Budaya Menyontek
Bagi
para pelajar kata atau ucapan “DILARANG MENYONTEK” sepertinya sudah biasa kita lihat
pada lembar soal atau kita dengar yang datang dari mulut pengawas. Menurut KBBI,
kata menyontek berasal dari kata sontek yang berarti 1) sontek: mencungkil;
menggocoh. 2) sontekan: hasil menyontek. Dalam pernyataan di atas, terdapat
kata ‘menggocoh [KAMUS GLOBAL]’ yang mana menurut KBBI kata tesebut memiliki
arti 1) kegopohan, 2) buru-buru, tergesa-gesa.
Mungkin tidak sedikit pelajar yang pernah menyontek,
bahkan saya sebagai penulis artikel ini juga pernah melakukan hal tersebut. Berdasarkan
pengalaman yang pernah saya lakukan dan saya lihat bahwa menyontek itu memang dilakukan
dengan tergesa-gesa. Kenapa tergesa-gesa? Orang yang menyontek tergesa-gesa
melihat jawaban atau meminta jawaban agar tidak ketahuan oleh pengawas.
Ada banyak sekali cara menyontek yang dilakukan oleh para
pelajar, diantaranya adalah meminta jawaban kepada teman yang dianggap lebih
pintar, bertukar lembar jawaban, menyelipkan catatan kecil atau kunci jawaban
dan masih banyak lagi. Entah kenapa, saya menganggap bahwa orang melakukan hal
tersebut adalah orang yang banyak akal. Ya, mereka sangat memperhitungkan untuk
merancang rencana atau strategi agar tidak kepergok pengawas. Cara-cara yang
saya sebutkan adalah cara paling sederhana yang dilakukan saat menyontek. Berbeda
halnya dengan apa yang dilakukan oleh pelajar di China atau bahkan negara yang
lainnya, mereka membuat alat-alat canggih hanya untuk menyontek saat ulangan. Sangat
pintar, bukan? Bukan hanya pelajar saja yang pintar menyontek namun guru juga
memiliki cara unik agar siswanya tidak menyontek, contohnya saja yang dilakukan
oleh seorang dosen di Thailand ia mengakali hal tersebut dengan menggunakan
penutup kertas yang sudah didesign agar siswa tidak bisa melihat ke kanan dan
kiri.
Menyontek sepertinya adalah hal yang sudah tertanam dan
menjadi kebiasaan bagi sebagian pelajar. Menurut saya, melihat hasil pekerjaan
orang lain juga bisa disebut menyontek walaupun kondisinya tidak sedang
tergesa-gesa. Dari apa yang pernah saya lihat, peringatan ataupun
ancaman-ancaman dari pengawas bukanlah sesuatu hal yang menakutkan bagi pelajar
yang menyontek. Ancaman itu hanya dianggap sebagai omong kosong dan peraturan
dibuat untuk dilanggar.
Sebagai penulis artikel ini, saya tidaklah luput dari sontek-menyontek.
Saya mengangkat judul dan membahas hal ini sebagai wujud dari keprihatinan saya
sebagai pelajar/mahasiswi dan calon guru (karena saya kuliah di jurusan PGSD). Melihat
banyaknya teman-teman saya yang masih melakukan hal tersebut tentu sangat
disayangkan. Setidaknya, mereka menyempatkan untuk belajar meskipun SKS (sistem
kebut semalam) hal ini lebih baik daripada menyontek. Bagi saya sendiri, meskipun
ada beberapa pelajaran yang tidak terlalu saya kuasai namun saya sudah belajar sebelumnya
(meskipun kadang SKS) dan saya mengerjakan ulangan tersebut sesuai dengan
kemampuan saya. Bagaimana pun hasilnya lebih baik bekerja sendiri daripada harus
menyontek.
Bagi saya, kegiatan sontek-menyontek ini bukanlah
sepenuhnya kesalahan siswa. Banyaknya siswa yang menyontek pada satu mata
pelajaran lebih baik dijadikan bahan introspeksi diri bagi guru untuk
memperbaiki kinerjanya saat menyampaikan materi. Jika guru sudah merasa cukup
baik dalam menyampaikan materi barulah disini kita mempertanyakan siswa yang
menyontek.
Menyontek sepertinya sudah membudaya dikalangan para
pelajar dan sulit dihilangkan, sudah dari Sekolah Dasar kita diajarkan oleh
guru bahwa menyontek itu tidak baik. Disinilah guru berperan untuk memberantas
kegiatan tidak baik ini. Selain itu, diperlukan juga kesadaran para pelajar bahwa
menyontek itu tidak dibenarkan dalam hal apapun. Jika pelajar dan guru mampu bekerja sama dengan baik maka menyontek akan dapat dihilangkan meskipun butuh waktu yang cukup lama.
Komentar
Posting Komentar