguasai ilmu bela diri tersebut, murid dapat mempergunakan ilmunya itu kapan
saja.
Secara umum, ilmu kanuragan dapat digunakan:
·
Untuk melumpuhkan
ilmu hitam, dengan terlebih dahulu menggunakan ilmu tahanan maut untuk menjaga
serangan balik.
·
Untuk menyedot dan
membalikkan ilmu lawan, bila lawan menyerang dengan tenaga gaib atau tenaga
dalam.
·
Untuk menotok
lawan dari jarak jauh.
·
Untuk memukul
lawan dari jarak jauh.
·
Untuk memukul
musuh dengan hawa panas, sehingga musuh akan kepanasan.
Komentar
Posting Komentar