Masalah Sosial di SD

Pada mata kuliah Pendidikan IPS Kelas Rendah hari Selasa, 10 Oktober 2017, membahas mengenai ‘Masalah Sosial di SD’. Ada tiga masalah sosial yang menjadi hal serius yang terjadi di SD, yaitu: (1) masalah kedisiplinan, (2) masalah etika dan moral, (3) menyontek. Kemajuan zaman yang menjadikan dunia seperti tidak ada batasnya membawa pengaruh yang begitu besar kepada perilaku anak. Perubahan zaman yang terjadi haruslah menjadi perhatian bagi semua orang, terutama orang tua dan guru. Jika melihat ketiga masalah sosial yang terjadi, disitulah peran guru dan orang tua sangat dibutuhkan agar anak tidak menjadikan ketiga masalah tersebut menjadi sebuah kebiasaan.
Pertama, masalah kedisiplinan. Ada banyak masalah-masalah yang terjadi di SD mengenai kedisiplinan. Contohnya saja, ada beberapa siswa yang tidak memakai atribut lengkap saat upacara atau hari biasa, terlambat datang ke sekolah, tidak mengerjakan PR, dan menyalahi aturan-aturan sekolah yang lainnya. Agar hal ini tidak terjadi lagi biasanya guru memberikan hukuman bagi siswa yang tidak disiplin. Misalnya, siswa yang tidak memakai atribut lengkap saat upacara akan diberi hukuman yaitu siswa disetrap untuk berdiri di hadapan semua peserta upacara. Namun, hukuman tersebut nyatanya tidak serta merta membuat siswa jera, hampir setiap minggu ada saja siswa yang dihukum karena tidak memakai atribut sekolah dengan lengkap.
Kedua, masalah etika dan moral. Masalah ini menjadi masalah yang sangat seru untuk dibahas. Semakin maju zaman, sepertinya etika dan moral anak semakin terkikis. Mungkin pada zaman-zaman sebelumnya, murid sangat menghormati gurunya. Namun, tidak dengan zaman sekarang ini, banyak siswa yang tidak memiliki etika dan moral yang baik kepada gurunya. Contohnya, siswa yang mengejek gurunya sehingga membuat gurunya menangis dan masih banyak lagi yang lainnya. Indonesia sedang mengalami kritis moral, banyak masyarakatnya yang tidak memiliki etika dan moral yang baik, yang tentunya hal ini sangat memprihatinkan. Indonesia dikenal dengan negara yang ramah dan menjunjung tinggi nilai kesopanan, namun tidak dengan akhir-akhir ini. Mungkin karena hal ini juga anak-anak mencontoh kebiasaan orang dewasa yang tidak memiliki etika yang baik.
Ketiga, menyontek. Menyontek sepertinya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang ,  bisa dihilangkan di kalangan pelajar. Belum ada ‘obat’ yang bisa menangkal kegiatan yang tidak terpuji ini, malah strategi menyontek yang dilakukan para pelajar semakin canggih. Aturan “Dilarang Menyontek” sepertinya hanya dianggap sepele bagi para pelajar. Kebiasaan menyontek biasanya timbul pada jenjang pendidikan menengah, namun tidak dengan akhir-akhir ini, siswa SD-pun sudah terbiasa dengan menyontek. Pelajar bermain kucing-kucingan dengan pengawas, hal ini terkesan bahwa siswa yang mengawasi pengawas bukan pengawas yang mengawasi siswa.

Dari ketiga masalah yang sudah dipaparkan di atas, disinilah peran guru dan orang tua sangat dibutuhkan. Guru di sekolah tentu harus menjadi contoh yang baik bagi siswanya. Jika ingin menanamkan sikap disiplin kepada siswa, guru lah yang harus memulai hal tersebut. Contohnya, dengan tidak terlambat saat memasuki kelas, memakai pakaian yang rapi dan sopan. Guru menjadi teladan bagi siswanya agar siswanya memiliki etika dan moral yang baik, guru pun harus begitu. Untuk menyontek, memang masih sangat susah untuk dihilangkan namun setiap guru tentunya mempunyai strategi tersendiri untuk setidaknya meminimalisir hal tersebut. Orang tua tentulah harus tetap mengontrol dan mendidik anaknya dengan baik karena tugas mendidik anak tidak semuanya harus diserahkan kepada guru, namun orang tualah yang memiliki peran sangat penting bagi perkembangan anak.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belum Cukup Umur

Anak Jalanan

Ilmu Bahasa dan Budaya