Gonta-ganti Kurikulum
Pergantian kurikulum bukanlah menjadi hal yang asing dalam
pendidikan Indonesia. Mari kita mulai perubahan kurikulum dari kurikulum 2004
yang mempunyai nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), lalu berubah pada
tahun 2006 yang dikenal dengan nama KTSP 2016 atau Kurikulum Terapan Satuan Pendidikan,
lalu berubah kembali menjadi Kurikulum 2013 yang biasa disingkat menjadi
Kurtilas. Sepertinya, perubahan kurikulum sejalan dengan pergantian menteri
pendidikan. Menteri Pendidikan yang menjabat mempunyai ide masing-masing untuk
memajukan pendidikan Indonesia.
Mungkin
hal itulah yang menjadi kendala bagi kemajuan pendidikan di Indonesia sehingga
Indonesia tidak mengalami peningkatan yang signifikan di bidang pendidikannya.
Indonesia tidak memiliki kurikulum tetap. Pada kurikulum 2013, mahasiswa
dituntut untuk aktif dalam pembelajaran dan guru hanyalah sebagai fasilitator
saja. Metode ini sudah banyak dikembangan di negara-negara maju, yang mana di
dalam kelas siswa lah yang menjadi aktor utamanya bukan lah guru. Jika dahulu,
guru lebih sering menggunakan metode ceramah yang kelihatannya monoton dan
membosankan namun berbeda dengan sekarang.
Pergantian
kurikulum membuat guru kebingungan dan cukup merepotkan karena guru harus dapat
menyesuaikan pembelajaran dengan kurikulum yang baru serta mempelajari cara penilaian dalam kurikulum
yang baru. Untuk kurikulum 2013 saja, belum semua sekolah di Indonesia
menerapkan Kurikulum 2013, banyak sekolah yang belum siap dengan pergantian
kurikulum tersebut. Padahal jika dilihat dari tahunnya, Kurtilas sudah berusia
kurang lebih 4 tahun, namun kurikulum tersebut belum dapat menjangkau seluruh
daerah di Indonesia. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah hal itu akan
menghambat perkembangan pendidikan di Indonesia? Apakah pergantian kurikulum
yang menjadi biang keladi dalam mandetnya pendidikan di negeri ini?
Jika akan
mengadakan pergantian kurikulum, seharusnya pemerintah sudah memikirkan dengan
matang-matang tentang rencana dari kurikulum tersebut. Sudah 4 tahun usia
Kurtilas namun masih ada saja sekolah yang menggunakan KTSP 2016 di daerah di
Indnesia. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah pemerintah tidak siap? Siapa
yang harus disalahkan dalam hal ini? Disaat negara lain, sudah matang dengan
dunia pendidikannya tetapi negara ini masih berkutat dengan permasalahan
kurikulum yang belum selesai.
Komentar
Posting Komentar